Mata Hati

Natal Minus Tiga

Author : Pdt. Bigman Sirait | Thu, 3 January 2013 - 16:03 | visits : 1011
Tags : Artikel Natal

Pdt. Bigman Sirait

Natal kembali lagi. Itulah tema rutin Desemberan. Berbagai kegiatan gerejawi maupun mall  meninggi. Di selah semua kesibukan itu, mari kita menepi sejenak. Duduk merenungkan kedalaman makna Natal yang sesungguhnya. Natal minus tiga. Istilah apa ini? Itu pasti muncul di benak kita. Maklum, Natal rasanya jauh dari warna minus, bahkan sebaliknya, Natal selalu bernuansa plus-plus. Inilah pentingnya kita menepi, meninggalkan sejenak semua kegiatan yang menyita energi. Berkontemplasi menggali kesejatian Natal itu.
Rasul Paulus, memberi catatan yang amat penting tentang Natal. Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Rasul Paulus berkata:  Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan. Melainkan mengosongkan diri Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib! (Filipi 2:6-9).
Natal jelas merupakan jalan melawan arah, bahkan berlangsung ekstrim. Di saat semangat manusia untuk naik tinggi, bahkan usaha mengkudeta surga sangat terasa, Natal justru berlawan arah. Adam, nenek moyang manusia, tak rela berada di bawah bayang-bayang Allah. Fakta bahwa Allah adalah pencipta tak digubris. Bisikan setan, menjadi alasan pembenaran untuk mengkudeta surga. Kerjasama gila manusia dan setan, berakhir dalam tragedi ironi. Bukan menjadi sama dengan Allah, manusia justru terlempar dari singgasana kehormatannya. Ah, ironi Taman Eden.
Sangat berbeda dengan kota kecil Betlehem. Di tengah asyiknya manusia dengan sejuta mimpi, Yesus Anak Allah, Mesias yang dijanjikan, datang menggenapinya. Menyapa umat, namun apa yang didapat? Bukannya sambutan, malah sebaliknya penolakan. Betlehem memang kota kecil, tapi nyali penghuninya sangat besar, mereka tegas menolak bayi suci Natal. Sebaliknya, Yesus Anak Allah, Sang Besar, datang dari surga agung mulia, merendahkan diri dan memilih Betlehem kecil di bumi, untuk tempatnya singgah. Ah, miris sekali, manusia sungguh tak mengenal diri, Natal telah menelanjangi kemunafikannya. Manusia hidup beragama, tapi sarat dengan cela dan dosa. Menyebut nama Allah, namun tak pernah mengenal-Nya.
Natal minus  tiga, nyata di sana.  Minus pertama, Allah menjadi manusia, ketika manusia justru ingin menjadi  sama dengan Allah.  Itulah Natal sejati. Sebaliknya, Natal kini tak mencerminkan semangat minus ini. Natal kini sangat plus, berorientasi pada gairah diri, menjadi besar dalam berbagai aspek kehidupan. Kecintaan pada kekuasaan sangat menggila. Semua berlomba untuk menjadi penguasa yang tak terbatas. Tak peduli pada etika, semua ditabrak disana. Menjadi penguasa di dunia adalah refleksi gairah menjadi sama dengan Allah. Tak ada yang salah dengan gairah maju, tapi menjadi penguasa dengan menghalalkan segala cara, melindas  sesama, sangat tidak manusiawi. Tapi kekuasaan telah membuat manusia menjadi gila. Itu sebab, ketika seseorang menjadi umat Kristen, tak serta merta rela melepas kekuasaan. Bahkan dengan berbagai dalih rohani, coba terus mempertahankannya.  Hanya pertobatan sejati yang memungkinkannya.
