1 Korintus

Sopan Dan Teratur Dalam Ibadah (1 Korintus 14:26-40)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 21 October 2016 - 15:22 | visits : 1157

Dinamika hidup orang Korintus memang menarik untuk diamati. Jatuh bangun, naik turunnya, pergerakannya, dengan segala macam rupa fenomena yang muncul dan berkembang. Tidak hanya kehidupan sosial Korintus yang penuh dengan dinamika konflik dan persaingan.  Tapi juga dinamika religiositas, dinamika ritual ibadah mereka yang juga menarik untuk ditilik.  Dinamisnya mereka beribadah ditandai dengan keributan “rebutan” bersuara, berlomba untuk berbicara. Masalah ketidakteraturan dalam beribadah nampak terang tersirat dari isi surat Paulus, yang sulit memungkiri keberadaannya.  Masalah yang sepertinya sepele, tapi sangat mengganggu suasana khusyuk beribadah kepada Allah. Karena memang terlalu banyak orang ingin bicara. Sehingga, entah disadari atau tidak mereka justru saling mengganggu satu sama lain.

Karena itulah dalam bagian Korintus 14 ini Paulus menyoroti pentingnya keteraturan dalam beribadah.  Setelah sebelumnya mengulas banyak tentang karunia-karunia yang jumlahnya tidak sedikit, sekarang Paulus menyandarkan“perahu” pengajaran karunia dalam suatu “dermaga”, berupa usulan tindakan praktis tentang keteraturan beribadah.  Keteraturan yang disarankan Paulus meliputi beberapa hal:

1.            Keteraturan Demonstrasi Karunia.

Orang Korintus memang kaya akan pelbagai karunia. Di awal perikop ini Paulus menyarankan agar orang Korintus dapat berkontribusi dengan kekayaannya itu. Entah itu mazmur, pengajaran,  penyataan Allah, karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh (14:26).  Silakan semua itu dipergunakan sebagai sarana berkontribusi, dan bentuk persembahan kepada Allah.  Namun demikian Paulus mewanti-wanti benar, agar orang Korintus menaati prinsip penting ketika mereka mendemonstrasikan kekayaan karunia yang di miliki, yaitu: dipergunakan dalam rangka membangun jemaat (14:26). Jangan hanya mengumbar karunia, atau sekadar demonstrasi pamer belaka.  Kepada mereka yang memperoleh karunia berkata-kata dengan bahasa roh, sebaiknya dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang saja yang menggunakannya.  Dan harus bergiliran, seorang demi seorang, dan terlebih penting harus pula ada yang menafsirkan (14:27).  Jika tidak, maka, kata Paulus, percuma saja orang berbahasa roh dalam suatau jemaat, karena toh jemaat lain tidak mengerti dan tidak diberkati karenanya.  Lebih baik berdiam diri saja (14:28), berbahasa roh dalam batin, kepada diri dan Allah saja.  Di sini begitu jelas, bahwa kata kunci dalam sebuah keteraturan ibadah, yang pertama adalah Pengendalian Diri.  Demonstrasi karunia hanya dapat dikendalikan oleh si “empunya” Karunia, orang yang dipercayakan Allah dengan bermacam karunia. 

2.            Soal Nabi dan Pernyataanya

Menarik, fenomena nabi dengan segala manifestasi pernyataan-pernyataan kenabian terdemonstrasi di jemaat Korintus.  Menyikapi hal ini Paulus menganjurkan, agar jemaat Korintus berhati-hati dengan setiap pernyataan-pernyataan yang diklaim sebagai kehendak Allah yang terdemonstrasi dari karunia ucapan.  Tidak jarang demonstrasi kenabian dengan pernyataannya yang sensasional justru tidak berasal dari Allah.  Oleh karena itu Paulus mengajak orang Korintus agar berhati-hati.  Jika ada orang demikian dalam suatu ibadah, maka perlu ada konfirmasi sekaligus evaluasi dari orang lain yang memperoleh karunia (14:29-30).  Hal ini perlu benar diwasapadai, sebab bukan tidak mungkin yang sedang berbicara adalah nabi Palsu (band. Yohanes 4:1).  Sebab, kata Paulus, karunia nabi takluk kepada nabi-nabi (14:32), sebuah ungkapan tentang pentingnya pengujian setiap karunia rohani.  Tentang hal ini Dr. Bob Utley, komentator kitab suci menyebutkan: 1. Mereka yang memberitakan berita Tuhan harus tunduk kepada orang lain yang memberitakan pesan Allah (nabi memeriksa nabi, ay 29). 2. Orang yang memberitakan pesan Tuhan memiliki kontrol pribadi atas kapan dan apa yang harus dikatakan (lih. ay 30).

3.            Sikap Perempuan Dalam Jemaat

Kondisi jemaat Korintus ketika beribadah tersirat digambarkan sungguh teramat kacau.  Sudah penuh dengah gangguan dari banyak demonstran karunia, mulai dari penyanyi, orang yang berbahasa lidah, para penafsir bahasa lidah, dan para nabi dengan segala pernyataan dan nubuatan. Sekarang masih ditambah lagi kekacauan dari ulah para istri yang sekadar ingin tahu tentang sesuatu, yang sebenarnya tidak penting-penting amat.  Seolah-olah sedang memamerkan kebebasan yang mereka miliki.  Kepada para istri, Paulus sekali lagi menyarankan agar seyogyanya dapat menahan diri dengan berdiam diri (14:34).  Jika diantara para istri berhasrat ingin mengetahui sesuatu, maka tanyakanlah hal itu kepada suaminya di rumah (14:35).  Dengan bersikap demikian maka niscaya keteraturan dalam beribadah dapat terwujud.  Dan tentu saja demi efektivitas ibadah bersama. 

Mengakhiri pembahasan soal karunia, kepada jemaat di Korintus Paulus mengingatkan agar mereka jangan melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh.  Namun demikian lebih baik lagi jika mereka mengusahakan diri untuk memperoleh karunia bernubuat (pengajaran, dan mewartakan firman).  Lebih lanjut, dengan tegas Paulus menyatakan, agar hal itu berlangsung dengan sopan dan teratur (14:40). Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top