Sadar Pimpinan Tuhan (1 Korintus 16:5-9)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 21 October 2016 - 15:56 | View : 673
pimpinan.jpg

TEKS (1 Korintus 16:5-9)

I.    PENGANTAR [INTRODUKSI]

Setiap hal dilakukan bukan ala kadarnya, atau sambil lali dilakukan, tapi punya maksud, punya makna yang mendasar.  Itu salah satu ciri khas dari Rasul Paulus yang bisa ditilik dari surat-suratnya kepada banyak jemaat Tuhan yang dilayani. Bahkan ketika berkeinginan mampir ke suatu tempat, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan yang hendak dituju, itu pun memiliki maksud dan tujuan yang penting. "


II.    PENGAMATAN [OBSERVASI]

1.    Apa Rencana Paulus  sesudah  melintasi  di Makedonia? (16:5). 
______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________
2.    Berapa Lama Waktunya?  (16:6-7) 
______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________
3.    Maksud dan Tujuan Paulus dalam Rencananya itu? (16:6-7) ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________
4.    Dimana Paulus tinggal sebelum menjalankan rencanya? Sampai Kapan? (16:8)
______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________
5.    Mengapa Paulus tetap tingggal di tempat itu? Apa alasannya? (16:8-9)
______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________


III.    PENDALAMAN [INTERPRETASI]


1.    Paulus tidak sekadar berencana, tapi memiliki tujuan yang lebih mendasar, temukan itu  (16:6-7; 16:9) ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________
2.    Di setiap perencanaan Paulus mengerti benar skala prioritas, apakah itu? Apa alat ukur Paulus dalam menentukan (16:8-9) ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________
3.    Merencanakan suatu tindakan tertentu kadangkala “menjebak” diri dalam ketidakenakan/ketidaknikmatan. (16:8-9) bandingkan jika Paulus tetap tinggal di Makedonia atau tempat lain. 
______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________


IV.    PENERAPAN [APLIKASI]

1.    Bagaimana kita membuat sebuah perencanaan 
______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________

2.    Apa dasar skalaprioritas anda dalam berencana?
______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________

3.    Sudahkah kita membuat perencanaan yang benar dan disarkan pada skala yang benar pula?
______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________


V.    PERENUNGAN [REFLEKSI]
______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________

 

 

ARTIKEL

          Setiap hal dilakukan bukan ala kadarnya, atau sambil lali dilakukan, tapi punya maksud, punya makna yang mendasar.  Itu salah satu ciri khas dari Rasul Paulus yang bisa ditilik dari surat-suratnya kepada banyak jemaat Tuhan yang dilayani. Bahkan ketika berkeinginan mampir ke suatu tempat, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan yang hendak dituju, itu pun memiliki maksud dan tujuan yang penting.  Bukan sekadar mampir lalu berharap mendapat sesuatu:perbekalan dan lain sebagainya.  Tapi ada suatu hal penting yang hendak disampaikan, yang ingin ditinggalkan sebagai “warisan”. Peninggalan yang berdampak pada kekekalan, bukan warisan yang segera habis. 

          Hal demikian juga nampak dalam pemberitahuan Paulus di penghujung suratnya kepada jemaat Korintus.   Dia tidak sekadar ingin datang (16:5) atau hanya mau mampir dan berharap pertolongan/bantuan suplai kebutuhan ketika dia tinggal atau melanjutkan perjalanan menginjil (16:6).  Tapi ada tujuan yang lebih mendasar, lebih dari sekadar kebutuhan-kebutuhan tersebut. Karena itu Paulus tidak mau hanya mau mampir sepintas lalu saja, tapi berharap dapat tinggal lebih lama  (16:7).  Dengan tinggal bersama lebih lama maka Paulus dapat kembali menegaskan prinsip-prinsip Kristen yang mulai luntur di jemaat Korintus.  Dia juga dapat menjawab ulang pertanyaan-pertanyaan dengan lebih mendetail lagi.  Meskipun di suratnya ini dia telah panjang lebar menjawab setiap pertanyaan dan menyikapi persoalan-persoalan di jemaat Krintus.  Namun, bukan tidak mungkin ada pertanyaan-pertanyaan yang masih mengganjal tentang kekristenan yang dibandingkan dengan iman/tradisi lain.  Mengingat, jemaat Korintus adalah jemaat yang heterogen.  Dan hal itu dapat dimungkinkan jika Paulus tinggal lebih lama di sana.  Meskipun pada akhirnya dia harus menunda kunjungannya ke Korintus karena “ketidakkuasaan” Paulus mendisiplinkan mereka yang tersesat.  Sebab umat Tuhan di Korintus notabene adalah anak-anak rohaninya sendiri. Hal ini dilakukan semata karena kasihnya kepada mereka (23), maka ia menghindari kunjungan yang akan memaksanya menyatakan disiplin keras ketika dia berkunjung ke sana. 

