Mata Hati

Dua Saksi Allah

Author : Pdt. Bigman Sirait | Wed, 1 August 2012 - 13:22 | visits : 2589
Tags : Teologi Biblika

Pdt. Bigman Sirait

TENTANG dua saksi yang dicatat dalam Wahyu 11, sangat menarik dikonteks akhir jaman. Ada berbagai tafsir soal ini, namun kebanyakan bersifat spekulatif. Siapa kedua saksi ini, dan untuk apa? Ini menjadi pertanyaan serius. Sebelum lanjut meneliti kedua saksi, cukuplah penting untuk memahami makna dua saksi. Dalam Sepuluh Hukum dengan jelas dikatakan bahwa setiap umat yang menjadi saksi tidak boleh menyampaikan saksi dusta (Keluaran 20:16). Saksi dusta akan dijatuhi hukuman yang setimpal. Ini mengingat peran saksi yang signifikan dalam setiap kasus yang ada. Jadi, sejak awal tentang saksi sudah jelas diatur dalam Alkitab. Betapa pentingnya saksi dalam sebuah kasus, dan kejujuran dari saksi. Dalam hal jumlah, satu saksi tidak dianggap sebagai saksi, karena sangat rentan terhadap persekongkolan. Oleh karena itu, diaturlah ketentuan jumlah saksi, yaitu, minimal dua orang (Ulangan 17:6, Bilangan 35:30, Matius 18:16). Nah, jadi sangat terang peran dua saksi, yaitu saksi yang dapat membenarkan jalannya sebuah peristiwa. Saksi akan menentukan apakah seseorang bersalah atau tidak. Karena itu sekali lagi, tidak boleh bersaksi dusta.
Dalam kitab Wahyu dua saksi ini menjadi saksi Allah tentang kebenaran akhir jaman. Hanya saja menjadi persoalan, apakah dua saksi Allah ini sudah ada, sedang, atau akan datang. Menelusuri ini menjadi menarik, namun tidak bisa semaunya. Oleh karena itu, biarlah Alkitab yang menjelaskannya. Menilik pentarikhan kitab Wahyu ditulis sekitar tahun 90, atau setelah Bait Allah dirubuhkan oleh kaisar Titus di tahun 70. Dalam ayat 1-2, Yohanes membicarakan tongkat pengukur yang biasa dipakai untuk menentukan batas. Tetapi bisa juga berarti penghukuman (bnd; 2 Raja 21:13). Pengukuran meliputi Bait Allah, dan orang yang beribadah. Bait Allah telah rata tanah oleh Titus, dan di sini Yohanes menjelaskan alasan penghancuran Bait Allah, yang adalah hukuman bagi para imam yang kehilangan pusat ibadahnya. Namun, soal Bait Allah yang sejati, dengan jelas Tuhan Yesus telah mengatakannya, dengan menunjuk diri-Nya sendiri sebagai Bait Allah yang sejati (Yohanes 2:18-21). Dihancurkannya Bait Allah oleh Titus sesuai dengan nubuatan Tuhan Yesus sendiri (Markus 13:2). Dengan begitu umat tidak lagi terikat pada Bait Allah yang gedung (ritual), melainkan kepada Yesus Kristus yang adalah Allah Bait (spiritual). Ini juga menjadi penggenapan akan nubuatan Yesus tentang Yerusalem yang akan menjadi kota sepi. Karena tidak akan ada lagi ibadah, mengingat Bait Allah yang diruntuhkan (Matius 23:37-39).
Jelas sekali, Tuhan Yesus memalingkan umat dari Bait Allah yang gedung, kepada diri-Nya sendiri. Dan, dari Yerusalem lama kepada Yerusalem yang baru, yaitu surga mulia (Wahyu 21:2). Sangat terang benderang. Yang sudah terjadi dijelaskan di sini (hancurnya Bait Allah dan sepinya Yerusalem), dan mengarah kepada yang akan terjadi (Kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang kedua, dan Yerusalem baru). Yesus Kristuslah Imam Agung kita yang kelak akan membawa kita untuk tinggal di dalam kekekalan. Sementara soal 1260 hari, sama dengan 42 bulan (bnd Wahyu 13:5), adalah sebuah rentang waktu kesulitan. Ingat 3,5 tahun tidak hujan dijaman Elia, manusia dimuka bumi mengalami kesulitan (Yakobus 5:17, bnd 3,5 masa dalam Wahyu 12:14). Semuanya adalah jumlah waktu yang sama, yang mengacu pada sebuah masa yang sulit. Kapan, tidak dijelaskan, tapi yang pasti ada masanya. Karena itu, sungguhlah tidak bijak menebak-nebak apa yang tidak dikatakan Alkitab. Karena informasi Alkitab selalu bersifat cukup. Tapi pelajaran penting, sama seperti ketika di era Elia, oleh sang nabi hamba Allah yang benar, bumi tertolong. Artinya, tak perlu ada ketakutan bagi orang percaya. Oleh pemeliharaan Allah, semua orang percaya akan tertolong. Ini adalah sebuah penghiburan, dan bukan ketakutan. Puji Tuhan!
