Mata Hati

Dari Perbudakan Ke Kerajaan

Author : Pdt. Bigman Sirait | Fri, 30 November 2012 - 12:49 | visits : 1105
Tags : Artikel Kepemimpinan Leadership

Pdt. Bigman Sirait

Budak adalah strata terendah dalam kehidupan sosial manusia. Bukan hanya dalam hal pekerjaan tapi juga harkat diri. Seorang budak tidak lagi berhak, bahkan atas dirinya. Dia telah mati selagi hidup. Bukan hanya raga, juga nyawa, milik tuannya. Budak kebanyakan berasal dari tawanan perang. Atau mereka yang hidup terlalu miskin, sehingga menjual diri, atau malah dijual keluarga. Ironi budak, gambaran gelapnya masa depan. Tak seorangpun ingin menjadi bagian dari perbudakan.
Yusuf anak Yakub, yang selalu dibalut jubah indah. Adalah anak kesayangan yang selalu menimbulkan keirian bagi semua saudara seayah beda ibu. Semakin mendalam jika mengingat mimpi besarnya. Mimpi tentang betapa Yusuf menjadi pusat penghormatan, saudara-saudaranya, bahkan ayah dan ibunya pun memberi hormat kepada Yusuf. Sebuah mimpi perjalanan hidupnya.
Disebuah kesempatan untuk membantu saudaranya yang sedang bekerja, Yusuf justru diperdaya. Nyaris dihabisi saudara sendiri. Niatan kemudian berubah karena usul Ruben dan Yehuda. Namun lepas dari pembunuhan, bukan berarti Yusuf pulang kerumah, melainkan dijual sebagai budak kepada saudagar Midian. Awal kegelapan hidup Yusuf, berbeda dengan mimpinya. Yusuf bukannya dihormati, sebaliknya, dipecundangi luarbiasa. Yusuf telah menjelma menjadi budak yang diperjualbelikan. Dia menjadi ekor, yang tergantung keputusan majikan sebagai pemilik hidupnya.
Yusuf bukan kepala, tapi ekor. Dimana realisasi mimpi Allah yang dinyatakan kepadanya? Sebuah pertanyaan yang pasti menghujam tajam kelubuk hati Yusuf. Dari saudagar Midian, Yusuf berpindah tangan ke Potifar, seorang petinggi istana Mesir, kepala pengawal raja. Namun, sekalipun Yusuf bekerja di rumah petinggi istana, tetap saja Yusuf adalah seorang budak yang rendah. Tak ada kebanggaan yang tersisa, itulah Yusuf, ekor yang tak berdaya. Dia tak boleh berkeinginan, apapun yang dilakukannya haruslah keinginan majikannya. Gelapnya masa depan Yusuf.
Seiring berjalannya waktu, Yusuf yang menjadi ekor karena kejahatan saudaranya, mulai menunjukkan kualitas sebagai kepala. Bekerja dengan prima, Yusuf merebut hati tuannya, yang memberi dia kepercayaan penuh atas rumahnya. Kepercayaan Potifar atas Yusuf berbuah berkat Tuhan atas rumah itu. Potifar tak salah memilih Yusuf menjadi andalannya. Yusuf tak hanya mengekor, tapi berkarya nyata, sehingga mendapat kehormatan menjadi kepala atas rumah Potifar. Ah, Yusuf ternyata memang punya kelas. Bukan hanya sekedar pemimpi siang bolong, yang suka berkajang mimpi, namun tanpa karya yang pasti. Perjalanan hidup Yusuf pasang surut, tapi sikapnya menghadapi semua telah menujukkan kelasnya.
Sebuah peristiwa tak biasa mewarnai karier Yusuf dirumah Potifar. Wajah rupawan Yusuf ternyata menarik minat istri Potifar. Tak dinyana, istri Potifar tergila-gila kepada Yusuf. Coba merayu dengan segala cara, hingga tindakan menggila dengan memaksa Yusuf untuk memenuhi birahinya. Yusuf, lagi-lagi menunjukkan kelasnya sebagai kepala. Tak rela menghianati kepercayaan tuannya, dia menolak keras. Sementara istri Potifar yang tertolak, berbalik dari birahi menjadi marah karena merasa direndahkan dengan diabaikan. Tak mampu menutup rasa terhinanya, fitnahpun dijalankan. Yusuf terpojok, rekayasa istri Potifar sukses, dan menghantar Yusuf kebalik jeruji besi. Namun disisi lain, Yusuf sukses mendemonstrasikan kelasnya sebagai kepala. Tak menghianati kepercayaan, juga tak meladeni fitnah. Bahkan dia tak merengek agar dibebaskan dari tuduhan. Dia jalani semuanya sebagai konsekwensi kebudakannya. Yusuf memang berstatus budah, tapi berjiwa pemimpin. Dia tampak bagaikan ekor, tapi bermental kepala.