          Ada hal yang tak kalah menarik disampaikan Paulus dalam pemberitahuannya itu.  Bahwa dia akan tinggal lebih lama di Efesus, tempat dia menulis suratnya ini,  sampai hari raya Pentakosta (16:8).  Dan lagi-lagi hasrat untuk tinggal atau untuk pergi dari satu kota ke kota lain bukan didasarkan atas keinginan diri semata.  Tapi alasan yang bersifat lebih mendasar.  Dalih Paulus untuk tetap tinggal di Efesus adalah: di sini ada banyak kesempatan bagi untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang (16:9).

Ada prinsip penting nan menarik di sampaikan Paulus, terkhusus di ayat yang ke 9 ini.  Jika dipaksa tarik kepada kecenderungan pilihan orang masa kini,  maka pilihan Paulus untuk tinggal di Efesus bukanlah pilihan yang populer.  Betapa tidak, sudah tahu ada tantangan.  Sudah tahu ada orang yang tidak senang, bahkan menentang apa yang dia sampaikan, tapi tetap saja ngotot, teguh pendirian untuk tinggal.  Pilihan tidak populis seperti ini tentu akan sangat menyusahkan Paulus. 

          Menariknya, Paulus tidak mementingkan kenyamanan diri sendiri dengan memilih untuk segera lari dari Efesus lalu melanjutkan perjalanan ke Makedonia dan Korintus. Padahal jika segera pergi ke Makedonia maka tantangan yang dihadapi akan jauh lebih sedikit, bahkan cenderung lebih mudah.  Sebab jemaat makedonia, seperti Paulus saksikan, meski mengalami penderitaan, namun mereka tetap bersukacita (2 Korintus 8:2).  Meskipun mereka miskin, tapi senang memberi, kaya dalam kemurahan.  Mereka turut ambil bagian untuk memberi, bahkan melebihi kemampuan mereka (2 Korintus 8:3).  Berbeda sama sekali jika dia tetap berada di Efesus.  Di sini bahkan dia harus berhadapan dengan sebagian besar penduduk Efesus, Pemuja Arthemis, yang dimotori oleh Demitrius yang merasa pengidupan mereka membuat patung diobok-obok oleh Paulus.  Sebab Paulus dituduh telah membujuk dan menyesatkan banyak orang dengan mengatakan, bahwa apa yang dibuat oleh tangan manusia bukanlah dewa (Kis 19:6). 

          Di sini juga tersirat betapa Paulus mahfum benar pada pimpinan Tuhan.  Paulus mengerti benar, ketika Tuhan masih berkenan menahan dia di suatu tempat, ada karya agung Allah yang ingin didemonstrasikan, dan memiliki dampak besar. Ada target-target besar yang hendak dijangkau, dibandingkan harus lekas-lekas ke Makedonia atau Korintus.  Di Efesus, Lukas mencatata dalam bukunya, selama kurun waktu 2 tahun setiap hari Paulus dapat memberi ceramah di ruang kuliah Tiranus (Kis 19:9-10). Kegiatan pengajaran ini dicatat Lukas, memiliki jangkauan dan dampak yang luas terhadap pewartaan Firman Tuhan, yakni:semua penduduk Asia, baik orang Yahudi maupun orang Yunani (19:10).   Tidak itu saja, di situ juga dicatat betapa Allah juga berkarya luas melalui Paulus dengan mujizat-mujizat yang luar biasa (Kis 19:11). Bahkan sapu tangan Paulus pun diperkenan Allah dipakai sebagai saranan orang untuk mengusir setan. Slawi

See also

jQuery Slider

Comments

Top