1 Korintus

Konsekuensi Jika Tak Percaya Kebangkitan ( 1Korintus 15:12-18)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 21 October 2016 - 15:30 | visits : 789

Perikop ini adalah bagian dari benang merah surat Korintus tentang pertanyaan-pertanyaan jemaat yang dijawab oleh Paulus.  Dimulai dari 1Korintus 15:1 sampai dengan ayat 58 ini Paulus menjawab Pertanyaan mengenai Kebangkitan, setelah sebelumnya banyak menjawab pertanyaan seputar isu-isu lain yang beraneka ragam. Besar kemungkinan ajaran tentang kebangkitan orang mati kurang dipercaya oleh jemaat di Korintus (15:12).  Penyebabnya, selain pengaruh dari golongan Saduki, dari dalam Yahudi sendiri.  Penyebab lainnya adalah pengaruh dari filsafat Yunani yang berkembang ketika itu.  Orang Yunani, khususnya golongan Stoa percaya bahwa tubuh itu adalah dosa.  Tubuh adalah penjara bagi jiwa.  Maka, kematian tubuh adalah kemerdekaan jiwa.  Bagi golongan ini Allah sejati adalah nyala api roh yang dipandang lebih murni dari apapun yang ada di bumi.  Sementara roh manusia adalah percikan dari api ilahi itu. Jika manusia mati, maka tubuh atau jasadnya akan kembali kepada unsur-unsur pembentuknya.  Sementara percikan roh akan kembali kepada nyala api besar, nyala api ilahi.  Inilah kekekalan dalam konsep filsafat Yunani, disyaratkan ada pemusnahan materi (tubuh).  Karena itu, kebangkitan tubuh adalah kemustahilan bagi orang Yunani.  Dan ajaran seperti inilah yang kemudian mempengaruhi jemaat Tuhan di Korintus.

Menjawab pertanyaan kebangkitan, seperti sudah dijelaskan pada artikel sebelumnya, Paulus mengingatkan kembali jemaat Korintus pada pengajaran penting yang pernah Paulus ajarkan.  Yaitu tentang Injil yang sejati.  Bahwa pribadi yang diwartakan dalam Injil sejati itu adalah pribadi yang tidak saja rela menjadi manusia, rela mati disalib, tapi juga bangkit pada hari ketiga. Jika orang hanya percaya pada pribadi Yesus, Allah yang merendahkan diriNya, kenosis menjadi manusia, yang rela mati di kayu salib demi menebus dosa-dosa manusia saja, maka itu bukanlah Injil yang benar.  Sebab, dengan begitu orang menyembunyikan kebenaran yang justru penting, yakni soal kebangkitan orang mati, kebangkitan Kristus dari kematian. 

Persoalan kebangkitan orang mati adalah persoalan pelik.  Persoalan yang tidak dapat dianggap remeh.  Sebab konsekuensi logisnya amatlah berat.  Menyentuh unsur-unsur penting dalam digmatika Kristiani.  Jika orang tidak percaya dengan kebangkitan orang mati, maka, konsekuensi logisnya adalah:

1.Tidak ada kebangkitan sama sekali, (13,16)

Jika orang Korintus tidak percaya kebangkitan orang mati, maka sesungguhnya mereka telah meletakkan Kristus pada posisi terkalahkan oleh maut dan tidak dapat berbuat apa-apa lagi.  Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, dengan demikian Kristus pun tidak dibangkitkan. Pernyataan ini diulang Paulus sebanyak dua kali, di ayat 13 dan 16.  Menyiratkan tentang sesuatu yang sangat penting, sesuatu yang ingin Paulus tekankan.

2.Khotbah/pengajaran Paulus dan para Rasul sia- sia,(14-15)

Jika orang Korintus tidak percaya dengan ajaran kebangkitan orang mati, maka secara tidak langsung telah membuat Paulus dan para rasul lain tak lebih dari sekumpulan para pembual saja. Mengajarkan sesuatu yang tidak ada maknanya. Juga sekaligus memosisikan mereka sebagai kumpulan pengajar/saksi palsu, yang berdusta terhadap Allah (15).

3.Iman orang Korintus sia-sia dan tak berharga, (14 & 17)

Dengan demikian iman orang Korintus yang bersumber dari pengajaran Paulus dan para rasul juga sia-sia dan tidak bernilai sama sekali. 

4.Tetap hidup dalam dosa (17)

Konsekuensi logis mendasar yang perlu jemaat Korintus mengerti, menurut Paulus, adalah fakta dosa yang tak terbantahkan dan akan tetap tinggal dalam diri jemaat, jika Kristus tidak bangkit dari kematian.

5.Meninggal akan terhilang (18)

Jika terus dirunut, konsekuensi-konsekuensi logis jika orang tidak percaya pada kebangkitan orang mati, maka orang yang kelak mati dalam Kristus akan sama saja nasibnya.  Dia akan binasa (yun: apollumi) yang artinya terhilang atau hancur juga.

6.Manusia yang paling malang, (19)

Jika benar demikian, maka tak ada kata yang tepat disandangkan untuk orang seperti itu, selain kata malang.  Betapa tidak, hanya orang malang yang mau menerima ajaran yang sesungguhnya sia-sia saja.

Jemaat Korintus yang mudah terpengaruh (dipengruhi) dengan ajaran-ajaran baru yang mungkin lebih terlihat bergengsi di jamannya (dimasanya) membuat mereka lebih mudah menyangsikan imannya dari pada memegang teguh.  Ini boleh jadi adalah gambaran kita di masa kini yang begitu bergairah dan berhasrat pada hal-hal yang baru, meskipun sebenarnya tak lebih dari resicle ajaran lama, lantas bersedia menggeser ajaran ortodoksi kristiani.  Bahkan mengganti sama sekali ajaran tradisional Kristen, tanpa sedikitpun berkenan melakukan otokritik.  Setidaknya menilik apakah ajaran itu berdampak pada dogma puncak atau tidak.  Apa yang dilakukan Paulus terhadap jemaat Korintus adalah sesuatu yang menarik.  Menyuguhkan sebuah konseskuensi logis tentang kebahayaan dogmatis jika orang tidak percaya kebangkitan orang mati.  Slawi

 

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top