Artikel Teologi

SELAMAT TAHUN BARU

Author : Pdt. Bigman Sirait | Wed, 12 March 2014 - 16:05 | visits : 781
Tags : Artikel Artikel Tahun Baru Tahun Baru

Follow Twitter: @bigmansirait

Entah berapa kali kata ini terucap dari mulut kita, dan tak kurang pula yang singgah ditelinga kita. Tak terbilang jumlahnya. Ironisnya, sangking seringnya kata ini terucap, malah jadi kehilangan makna. Paling tidak, ini menjadi ucapan latah yang terus terucap, dan mungkin kita juga terlibat didalamnya. Secara iman kristiani istilah tahun baru tak memiliki makna khusus. Ini adalah ucapan menjelang akhi tahun lama dan memasuki tahun yang baru. Seluruh umat manusia dimuka bumi menikmati dan mengisi moment ini dengan bebagai cara.

Bagi umat Kristen hal ini menjadi agak ekstra penting karena kedekatannya dengan hari Natal yang jatuh pada tanggal 25 Desember, atau 6 hari sebelum tutup tahun. Sehingga dilingkungan gereja kesemarakan tutup tahun lebih terasa acaranya. Suasana celeberation kental disana. Lalu bagaimana sesungguh kita sebagai umat kristiani memaknai tahun baru ini. Pertama tentu saja dalam sikap rasa syukur yang mendalam karena Tuhan sudah memelihara kita sepanjang tahun yang sudah berlalu. Dalam perjalanan hidup, dimana ada suka duka yang terjadi, namun kita bisa melewatinya. Itu adalah pemeliharaan Tuhan yang sempurna, sehingga kedukaanpun dibuat Nya menjadi sangat berguna bagi diri. Tak ada yang salah dalam kedukaan, yang salah adalah sikap kita terhadap kedukaan yang merupakan ekspresi pengenalan iman kita akan Tuhan.

Ucapan syukur dalam segala hal adalah karateristik kehidupan umat kristiani (I Tesalonika 5:16). Ini merupakan sikap iman yang benar. Karena itu pula, sudah seharusnya umat kristiani menyikapi bahwa tidak ada tahun yang baik atau buruk, yang ada ialah kebergantungan kepada Tuhan dalam konteks beriman, baik atau buruk. Dalam kesetiaan kita mengikut Tuhan, semua hari, minggu, dan tahun, berjalan sama baiknya, karena pemelihara kita yang sama, yaitu Tuhan sang pengasih. Jadi masuki tahun yang baru bukan dengan berharap lebih baik dari tahun sebelumnya, melainkan bersikaplah yang benar yaitu dengan berkata pada diri, harus hidup beriman lebih baik dari sebelumnya. Tahun baru bukan soal kualitas waktunya, tapi soal kualitas hidup kita. Disisi lain Alkitab juga mengingatkan, bahwa waktu-waktu yang berjalan adalah jahat (Efesus 5:15-17). Ini menarik untuk disimak. Waktu yang jahat, merupakan gambaran yang sangat teologis. Ya, waktu itu disebut jahat karena merupakan tenggang waktu anatar kedatang Yesus Kristus yang pertama (sudah), dan kedua (akan). Diantara tenggang waktu itu Alkitab memberikan gambaran bahwa setan akan berusaha sebagai usaha terakhirnya untuk menyesatkan lebih banyak lagi orang. Setan akan berusaha sekuat-kuatnya. Nah, bukankah ini akan menjadi waktu waktu yang jahat, bahkan sangat jahat. Jadi, ditengah perjalan waktu seperti ini, maka orang percaya perlu sadar diri, tahu diri, dan jaga diri, agar tidak terperangkap oleh tipu muslihat setan.

Bukankah sebuah realita yang dengan mudah kita lihat, betapa banyaknya orang yang gagal untuk hidup benar. Mereka terjebak pada gaya hidup yang salah, kadang menyadari bahkan menyesali, namun ironisnya mereka tak pernah bisa menyelamatkan diri. Oleh karena itu, sudah semestinya orang percaya bersikap bijak, dalam menjalani waktu, sehingga tak menjadi salah. Bukankah banyak orang justru membuat dosa baru ditengah hiruk pikuknya acara malam tahun baru? Awas dan waspadalah, agar kita tepat mengayunkan langkah sehingga mengukir karya ditahun yang baru. Semakin lebih baik lagi dalam hidup mengiring Tuhan. Akhirnya selamat tahun baru, selamat berkarya, semoga kita dalam kasih karunia Tuhan menutup tahun 2009 dengan kesadaran diri yang tinggi dan disertai rasa syukur yang mendalam. Lalu memasuki tahun 2010 dalam iman percaya kepada Tuhan yang menyertai tiap langkah dan hidup sesuai kehendak Nya.

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top