1 Korintus

Berdoa Dalam Roh Dan Akal Budi (1 Korintus 14-25)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 21 October 2016 - 15:21 | visits : 1018

Sudah teramat banyak penjelasan Paulus soal Bahasa Roh dan kegunaannya. Pada ayat sebelumnya, pun Paulus sudah mengingatkan tentang kemanfaatan bahasa roh. Baik untuk diri, tapi tidak kentara benar pengaruhnya bagi komunitas iman/jemaat.  Masih dalam pokok yang sama, Paulus kembali memaparkan kegunaan bahasa roh secara pribadi.  Bahasa Roh dapat digunakan orang ketika dia berdoa. Orang berdoa dengan rohnya sendiri, lalu mengutarakan berbagai hal yang Roh Allah ingin ungkapkan kepada dia dalam doanya. Di sini roh orang percaya berdoa, sementara Roh Kudus memberikan dorongan terkait hal apa yang harus dikatakannya (1Kor 12:7,11; Kis 2:4).  Tidak hanya bermanfaat untuk berdoa saja, bahasa roh juga dapat digunakan orang ketika dia bernyanyi, memuji, dan mengucap syukur (14:15).  Dalam tataran seperti ini, sudah teramat jelas, bukan bahasa roh tidak memiliki manfaat, karena toh itu juga merupakan karunia yang Allah berikan kepada orang, terkhusus orang di Korintus, penerima surat Paulus ini.  kepada mereka, Paulus coba tunjukkan perihal sesuatu yang lebih dari sekadar kepuasan egois diri melalui berbahasa roh.  Yaitu, “kepuasan” bersama. Kemanfaat bersama, bagi banyak orang, bukan satu orang saja. 

Paulus  mengajukan usulan kepada orang Korintus, agar tidak hanya senang berdoa dalam roh, berdoa dengan bahasa roh, tapi juga berdoa dengan menggunakan akal budiku (14:15).  Di sini Paulus tidak bermaksud untuk mengontraskan keduanya, karena toh dia menggunakan keduanya dalam doa, memuji Tuhan dan bersyukur kepada Allah.  Menggunakan akal budi yang Paulus maksudkan, adalah berdoa, memuji dan bersyukur dengan menjabarkan maksud roh, menjelentrehkan apa yang sudah Roh Kudus ungkapkan kepada dia, ke dalam bahasa yang sudah dipelajari.  Menerjemahkan maksud ilahi itu ke dalam bahasa sendiri yang dimengerti oleh komunitas iman di tempat dia berada.  Dengan demikian, bukan hanya si pemilik karunia yang terberkati atas doa, pujian dan ucapan syukurnya, tapi juga jemaat lain, ditandai dengan ucapan Amin. 

“Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan "amin " atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan?” (14:16). 

Kendatipun ucapan syukur itu diungkapkan melalui roh, dengan berbahasa roh, adalah sesuatu yang sangat baik, tetapi sesungguhnya tidak berdampak apa-apa bagi jemaat.  Orang tidak dibangun olehnya (14:17). 

Selanjutnya Paulus memberikan pembanding, antara dia dengan orang di Korintus, soal intensitas berkata-kata dalam bahasa roh, Paulus lebih daripada orang di Korintus (14:18).  Paulus jauh lebih sering berdoa dalam roh, berbahasa roh daripada orang di Korintus. Namun demikian Paulus melakukan itu bukan ketika dia sedang berada dalam jemaat, seperti halnya dilakukan orang di Korintus.  Apabila dalam jemaat, dalam persekutuan iman, Paulus menyatakan lebih senang, lebih suka mengucapkan lima kata saja, namun memiliki  arti.  Lima kata, namun dapat dimengerti. Dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh yang tidak dimengerti oleh orang (14:19). Lebih dalam lagi Paulus mengajak orang-orang di Korintus agar lebih dewasa dalam bersikap dan dalam beriman.  Memahami bahasa roh dan kegunaannya dalam keluasan berpikir layaknya orang dewasa.  Sebab, bahasa roh dalam sebuah persekutuan jemaat menjadi suatu tanda yang negatif kepada orang yang tidak percaya. Bahasa roh menunjukkan bagaimana orang yang tidak percaya terpisah dari Allah dan tidak dapat mengerti apa yang sedang terjadi (14:22).  Hal ini disampaikan dengan menyitir hukum Taurat: "Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan." (14:21).

Sama sekali berbeda dengan karunia untuk bernubuat (mengajar, berkhotbah, mewartakan firman) yang menjadi tanda orang yang beriman. Bukti bahwa Allah bekerja di dalam jemaat adalah adanya pengajaran yang baik, yang bermanfaat bagi jemaat, bukan bagi diri layaknya bahasa roh. 

Adanya nubuat  (pewartaan firman, pengajaran) juga bermanfaat ketika ada orang-orang luar, yang tidak beriman atau orang baru.  Ketika semua bernubuat, mewartakan berita yang benar, mewartakan Injil, maka orang-orang yang belum percaya akan diyakinkan, sekaligus diselidiki oleh semua (14:24).  Dengan begitu segala rahasia  yang terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku: "Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu (14:25).Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top