Mata Hati

Janda Miskin Sang Kepala

Author : Pdt. Bigman Sirait | Tue, 30 April 2013 - 09:36 | visits : 1636
Tags : Spiritual Kristen

Pdt. Bigman Sirait

Janda miskin di dalam Alkitab masuk dalam kategori orang yang harus diperhatikan dan diurus oleh gereja. Dari PL hingga PB, dan tradisi gereja masa kini,  Alkitab mengatur persyaratan usia dan perilaku sebagai umat Tuhan. Apakah karena mereka miskin ekonomi, mereka adalah ekor? Sebuah pertanyaan yang menggelitik mengingat konsep penganut teologi kepala bukan ekor. Dalam paham mereka, kepala berarti kaya, bukan miskin.  Juga sehat bukan sakit. Dan, sudah pasti menang di kompetisi dunia, terdepan bukan belakang dalam nilai kuantitatif. Misalnya pejabat tinggi, orang berkuasa, atau yang memiliki net working yang luas. Dari perspektif ini, maka jelas sekali janda miskin adalah ekor. Padahal Alkitab mengatur pemeliharaan atas janda, jelas bukan ekor.
Dari perspektif Alkitab, dengan segera, paham seperti ini akan membingungkan. Berlawanan sekali dengan prinsip Alkitab. Mengapa? Jelas, kitab Ulangan 28 mengatakan, kamu akan jadi kepala bukan ekor, menunjuk kepada ketaatan kepada Allah, dan jaminan pemeliharaan. Jelas pula, kepala tak menunjuk pada status kaya. Dan, sekalipun janda itu kaya, jangan lupa dia tetap saja janda, tanpa suami. Artinya, janda kaya pun ekor dan bukan kepala. Karena, jika ukurannya kuantitatif, maka seharusnya dia adalah nyonya kaya, bukan sekedar janda kaya.
Dan, juga, kepala menurut Alkitab adalah ketaatan umat yang berujung pada pemeliharaan Allah. Hebatnya, janda miskin di Sarfat, dalam kisah Raja-raja, dipelihara Allah melalui pelayanan nabi terkenal, Elia. Dia benar-benar seorang janda yang amat sangat miskin, karena persediaan makanannya cukup hanya untuk dia berdua dengan anaknya. Dan, lebih parah lagi, hanya untuk waktu itu saja. Itu sebab ketika nabi Elia meminta makanannya, itu sama saja kematian bagi mereka. Tapi janda yang sangat miskin itu, mendapat pelayanan yang diwarnai mujizat makanan yang tak kunjung habis. Juga kehidupan bagi putrinya yang sakit dan kemudian mati. Wow, luar biasa pemeliharaan Allah atas janda dan anaknya yang di Sarfat. Jika dia janda yang sangat miskin, adalah ekor, mengapa Allah begitu memperhatikan dan memeliharanya. Tidak tanggung-tanggung, melalui nabi yang terkenal di jamannya, yang dipakai Tuhan secara luar biasa di Israel. Maka, amat sangat jelas, janda yang amat sangat miskin itu, adalah kepala, itu sebab Allah menepati  janjiNya, dengan memelihara hidupnya.
Dalam kisah janda di Sarfat, ada yang berkata, janda itu sesungguhnya ekor, karena dia janda dan miskin. Tapi karena beriman sungguh, mentaati apa yang dikatakan Elia, dia dijadikan kepala. Tampaknya semakin panjang orang berbicara dengan imajinasi sendiri, seperti yang juga selalu diperingatkan Alkitab, umat  harus selalu berhati-hati terhadap orang seperti ini. Mereka lupa, Allah memelihara janda itu, menjadikannya kepala, jauh sebelum dia mentaati apa yang dikatakan Elia.  Allah mengirim Elia memelihara kehidupan janda yang sangat miskin itu. Dan,bahkan jauh sebelum janda itu sendiri menyadarinya. Karena janda yang sangat miskin itu hidup benar, dan Allah menepati janji-Nya. Masak iya, janda itu bertindak mendahului Allah. Tapi itulah pikiran duniawi yang dijadikan dasar berpikir menjelaskan Alkitab, sehingga menjadi kacau balau. Respon manusia menjadi kunci tindakan Allah. Allah dibuat jadi kerdil, dan manusia menjadi besar, karena itu manusia bisa menggerakkan Allah.