Kesulitan yang akan terjadi itu sudah pernah terjadi, dan anak-anak Allah adalah pemenangnya. Nah, untuk kebenaran berita inilah dua saksi itu ada. Mereka disebut sebagai kedua pohon zaitun, dan kedua kaki dian. Ini mengingatkan kita kepada Zakaria 4:1-14. Zaitun, minyak, yang melambangkan Roh Kudus. Dan, kedua saksi itu akan bernubuat dengan kuasa Roh Kudus tentang Yesus Kristus, bukan tentang diri sendiri. Sementara kaki dian menunjukkan penyertaan Tuhan atas kedua saksi, yang akan bersaksi itu (bnd, Wahyu 1:12, 2:1). Dari gambaran yang dilakukan kedua saksi (ay 6), kuasa menutup langit supaya jangan turun hujan, jelas sekali kita diarahkan kepada Elia. Dan, soal kuasa mengubah air jadi darah, kita diingatkan kepada Musa di Mesir. Merekalah kedua saksi itu. Untuk apa? Itu kan sudah lalu? Soal waktu, dalam membaca kitab Wahyu, pada umumnya umat sudah berprasuposisi tentang masa yang akan datang. Padahal, dengan jelas dipasal 1-3, Wahyu berbicara tentang umat masa lalu. Perlu diingat, bahwa kitab wahyu berbicara tentang masa lalu, kini, dan akan datang. Dan ini juga menjadi semangat semua kitab suci. Musa dan Elia, ada dalam pemuliaan Yesus Kristus (Matius 17:1-13). Merekalah kedua saksi itu. Apa yang mereka lakukan di jamannya masing-masing, sangat jelas dalam konteks akhir jaman. Musa memimpin Israel keluar dari perbudakan Mesir (Keluaran). Israel memasuki tanah perjanjian, Kanaan, Yerusalem (sementara), sampai nanti tanah perjanjian kekal, Yerusalem baru (Yesus Kristus).
Berbagai tulah dinyatakan lewat Musa, menghukum Mesir yang menindas umat Allah. Musa saksi Allah, melawan kelaliman Mesir. Sementara Elia, juga jelas menjadi saksi Allah melawan 450 nabi Baal, dan membasmi mereka. Oleh kuasa Allah, api turun dari langit menyambar korban bakaran, bahkan air yang ada disekitarnya (1 Raja 18:20-40). Elia mengingatkan Israel yang tersesat agar kembali, dan Allah memberinya 7000 Israel yang sejati (1 Raj 19:18). Musa memimpin umat memasuki tanah perjanjian, dan Elia membawa umat kembali ke jalan yang benar dari penyesatan Izebel, istri Ahab, raja Israel. Begitulah Yesus Kristus, membawa umat kepada kekekalan. Musa berakhir, mati tua, mayatnya tak ditemukan. Elia berakhir, dibawa kereta kuda ke surga. Dan, Yesus Kristus disalibkan (ayat 7-8), dan bangkit pada hari yang ketiga, dan naik ke surga mulia. Ketiganya menderita dijamannya, dan jelas kembali ke surga. Dari surga, Yesus Kristus akan kembali ke dunia, yang disebut kedatangannya yang kedua. Dia datang kembali untuk setiap umat yang setia. Peristiwa pelayanan Musa dan Elia telah menjadi saksi, bahwa kedatangan Kristus adalah kemenangan besar. Jadi, kedua saksi ini mengingatkan umat, khususnya pembaca pertama yang familiar dengan PL, untuk senantiasa waspada dalam menjalani kehidupan. Selalu hidup benar, dan tak perlu gentar menghadapi bebagai ancaman yang akan datang silih berganti. Musa dalam pelayananya harus berhadapan dengan Firaun si raja lalim, lengkap dengan tentaranya yang kuat. Tapi, oleh kuasa Allah Musa memimpin Israel keluar dari Mesir. Dan dalam perjalanan di padang gurun, ganti pemberontakan Israel, namun kembali Allah menunjukkan kuasanya. Musa memimpin umat memasuki tanah perjanjian, sekalipun dia sendiri mati di gunung Nebo. Dalam pelayananya, Musa seringkali sendirian, bahkan Harun pun terlibat dalam pembuatan patung lembu emas.
Begitu juga Elia yang dalam pelayanannya harus menghadapi Izebel ratu sesat, yang mendominasi suaminya Ahab. Izebel si bengis, lengkap dengan para nabi Baal nya, juga tentara kerajaan, sementara Elia sendiri. Namun, sama seperti Musa, Elia memenangkan pertempurannya. 450 nabi Baal mati, begitu juga Ahab dan Izebel. Lalu 7000 Israel sejati didapatkan. Mereka menjadi dua saksi, betapa Yesus Kristus akan, dan sudah, memenangkan pertempurannya menghadapi Imam-iman yang korup, licik. Juga raja boneka Herodes, serta gubernur rakus dan oportunis Pilatus. Belum lagi teriakan orang banyak yang telah menerima suap. Tapi, Yesus Kristus telah menang, bangkit dari kematian, naik ke surga, dan akan datang kembali. Bukankah dua saksi ini lebih dari cukup, untuk kita percaya teguh akan kemenangan dalam kedatangan Dia yang kedua kali. Karena itu, baca kitab Wahyu, dan jangan jadi pecundang. Tapi juga jangan asal menfasir. Selamat menikmati penantian kedatangan Yesus Kristus yang menyenangkan, diselingi aneka kesulitan yang berat.

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top