Artikel Teologi

HARGA JUAL YESUS

Author : Pdt. Bigman Sirait | Wed, 12 March 2014 - 14:46 | visits : 1768
Tags : Artikel Jumat Agung

Follow Twitter @bigmansirait

AH, judul ini mungkin terasa sangat mengganggu. Apakah Yesus itu barang, sehingga ada harga jualnya? Atau, kalaupun ada, apakah itu manusiawi, karena manusia sangat berharga, dan tak mungkin ada harga yang bisa dicantumkan pada dirinya. Apalagi berbicara tentang Yesus, Allah yang menjadi manusia (Filipi 2: 5-6), wow, mana bisa! Seharusnya memang tidak bisa, namun kenyataannya memang pahit, Yesus  terjual. Bahkan terjual dengan harga yang sangat murah. Kenyataan pahit ini tak bermula dari penjahat kelas berat, atau penjudi ulung, atau, artis kebelet duit. Pahit, karena justru bermula dari orang dalam yang termasuk murid, yang memiliki posisi strategis sebagai bendahara. Sang murid bernama Yudas Iskariot, satu dari antara dua belas rasul yang kemudian sangat terkenal sebagai pengkhianat (Markus 3:19).

Nama Yudas sama terkenalnya dengan Petrus dan Yohanes, hanya saja dalam konteks dan kualitas yang sangat berbeda. Yudas Iskariot (Ibrani; Isyqeriyot yang artinya orang Keriot), berasal dari Keriot. Kurang jelas, apakah Keriot tempat asal Yudas adalah Keriot yang di Moab, atau yang di selatan Hebron (dalam Alkitab banyak kota, orang, yang bernama sama). Yudas Iskariot bukan penulis kitab Yudas, hanya namanya saja yang sama.

Nah, kembali kepada Yudas, murid, rasul, bendahara, yang juga pengkhianat. Yudas juga piawai bersilat lidah, satu sisi sepertinya dia peduli dan membela orang miskin, padahal di sisi lain keuntungan dirilah yang dipikirkannya (Yohanes 12:1-8). Ya, Yudas memang “berbakat” sebagai pengkhianat. Entah sudah berapa banyak pelajaran tentang kebenaran yang dia dapat dari Yesus, tapi tak pernah bertumbuh apalagi berbuah.Dalam perumpamaan tentang penabur, Yudas bagaikan benih yang jatuh di tengah semak duri (Matius 13: 22). Episode demi episode mukjizat hebat, disaksikannya, tapi benih kebenaran tak pernah tumbuh dan berbuah dalam hatinya. Hati nurani dibunuhnya, uang menjadi tuannya, maka Yudas telah memilih jalan hidupnya. Yesus dijual seharga 30 keping perak, harga seorang budak (Keluaran 21: 32). Sangat ironis, Yesus, Allah yang menjadi manusia, raja yang menjadi hamba, penebus dosa manusia, sang juru selamat terjual dengan harga yang amat sangat murah.

Namun , di sisi lain, kerelaan Yesus menjadi hamba justru tergenapi dalam pengkhianatan ini. Uang telah membuat Yudas gelap mata. Soal mamon ini tak hanya mewarnai kehidupan duniawi saja, namun juga merata keberbagai sudut kehidupan. Dunia rohani bahkan sering kali lebih duniawi dari dunia itu sendiri. Manusia beragama model Yudas tak pernah habis dari panggung kehidupan. Selalu saja ada generasi pengganti. Sementara pelayan sejati sering kali seperti kehilangan garis. Kegairahan terhadap daya tarik mamon semakin hari semakin menggila. Hal ini tepat seperti lukisan Paulus dalam II Timotius 3: 2, di akhir jaman manusia akan menjadi hamba uang. Manusia kehilangan kendali menjadi tuan atas uang.

Kisah Yudas, mengingatkan kita dengan terang-benderang, bahwa jabatan kerohanian tak serta-merta membuat seseorang imun terhadap godaan uang. Yudas adalah seorang rasul, lebih dari seorang pendeta secara jabatan. Kedekataannya dengan Yesus dalam aktivitas sehari-hari tak bisa dipungkiri, namun tak menjamin kualitas pelayanan. Yudas merasa perlu dan berhak mendapatkan tiga puluh keping perak, sekalipun untuk itu Yesus harus dijual. Sementara Yesus, “rela terjual murah”, asal keselamatan terwujud menjadi kenyatan dalam kehidupan umat. Yudas “beringas” demi uang: “beringas” menjual Yesus, “beringas” dalam baju suci kerasulan. Dan yang tak kalah mengerikan, dia juga “beringas” dalam kemunafikan kepedulian pada kaum papa. Yudas telah mengerahkan seluruh kemampuannya memainkan seluruh jurus pengkhianatan berbaju kerohanian.

