1 Korintus

Nubuat Lebih Berharga Dari Bahasa Roh (1 Korintus 14:1-5)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 21 October 2016 - 15:19 | visits : 437

Karunia Roh kembali diulas Paulus.  Kali ini dia mengingatkan kembali, atau lebih tepatnya memberikan awasan kepada jemaat korintus agar sebelum mengusahakan (berhasarat/mengingini:“zeloo” yun.) karunia (14:1), hendaknya terlebih dahulu mengejar kasih terlebih dahulu.  Hal ini penting, sebab, seperti dijelaskan pada bagian sebelumnya, kasih adalah sesuatu yang melatari/mendasari.  Kasih adalah sebuah prinsip penting yang memberikan filter atau warna pada manifestasi karunia.  Sehingga bukan diri dengan keegoisan pribadi yang mengemuka, tapi keberkatan, kemanfaatan karunia bagi umat dan pelayanan kepada Allah. itu yang penting.

Dari ulasan Paulus pada perikop ini ada kesan kuat, bahwa orang di Korintus begitu menghasrati karunia rohani, khususnya karunia bahasa roh. Mengingat manifestasinya yang begitu spektakuler, tampak secara visual dan jelas terdengar umat, seolah di kening si pemilik karunia bahasa roh terdapat stempel: punya iman/spiritual level tinggi.  Karunia “tampil” seperti inilah yang diminati orang di Korintus.  Sebab, dengan memiliki karunia tersebut ada semacam kebanggaan dan gengsi tersendiri dibandingkan dengan karunia lain, apalagi karunia memberi. Dengan demikian karunia bahasa roh menjadi semacam pembeda dengan jemaat lain. Itu alasan mengapa karunia bahasa roh begitu dihasrati, bahkan rindui umat di Korintus. 

Gelagat buruk seperti ini dipahami betul oleh Paulus.  Untuk itu dia menyarankan agar orang Korintus lebih berhasrat pada karunia untuk bernubuat.  Kata nubuat di sini seyogyanya tidak dimengerti dalam konteks yang sempit seperti berlaku di era Perjanjian Lama. Di mana tugas bernubuat merupakan monopoli seorang nabi, seorang yang dikhususkan Allah untuk menjadi juru bicaraNya.  Dan nubuat diartikan sebagai sebuah tindakan untuk menyatakan lebih dahulu peristiwa-peristiwa yang akan terjadi (Kej 49:1), atau Allah yang memberitahukan/ menyatakan suatu hal penting (Yes 44:7), perintah atau  peringatan kepada umatNya. Nubuat yang dimaksudkan Paulus seyogyanya dimengerti dalam konteks fungsional.  Nubuat (propheteuo:yun), artinya adalah memberitakan kabar Allah, berkhotbah; mengucapkan kabar Allah supaya dapat dimengerti.

Ada beberapa alasan yang paulus ajukan dengan pilihannya itu.

1.            Orang yang berkata dalam bahasa roh itu sifatnya pribadi.  Komunikasi yang terjalin hanya antara si pemilik karunia dan Allah sendiri, pribadi.  Sebab tidak ada seorangpun mengerti bahasanya.  Dan hal yang diucapkan oleh Roh umumnya adalah sesuatu yang sangat rahasia dan personal (14:2).

2.            Berbeda dengan bahasa roh, nubuat adalah berkata-kata kepada manusia. Menyampaikan sesuatu dari Allah kepada manusia, kepada sesama.  Sifatnya sangat konstruktif, yakni membangun , menasihati dan menghibur. 14:3

3.            Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia hanya membangun  dirinya sendiri, membangun spiritualitas pribadi.  Sementara orang yang bernubuat,  ia membangun Jemaat. (14:4)

Dalam konteks  berjemaat, sesuai dengan maksud Allah terhadap karunia: sebagai instrument pentintg pelayanan atau sebagai saranan penunjang pelayanan, maka nubuat/berkhotbah/mewartakan kabar sukacita dari Allah jauh lebih berharga. Namun demikian Paulus sama sekali tidak alergi/menolak/membenci orang yang berbahasa roh/memiliki karunia berbahasa roh.  Ada satu hal pengecualian atau catatan yang diberikan Paulus.  Bahasa roh dapat menjadi berkat dalam jemaat ketika sang pemilik karunia menafsirkannya.  Dengan demikian Jemaat dapat mengerti “misteri” dibalik komunikasinya dengan Allah, mengerti apa yang dikatakan, dan pada akhirnya spiritualitas umat dapat terbangun (14:5). Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top