Mata Hati

Akhir Jaman Dan Degradasi Moral

Author : Pdt. Bigman Sirait | Fri, 30 March 2012 - 15:00 | visits : 2308
Tags : Doktrin Akhir Jaman Eskatologi

Pdt. Bigman Sirait

Dengan tegas rasul Paulus mengatakan kepada Timotius murid yang dikasihinya, tentang ancaman moral diakhir jaman. Hari hari terakhir, yang sering kita sebut sebagai jaman akhir, atau akhir jaman, akan diwarnai dengan kesukaran. Masa yang sukar, bukan karena sekedar persoalan ekonomi, atau bencana alam, melainkan bencana moral yang total. Persoalan yang mengerikan, yang dengan segera menunjukkan kualitas keimanan seseorang. Tidak heran jika Tuhan Yesus menuntut setiap orang percaya agar menjadi garam dan terang dunia. Yang berarti pasti dan jelas, bahwa orang percaya akan sangat berbeda dengan orang dunia. Tapi sayang, realita kehidupan tak mencatat hal itu, bahkan sebaliknya. Tak bisa disangkal betapa banyaknya skandal moral mewarnai perjalanan gereja.

Paulus menggambarkan penyakit moral itu sebagai; cinta diri alias individualis. Lalu hamba uang, yang sering kita sebut materialistis. Ada juga pembrontak dan perusak, yang dikenal sebagai anarkis. Tidak mau mengasihi, maunya menang sendiri, kita katakan itu egois. Garang, tidak dapat mengekang diri, ini biasa disebut antagonis. Ada juga sifat suka menghianat, si oportunis. Hidup menuruti hawa nafsu, yang terkenal dengan sebutan hedonis. Dan tak ketinggalan beribadah secara lahiriah namun menghianati kesejatiannya, yakni religiositas tanpa spritualitas. Ada juga dosa seksualitas dengan memanfaatkan kelemahan kelemahan yang ada. Semua terang didalam 2 Timotius 3:1-6.

Namun yang sangat menye-dihkan, bukannya mengajarkan bahaya aktual akhir jaman ini, banyak khotbah justru membcirakan isu yang spekulatif. Isu antikris yang sporadis, bencana yang menakutkan, dan isu lain yang bersifat normatif. Yang pasti, dari kebanyakan isu yang ada bernuansa menakuti dengan kengerian fisik. Padahal didepan mata degradasi moral terus menerus terjadi. Merosot dengan sangat tajam. Entah mengapa pendengar khotbah akhir jaman juga sangat berminat pada isu isu spekulatif. Namun bisa diduga, isu spekulatif menarik minat, karena bernuansa mistis. Dan pendengar dapat memposisikan diri melawannya. Sementara soal soal moral, jelas menusuk, dan tak mengenakkan, karena kebanyakan pendengar justru terlibat didalamnya. Sungguh tak nyaman membicarakannya. Begitu pula yang terjadi dengan yang membicarakannya. Sangat menyedihkan, tapi itulah kenyataannya.

Lihatlah dunia sekitar kita, dengan mudah kita menemukan penyakit sosial yang kronis. Homokseksual yang sejatinya dosa, kini mendapatkan “kehormatannya” dari dunia modern sebagai pilihan hidup. Dan, para homo pun dengan ringan berkata, dari pada menikah pria dan wanita namun bercerai, lebih baik sejenis namun saling mencintai. Itu sebab, ketika muncul skandal pembunuhan berbasis kebencian, dalam percintaan antar homo, segera meluncur pernyataan bahwa itu bukan cara homo. Aborsi juga menjadi legal atas nama ekonomi. Dari pada tak bisa membesarkan anak, lebih baik menggugurkannya. Sebuah pikiran pendek yang sangat egois, tanpa pernah berpikir mengapa melakukannya hingga mendapatkan anak. Atas nama hak asasi, seseorang berhak menggugurkan anak. Pelaku aborsi lupa, justru mereka melanggar hak asasi anak untuk terlahir merdeka. Manusia modern yang merasa pintar, ternyata seringkali berlaku bodoh. Ya, keberdosaan membuat manusia menjadi gelap mata, sehingga tak bisa melihat kebenaran yang sesungguhnya.

