Konsultasi Theologi

Persaudaraan Islam-Kristen

Author : Pdt. Bigman Sirait | Mon, 7 May 2012 - 12:41 | visits : 3255
Bapak pengasuh yang baik, bukankah Islam-Kristen hadir dari keturunan yang sama yaitu Abraham, yang turun pada keturunan Ishak-Ismael? Keduanya diberkati Tuhan, walau memang Ishak yang terpilih mewarisi perjanjian kekal dari Allah. Apakah ini pula yang menjadikan perpecahan Islam-Kristen sampai saat ini, seperti arti nama Ismael yang diberikan Tuhan: “Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya.(Kej 16:12).” Jika benar, berarti akan terus ada perpecahan antara Islam-Kristen? Apakah ini titik masalahnya? Apakah kemungkinan menjadi satu tak akan pernah terjadi? Lalu bagaimana kita harus bersikap?

Nazir, Depok

Pertanyaan yang menarik dari saudara Nazir, patut menjadi perenungan kita bersama. Berbicara tentang asal-usul, sejatinya seluruh umat manusia berasal dari satu, yaitu Adam dan Hawa. Paling tidak ini menjadi keyakinan umat Samawi (Yahudi, Kristen, Islam). Sebelum kita membahas soal Abraham dan garis keturunannya, perlu diingat posisi umat Yahudi. Bukankah Yahudi juga termasuk didalamnya? Namun faktanya, agama Yahudi dan Kristen juga tidak sama, sekalipun Alkitab Perjanjian Lama (PL) yang digunakan sama. Umat Kristen percaya Perjanjian Baru (PB) yang tidak diterima oleh umat Yahudi.

Nah, sebuah kenyataan yang tidak terbantahkan. Ini perlu untuk mengingatkan saja, karena memang bukan topik utamanya. Kita kembali ke soal Islam-Kristen. Bahwa adalah betul, Islam berasal dari garis Ismael, sementara Kristen dari garis Ishak. Dan, betul, keduanya adalah berasal dari satu ayah, yaitu Abraham. Apakah ada kemungkinan bersatu, atau sebaliknya terus terpisah? Ini harus dimulai dari kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kej 3). Semua manusia telah berdosa, apapun agamanya, ini dikatakan oleh Paulus (Rom 3), yang juga terungkap di Mazmur 14.

Jelas semua manusia sudah berdosa pada dirinya, dan agama tidak akan pernah membenarkannya, kecuali pertobatan. Soal pertobatan, masing-masing agama memiliki terminologi tersendiri. Di sini kita tidak akan mendiskusikannya secara mendalam. Tapi yang jelas, keberdosaan inilah sumber perpecahan. Sementara agama adalah baju yang dikenakan. Karena itu, dalam setiap agama selalu ada orang jahat yang suka perpecahan. Sebaliknya, juga selalu ada orang baik yang selalu merindukan perdamaian.

Jadi penting, agar kita tidak terjebak pada isu agama belaka. Semua agama punya warna baik dan buruknya. Bagaimana memahami yang terbaik, adalah pengujian pada ajarannya. Ajaran yang benar pasti akan teruji oleh waktu, dan relevan di segala masa. Islam dan Kristen, dalam sejarahnya mempunyai kedekatan yang melekat. Mengapa ada perpecahan? Jelas sejarah mencatat, ada pertikaian hingga peperangan yang terjadi antara Islam dan Kristen, yang terkenal sebagai perang salib. Namun, tak perlu ditutupi, ini bukanlah murni soal keyakinan iman, melainkan wilayah kekuasaan. Seribu kisah bisa dibangun tentang perang ini, namun sangat pasti Yesus Kristus tak pernah mengajarkan hal ini.

Kemudian, perang antar Negara, bisa melibatkan agama yang sama. Ini terjadi pada Islam, juga Kristen. Jadi perang, perpecahan, adalah semangat manusia yang serakah. Iman yang murni mengajarkan cinta kasih, persatuan, dan saling mengampuni. Bahwa Ismael digambarkan sebagai yang melawan, tapi terhadap tangan yang melawan dia. Dia akan menantang saudaranya sebagai gambaran gairah bertempur, namun bukan tanpa sebab.

Ingat, Ismael anak Abraham, dan Abraham juga pernah bertempur dan menang. Jadi ini tidak serta merta bisa dijadikan sebuah cap. Yang pasti, semua agama dalam sejarah dunia pernah berperang, menguasai atau dikuasai. Kemenangan silih berganti, yang tetap hanyalah ambisi untuk menguasai. Oleh karena itu, memahami realita ini harus jernih. Memimpikan sebuah persatuan, bukan perpecahan, adalah keniscayaan dalam dunia yang beradab. Bersatu dalam kepelbagaian adalah semangat pluralitas yang layak dimenangkan.

Namun harus diingat, persatuan tidak sama dengan kesamaan. Artinya, sangat sulit mengharapkan bahwa semua agama akan menjadi sama dalam konten-nya. Sekalipun untuk ini sudah ada usaha yang coba dibangun dengan semangat, teologi agama-agama. Jadi, bersatu adalah bagaimana usaha untuk hidup bersama tanpa perpecahan. Toh di waktu lampau ada saat-saat indah dirasakan oleh kedua umat, duduk bersandingan antara Islam dan Kristen. Ini menyangkut kedewasaan, hingga tidak memaksakan kehendak.

Dalam hal ini radikalisme akan menjadi musuh besar. Sikap radikal yang selalu menghalalkan segala cara yang menimbulkan pertikaian serius. Jadi, pertanyaan soal apakah Islam dan Kristen bisa menyatu, atau terus terpecah, sangatlah tergantung pada sudut pandang kita. Orang yang berpandangan radikal hanya merindukan perpecahan, dan akan mengharamkan usaha persatuan. Sementara mereka yang berpandangan moderat, akan merindukan persatuan, dan membuang jauh ide perpecahan. Ini juga sangat tergantung pada situasi sosio politik sebuah bangsa.

Maka, jika pemimpin tidak tegas dan memihak, perpecahan pasti akan berkembang. Jika pemimpin tegas, dan tidak berpihak, persatuan bukanlah impian. Begitu juga pemimpin agama, dituntut berwawasan luas, tidak sempit berpikir. Akhirnya, Nazir yang dikasihi Tuhan, semua berpulang pada diri kita sendiri. Apakah kita akan menjadi pembawa damai, atau perpecahan. Sekaligus pembuktian, umat mana yang cinta perdamaian, seperti kata Yesus....kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:39). Jadi bukan soal sekedar isu agama Islam atau Kristen. Selamat merenungkan.

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top