Natal minus dua, mewarnai pilihan tak lazim. Ketika Allah menjadi manusia, Dia tak memilih terlahir sebagai raja, dan bukan pula di istana, atau bahkan sekedar rumah mewah. Dia memilih menjadi hamba, bahkan memulainya dari kelahiran di kehinaan. Ah Natal, sangat menusuk hati. Sungguh sulit untuk dipahami, mengapa Yesus terlahir sebagai hamba. Kehinaan yang menjadi pilihan Natal, sangat tak disukai manusia. Karna itu, tak heran jika kemewahan yang sangat berlebihan mewarnai Natal. Dan, celakanya, di kemewahan tak sedikitpun terlintas wajah-wajah pedih yang berjuang untuk sesuap nasi. Mereka tak ada dalam daftar untuk menerima hadiah Natal. Hadiah Natal bergulir dari dan di antara umat saja. Semua berlomba menjadi mulia. Tak disapa, atau tak didengar pendapatnya, kemarahan cepat tiba, dan tuan mulia bisa bereaksi yang tak terduga. Yang coba berbasa-basi merendahkan diri, ternyata juga tinggi hati, terbukti dengan tak rela menghargai yang lainnya. Hanya ingin benar sendiri. Ah Natal, betapa jauhnya engkau.
Natal minus tiga, adalah ujung perjalanan Yesus Kristus. Memilih mati tersalib, menjadi terkutuk, sungguh tak terbayangkan. Dari surga ke bumi, dan dari Betlehem ke Golgota, tak satupun titik pilihan menyenangkan selepas surga mulia. Tapi itulah perjalanan Natal. Pasti kita tak ingin bukan? Tidak ada kesediaan untuk berkorban agar yang lain tertolong. Kalaupun ada pertolongan, itu tak berarti kita harus jadi korban. Pertolongan seringkali bernuansa sisa yang tersedia. Natal, berbeda, karena memberikan yang terbaik, itu sangat luar biasa.
 Itulah Natal dalam warna pengorbanannya. Perjalanan panjang Yesus Kristus dimulai dari Natal, bergerak dari minus satu, ke minus dua, dan berakhir di minus tiga. Perjalanan yang tidak kita rindukan, dan tentu saja tak rela ada disana. Namun demi basa-basi ritual keagamaan, Natal tetap ada. Tapi, ah, sangat berbeda. Semua berpusat pada diri, semua sangat berkelas, tak sempat untuk berbagi dengan rekan-rekan marjinal.
Natal minus tiga, mengajarkan banyak hal kepada umat, sekaligus memberi tolok ukur, untuk menguji diri. Apakah kita masih mencintai Natal itu dalam arti yang sejati? Natal yang bukan hanya bulan Desember, tapi semangat yang mewarnai diri setiap hari. Ini menuntut karya nyata di keseharian umat. Ketika kami menetapkan diri untuk melayani Tuhan, dengan membangun sekolah unggulan di pedesaan, demi masa depan anak-anak desa, semakin hari semakin terasa betapa tak mudahnya. Terikat oleh perjalanan sekolah, semakin dekat dengan berbagai masalah (teknis dan materi), maka semakin sadarlah diri, betapa tak sederhananya melayani. Namun kita tak berhak lari. Banyak orang yang menjadi pengamat,  sekalipun tak cermat, dan tak jelas kompetensinya, selalu saja mengumbar berbagai penilaian. Sayangnya, panjang kata yang diucapkan, namun tak terlihat apa yang dilakukan.  Menjiwai Natal sejati memang tak mudah, tapi itu adalah panggilan surgawi yang harus dipenuhi. Mari terus setia melayani dengan menyangkal diri.
Natal, jangan lagi sekedar momentum tanggal, tapi jeritan hati, di setiap hari, untuk berani berbagi dengan sesama di sekitar diri. Biarlah hadiah Natal sampai pada yang berhak. Ingatlah apa yang dikatakan Tuhan Yesus dalm injil Matius: Engkau memberi Aku makan ketika lapar, minum ketika haus, dan pakaian ketika telanjang. Bilakah ya Yesus Tuhanku? Ketika engkau memberikannya pada orang miskin, orang yang terpinggirkan, yang remuk redam hatinya. Betapa sederhananya menghidupi Natal sejati. Lakukan, dan jangan terlalu banyak bicara. Tapi juga jangan membesarkan diri, dengan menghabiskan biaya tinggi, namun hanya sedikit yang dibagi. Kita harus jujur menjalani Natal sejati, agar dimampukan menjalani jalan minus  tiga. Selamat merenungkan, dan selamat ber-Natal minus tiga, jika memang Anda sudah mengerti. Semoga!       
 
 
 

See also

Comments


Group

Top