Mata Hati

Menjadi Kepala Dan Bukan Ekor

Author : Pdt. Bigman Sirait | Wed, 7 November 2012 - 15:50 | visits : 2092
Tags : Isu Kontemporer

Pdt. Bigman Sirait

Kata ini sangat lantang, dan seringkali menjadi ucapan pamungkas bagi banyak pengkhotbah. Umat pun sangat berkeyakinan bahwa mereka adalah kepala dan bukan ekor. Entah apa yang ada di benak umat ketika meyakini bahwa dia kepala. Era ini, memang ada banyak istilah, yang memang ada di Alkitab, digandrungi pemakaiannya. Sebagai kata, tak ada yang salah, karena memang Alkitab yang mengajarkannya. Hanya saja, sebagai makna, tentu tak dapat tunduk pada tafsir penggunanya. Makna kata harus sesuai dan terikat dengan hakekat yang dimaksud oleh Alkitab. Kamu kepala dan bukan ekor, adalah berkat yang akan diperoleh Israel sebagai upah ketaatan. Artinya, ini bukan kondisi otomatis yang mengikuti setiap umat. Sangat kondisional, tergantung pada sikap iman dan ketaatan terhadap perintah Allah.
Dilatar belakangi oleh sejarah Israel, kata ini sangat menggairahkan. Israel sebelumnya adalah budak di Mesir. Hidup dalam tekanan dan perlakuan semena-mena. Panjang penderitaan mereka di Mesir. Bukan hanya diperlakukan sebagai budak dalam bekerja, soal upahpun mereka didzolimi. Untuk makan, semakin hari mereka semakin kesulitan. Dan di saat yang bersamaan, beban kerja justru terus bertambah. Kondisi yang amat sangat menyedihkan. Apalagi jika mengingat keberadaan Israel di Mesir, yaitu karena Yusuf telah menjadi penyelamat ekonomi dan kehidupan Mesir, kerajaan, dan seluruh rakyatnya. Yusuf sangat berjasa, dan Mesir bukan saja berhutang budi, juga nyawa. Tapi sejarah bergulir, dan sifat alpa manusia mencuat, lupa asal usulnya, dan dengan mudah mengubah sejarahnya. Tampaklah pemandangan miris, Israel diperbudak Mesir dengan sangat kejam. Dan ini sangat menyakitkan.
Allah berkenan atas Israel, dan pertolongan tiba tepat pada waktunya. Allah memilih dan mengutus Musa menjadi suara dan kuasa-Nya yang tak terlawan. Musa sejatinya adalah pangeran muda kerajaan Firaun. Di masa bayinya, di situasi adanya perintah undang-undang pembunuhan terhadap bayi, Musa terselamatkan oleh pertolongan Allah, lewat strategi cerdik ibunya. Bukan hanya selamat dari pembunuhan, Musa bahkan diangkat menjadi pangeran dan tinggal di istana. Namun Musa tak terikat dengan semua nikmat istana. Musa tetap menempatkan diri sebagai Israel sejati, memperhatikan dan membela bangsanya. Ironisnya, perhatian dan kecintaan pada bangsanya justru membuat Musa menjadi buronan. Bangsanya yang ditolongnya, bahkan sampai membunuh tentara Mesir, justru berteriak karena tak rela diatur demi kebaikan diri sendiri. Panjangnya penderitaan yang dialami Israel membuat mereka terpecah, dan cenderung self-oriented, berjuang mempertahankan hidup sendiri, abai pada yang lainnya.
Musa buron, dan tinggal di sekitar padang gurun Sinai yang cukup jauh dari istana. Hidup sebagai gembala, dan menikah dengan Zipora putri Yitro seorang imam bangsa Midian. Tak kurang dari 40 tahun dia ada disana. Sama dengan jumlah tahun tinggalnya di istana yang juga sekitar 40 tahun. Dua periode hidup yang berbeda dibentang tiap 40 tahun tampaknya menjadi persiapan bagi seorang Musa. Di istana, Musa pangeran muda dengan ilmu tertinggi yang dikenal Mesir. Sementara di padang lepas, Musa hidup sebagai gembala yang sangat mengenal alam sekelilingnya. Musa akrab dengan tatakrama dan kehidupan istana dan padang lepas. Sebuah kombinasi penguasaan yang luar biasa dan terbilang langka. Perpaduan intelektual tinggi, dan mental tangguh.