Di sisi lain ada pula yang berkata, andai saja janda itu punya iman lebih kuat, dan memberi lebih banyak tepung dan minyaknya, pasti dia akan menerima lebih banyak lagi. Tampaknya, semakin banyak orang yang punya keberanian besar untuk bicara, tapi tidak untuk belajar. Jelas sekali dikatakan Alkitab, bahwa apa yang diberikan kepada nabi Elia, tinggal itu yang dimilikinya. Bagaimana mungkin janda yang amat sangat miskin itu bisa memberi lebih. Jelas sekali, tujuan khotbah seperti ini hanya untuk memotivasi pendengar agar memberi materi lebih banyak lagi, supaya dapatnya juga lebih banyak lagi. Sangat kacau, diajar berhitung dengan Allah sumber berkat sejati. Adalah fakta tak terbantah, semua milik kita, harta dan hidup ini, adalah pemberian Allah. Bagaimana bisa, memberi bagian kecil dari harta dan hidup, sudah mau meminta kembali yang lebih banyak lagi. Sungguh tidak tahu diri, tidak tahu bersyukur. Ingatlah apa yang dikatakan rasul Paulus: Bagiku hidup adalah Kristus (pengabdian bukan materi), dan mati adalah keuntungan. Ingat bagaimana Elisa yang menyembuhkan Naaman dari kusta, menolak pemberiaan Naaman yang amat sangat banyak. Semoga kita punya rasa malu berhitung dengan Allah, kecuali kita, memang bukan umat yang sesungguhnya.
Melompat ke PB, kita pun tersentak dengan kisah janda miskin lainnya di Injil Markus. Adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri yang memuji sang janda miskin, karena memberikan yang terbaik yang dimilikinya sebagai persembahannya. Dan persembahannya itu benar di mata Tuhan, karena dia tak berhitung urusun besaran, 10%,  50%, atau bahkan lebih. Apalagi meminta kembali, 30x, 60x, atau 100x, lipat. Janda miskin yang dipuji langsung oleh Tuhan Yesus Krsitus itu tetap hidup miskin sepanjang hayatnya. Dia miskin materi, tapi sangat kaya rohani. Dia janda miskin yang mengajar setiap orang percaya, di sepanjang masa, agar memberi dengan tidak berhitung. Dia telah menjadi model bagi gereja, yang kini coba dirusak oleh sekelompok orang yang berorientasi pada materi.
Maria, ibu biologis Yesus Kristus, juga tetap miskin ketika ditinggal mati oleh Yesus Kristus di atas kayu salib. Maria yang sepanjang hidupnya diabdikan dalam pelayanan Yesus Kristus. Maria yang menderita secara jasmani dalam kelahiran dan kematian Yesus Kristus. Maria yang disebut wanita paling berbahagia di kolong langit ini. Maria yang telah menjadi janda sebelum kematian Yesus Kristus. Maria tak menjadi kaya raya, sekalipun dia ibu Yesus, dan sepanjang hidup hingga mati Yesus Kristus, selalu ada bersama Yesus. Hebatnya, Maria tak pernah meminta kekayaan, karena dia memang seorang beriman yang sejati. Kaya bukan dosa, tetapi miskin juga bukan aib. Beriman tak sama dengan kaya atau sehat, melainkan hidup yang benar. Dan, Maria wanita paling berbahagia adalah teladannya. Yesus Kristus yang bisa membuat Maria sekejab menjadi kaya raya, ternyata tak melakukannya. Bahkan sebaliknya, Yesus Kristus meminta Yohanes murid Nya untuk juga mengurus  Maria ibu-Nya. Ah, demostrasi cinta kasih yang besar, membuat orang percaya menjadi keluarga besar, bukan harta besar.
Janda amat sangat miskin di Sarfat dalam kisah PL, juga janda miskin di PB, dan Maria yang juga janda dan miskin, ternyata mereka tak mejadi ekor dalam kejandaannya, juga tidak menjadi ekor karena kemiskinannya. Sebaliknya, mereka adalah kepala yang anggun dan agung, yang dibela dan dipelihara oleh Allah Sang Pencipta. Allah menjadikan mereka kepala dalam sepanjang sejarah hidup manusia. Nama mereka tercatat di dalam Alkitab dan Kitab Kekekalan. Karya mereka tak terbantah, berbanding terbalik dengan mereka yang selalu getol berbicara kepala sama dengan kaya, penuh skandal keuangan. Media umum pun sudah menjadikannya konsumsi berita. Ah, betullah kata Yesus Kristus: Kamu tak mungkin mengabdi kepada dua tuan, pilihlah kepada siapa engkau akan mengabdi, Tuhan atau mamon. Kepala, jelas bukan soal kaya atau bukan janda.
 Izebel, permaisuri raja Ahab, tidak janda, dan tidak miskin. Dia wanita kaya raya, yang memelihara 400 nabi untuk bernubuat bagi kerajaannya, adalah ekor  tulen. Kematian tragisnya dinubuatkan oleh nabi sejati Elia. Nah, hati-hati, suara nabi mana yang Anda dengar. Setelah tak lagi ada nabi (era PL), rasul (era PB), maka di era kini, suara pengkhotbah mana yang Anda dengar. Ingat, jadilah kepala bukan ekor, kualitas bukan kuantitas. Bukan hanya menjadi umat pengekor, tapi juga kepala yang mengawasi dan berani mengoreksi. Selamat hidup benar dengan menjadi kepala yang benar.    

See also

Comments


Group

Top