Dalam konteks kekinian, ternyata tak kurang panjang barisan pengikut Yudas, sama panjang dengan barisan penjual Yesus. Kini, tak sedikit orang yang sangat bernafsu menabikan atau merasulkan diri, atas nama ketetapan Tuhan. Tak pula kurang orang berjual-beli kebenaran, yang menjual Yesus dengan memutarbalikkan kebenaran. Kebenaran dibuat berpusat pada diri dan menguntungkan diri. Khotbah disampaikan untuk menyenangkan telinga umat, khususnya kamu berduit, untuk memancing duit mereka. “Hamba Tuhan” bajunya, hatinya hamba uang. Istilah “salesman Injil” semakin hari semakin terkenal, seturut terkuaknya gaya hidup banyak “pendeta besar” yang tak kalah dengan selebritis kelas atas.

Banyak orang telah mengambil keuntungan besar dengan mengobral Yesus. Celakanya, semua berjalan tepat waktu, karena market juga dipenuhi manusia bermental hati ahli Taurat. Yang mau tampak benar di arena keseharian, tampak rohani, bersih dan berbudi, sekalipun mereka benci terhadap kejujuran dan kesucian. Karena itu “obral kebenaran” mereka serbu. Mereka suka mengonsumsi produk obral ini, mereka tampak rohani tanpa harus sungguh-sungguh rohani. Cukup dengan kata-kata amin, sedikit kegiatan, dan besarnya sumbangan semua menjadi benar dan “dipakai Tuhan” sesuai label yang diberikan para “hamba Tuhan”. Semakin tinggi bayaran, semakin rohani si pemberi dalam khotbah “hamba Tuhan”. Transaksi jual-beli terus meninggi, limpahan materi mengalir deras ke pundi-pundi “hamba Tuhan”. Gaya hidup supermewah mewarnai sepak terjang mereka atas nama berkat Ilahi, padahal hasil menjual kebenaran.

Yesus dijual dengan mengobral berkat besar, dan menutupi penyangkalan diri apalagi memikul salib sesuai perintah Yesus sendiri. Ya, Yesus dijual dengan mengorupsi, memanipulasi kebenaran, bahkan membangun kebenaran baru atas nama wahyu baru. Maka klaim diri semakin meninggi, dan ini akan diikuti dengan “harga jual” yang juga semakin tinggi. Lagi-lagi Yesus terjual murah. Dan, lagi-lagi yang salah tampaknya benar secara suara, mereka tampaknya mayoritas, sama persis seperti Yesus tersalib. Yesus tampak minoritas, para ahli Taurat-lah yang mayoritas. Dan ini didukung pada kebiasaan kita tentang suara terbayak sebagai yang benar dan menentukan. Menyakitkan, tapi itulah kenyataan. Dosa akan pesta pora, sukses menggaet banyak pengikut, hingga kedatangan Yesus yang kedua kali.

Akankah pencinta kebenaran sejati akan bertahan di tengah polusi jual-beli Yesus? Sebuah pertanyaan yang harus dijawab dengan hidup menjalani kebenaran tanpa kompromi. Berani miskin tanpa harus memiskinkan diri, sebaliknya juga berani kaya tanpa harus memperkaya diri, melainkan berkarya penuh dengan pasrah penuh pada berkat Ilahi. Biarlah aku menerima bagianku yang Tuhanku, bukan apa yang aku mau (Amsal 30: 7-9). Apakah “jual beli Yesus” akan berhenti? Sekali lagi tidak, dan tidak akan! Transaksi akan terus berlangsung, yang penting Anda tak terlibat di sana. Atau, jika sudah terjebak ada di dalam, segera keluar memisahkan diri, jika tak ingin hangus diri. Dijual : Yesus! Tapi, semoga Anda dan saya bukan penjual ataupun pembelinya.

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top