Allah memanggil Musa untuk memimpin Israel keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian. Sebuah peristiwa spektakular, dengan pemimpin yang handal. Musa memenuhi berbagai persyaratan yang dibutuhkan untuk ekspedisi manusia ini. Memimpin 600 ribu laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak. Berjalan di padang gurun yang tandus. Tantangan hebat yang tak terbilang, apalagi menghitung logistik yang dibutuhkan dalam masa yang panjang. Namun perjalanan Israel menjadi saksi bahwa tak akan ada pemimpin yang mampu di ekspedisi seperti ini. Begitu juga Musa, yang harus sering berkeluh, dan terjepit di antara kehendak Allah dan kebebalan umat. Akhirnya, kemurahan Allah jua yang membuat Musa berhasil menyelesaikan ekspedisi ini. Musa berhasil menjadi kepala atas Israel di ekspedisi ini, karena ketaatan dan penaklukan dirinya kepada ketetapan Allah. Sekalipun ada kesalahan terjadi, namun keseluruhan pelayanan Musa mengagumkan.
Menjadi kepala bukan ekor, menjadi janji sekaligus masa depan Israel yang kenyang diperbudak Mesir. Seperti Musa yang nyata hadir sebagai kepala, maka tiap pribadi umat memiliki kesempatan yang sama. Namun, ini bukan posisi murahan yang bisa didapatkan kapan saja. Menjadi kepala menuntut pembayaran mahal, yaitu ketaatan umat kepada tiap ketetapan Allah. Dan sebaliknya, jika umat tak taat maka mereka akan menjadi ekor, dimanapun, bahkan di negeri sendiri. Inilah yang harus dipahami dengan jelas, sehingga tiap orang tak sembarang mengumbar ucap yang sepotong, lepas dari konteksnya. Ketaatan untuk menjadi kepala harus menjadi yang pertama dan utama, bukan soal menjadi kepala. Ini adalah janji serius dari Allah kepada umat, bukan iklan rohani yang murahan.
Menjadi kepala juga bukan soal posisi basah yang nikmat, melainkan posisi model yang terhormat. Menjadi kepala adalah menjadi model hidup, pemberi arah, sehingga umat manusia melihat dan mengikutnya. Disini soal kualitas, bukan kuantitas. Merujuk Musa, maka kepemimpinan Musa adalah model yang patut ditiru dalam keteladanan rohaninya. Musa tak memikirkan kepentingan diri, hidupnya adalah pengabdian. Setiap pemimpin agama yang melayani untuk memperkaya diri, kenikmatan sendiri, mereka bukan kepala sekalipun pemimpin. Mereka tak patut ditiru apa lagi digugu. Mereka hanya ekor yang hidup untuk diri. Kepala hidupnya mengabdi, umat bergerak kearah dia bergerak. Arahnya selalu tepat dan menolong yang mengikutinya, bukan malah menyesatkannya. Kepala tak mengajarkan hidup nikmat yang hanya berorientasi pada diri, melainkan hidup yang bertanggungjawab kepada Allah, dan berguna bagi sesama.
Menjadi kepala, layak dan sudah semestinya jadi cita-cita. Tapi ingat, perlu untuk tahu diri dan bisa menempatkan diri. Tunjukkan kualitas keimanan dan keteladanan perilaku. Menjadi kepala adalah anugerah Allah atas ketaatan umat, bukan sekedar usaha dan ambisi diri. Apakan Anda layak menjadi kepala? Sebuah tanya yang memerlukan jawaban jujur. Semoga Anda bijak menilai diri, dan menemukan jawaban benar.
Selamat menjadi kepala dan bukan ekor.

See also

Comments


Group

Top