Penjara ternyata tak juga mampu mengubah seorang Yusuf. Dia tak jadi kriminal, bahkan tetap berkarya dan menarik minat kepala penjara. Yusuf menjadi kesayangan, dan orang kepercayaan. Kualitas kepala memang luar biasa. Tak peduli berada dimana tetap menunjukkan kelasnya. Apa yang membuat seorang Yusuf tak kecewa, dan berbalik dari Tuhan? Bukankah mimpi kini tinggal mimpi? Realitanya jauh dari apa yang digambarkan Tuhan. Tapi Yusuf bukan sekedar pemimpi, dalam arti kata sesungguhnya, melainkan seorang yang mampu melihat jauh kedepan. Yusuf seorang yang visioner. Realita kekinian tak menghalanginya untuk melihat pimpinan Tuhan atas perjalanan kehidupannya. Yusuf tetap percaya, dan tak pernah beranjak dari pengharapan kepada Tuhan. Visioner yang luar biasa, dengan iman yang nyata.
Menjalani hari-hari dengan karya tinggi, membawa Yusuf berkenalan dengan orang kepercayaan raja. Menafsirkan mimpi mereka yang ternyata menjadi kenyataan, dalam dua situasi yang bertolak belakang. Satu selamat, yang lain mati. Yusuf memang kepala, disetiap tempat terus berkarya. Tak peduli beresiko tinggi, dia tetap mengabdi kepada Tuhan. Dia tak terpengaruh situasi, melainkan mempengaruhinya. Lihatlah Yusuf, inilah kepala yang bukan ekor. Yang menatap jauh kedepan, seorang visioner yang mutlak bergantung kepada pimpinan Tuhan.
Visionernya Yusuf menjadi semakin kental ketika dia menjejakkan kaki di istana Firaun. Yusuf menjelma menjadi orang kedua di Mesir, hanya setelah raja. Budak yang dijual saudara sendiri, narapidana buah fitnah, kini jadi pusat perhatian dan hormat semua bangsa. Namun Yusuf tak lupa panggilannya. Dia menatap jauh kedepan, terus belajar memahami apa yang jadi kehendak Tuhan. Sukses diraih, pengabdiannya semakin nyata, itulah kepala. Ekor berbeda, ketika sukses didapat, segera membuat dia lupa diri. Bertumpu pada materi bukan pengabdian diri. Yusuf, tidak! Dia berjalan melawan arus, disukses yang meninggi, hati semakinmerendah. Mawas diri, Yusuf terjaga.
Ketika situasi kekeringan berkepanjangan, membuat saudara-saudaranya mencari gandum ke Mesir. Tak dinyana mereka berhadapan dengan Yusuf sang pengelola Mesir. Ketakutan, itu yang menguasai mereka. Mengingat perbuatan tercela diwaktu lampau. Dan itulah tabiat manusia. Berbeda dengan Yusuf, dia tak merasa diatas sehingga bebas membalas. Yusuf sadar betul untuk apa dia berada di Mesir dengan jabatan tingginya. Mental kepala, itulah Yusuf. Kalimat bijak yang sangat visioner terlontar; Bukan kamu yang menyuruh aku kesini (menjual), tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir (Kejadian 45:8). Yusuf mengerti sepenuhnya tujuan suksesnya. Sebagai kepala, Yusuf memainkan peran sesuai dengan ketetapan Tuhan. Tak lupa diri, tetap fokus pada tujuan. Tak mabuk kekuasaan, melainkan memuliakan Tuhan.
Yusuf adalah model jelas kepala yang bukan ekor. Seorang visioner yang mampu melihat pimpinan Allah dikegelapan fitnah dan penjara, namun tak silau dikeberhasilan diistana. Model kepala seperti Yusuf dibutuhkan sepanjang masa. Sayangnya, semakin hari yang terjadi justru sebaliknya, menjadi kepala hanya ada dalam kata-kata, sementara realitanya justru terbalik. Gila harta, mabuk kuasa, gerejapun berubah menjadi pusat usaha. Jabatan pemimpin, dan nuansa rohani dikumandangkan, tapi yang dipertontonkan perilaku tak terpuji. Mengikut cara dunia, tapi berbaju rohani, maka panjanglah ekor-ekor yang ada. Ya, ekor dan bukan kepala. Dengarlah berita, semakin panjang pemimpin gereja yang terlibat dalam kejahatan keuangan. Hidup keluarga pun tak jadi bukti. Situasi yang mengerikan. Umat dituntut untuk cermat, tak membabi buta mengikut ekor yang menyebut diri kepala.
Ingat, yang dibutuhkan adalah kepala dan bukan ekor. Kepala yang berarti model, modal, motor, dalam kata dan perilaku yang terpuji dan teruji. Mungkin andakah orangnya? Semoga!

See also

Comments


Group

Top