Perjalanan dunia semakin berlumur dosa, tapi yang menjadi kesedihan mendalam adalah fakta terlibatnya gereja dalam jalan gelap dosa. Skandal uang cukup banyak melanda gereja. Mulai dari gaya hidup para pengkhotbah yang sangat berkelas, hingga fasilitas yang ekstra berlebih. Kepemilikan jet pribadi yang borjuis, malah dianggap sebagai simbol berkat. Sementara dalam skandal homoseksual, ada pendeta terkenal yang tergelincir. Pengkhotbah hebat yang selalu diwarnai penyembuhan Illahi ternyata, memiliki penyakit moral yang tak pernah sembuh. Penyakit fisik yang tak pernah sembuh dapat kita temukan pada diri rasul Paulus.  Ada duri yang mengikutinya hingga kematian, namun sangat jelas rasul Paulus tak memiliki penyakit moral.  Juga Lazarus orang miskin, pengemis yang berpenyakitan sekujur tubuhnya hingga akhir hayatnya. Dia mati dan masuk kesurga. Dia miskin, sakit fisiknya, tapi bersyukurlah, Lazarus tak sakit moralnya. Betapa mengerikannya mereka yang sehat, yang mengadakan banyak mujijat, namun sakit moralnya.

Bukankah fakta ini menuntut kita untuk membuka mata lebar lebar, betapa seriusnya ancaman yang menghadang gereja. Rasul Paulus telah mengingatkan bahaya degradasi moral ini. Umat perlu jeli, mengingat ada terlalu banyak bungkus yang dipakai untuk membungkus dosa moral, dan stempel atas nama Tuhan. Semua terbalut rapi, bahkan memberi daya tarik sendiri. Biarlah umat belajar bijaksana, atau tergelincir bersama. Dituntut sebuah keterbukaan didalam kehidupan kristiani. Yaitu keterbukaan untuk saling koreksi, menasehati, menegur, seperti yang diajarkan Alkitab. Tidak boleh ada satupun yang imun terhadap teguran. Terlebih lagi pemimpin, yang sudah seharusnya berani memberi teladan. Ini akan menjadi alat kontrol yang memadai untuk menolong gereja berjalan pada jalan yang benar.  Bersama dan saling mengawasi, akan membuat gereja terjaga.

Penting bagi gereja agar tak terjebak sekedar isu akhir jaman yang spekulatif. Mari pelajari yang kongkrit, yang Alkitab sudah ingatkan. Yang jika dicermati, maka dengan segera terlihat betapa dunia sedang berjalan menuju titik nadirnya. Ini tak terbantah pada fakta yang ada. Kini semakin panjang deretan gereja yang melegalisasi pernikahan homo, bahkan pengerja gerejanya. Begitu pula dengan pelecehan seksual dan perselingkuhan yang cenderung didiamkan, atau bahkan dianggap biasa. Semua harus dihadapi dengan strategi yang rapi agar iblis tak berpesta pora disana. Diperlukan kejelian dan kesungguhan umat. Mari belajar menyukai dan mencintai Alkitab menurut Alkitab, bukan sekedar Alkitab menurut pengkhotbah. Ini yang paling berbahaya. Setiap khotbah harus diuji, apakah betul Alkitab berbicara seperti itu. Setiap ayat, tidak boleh lepas dari perikopnya. Dan setiap perikop, tidak bisa lepas dari pasalnya. Dan setiap pasal, tidak boleh lepas dari kitabnya. Dan setiap kitab, harus terikat dengan kitab lainnya. Alkitab harus dipahami seperti memahami teka teki silang. Semua huruf harus benar, sehingga menjadi satu kesatuan. Satu huruf salah, maka salahlah semuanya.

Yang sangat penting menjadi perhatian umat soal menghadapi dan menjalani era jaman akhir ini adalah mengawasi diri sendiri. Baik ajaran dan perilaku moral. Ajaran harus benar, dan perilaku harus terpuji dan teruji. Jangan sampai terkontaminasi oleh nilai jaman yang bengkok ini. Jaman yang suka menyelewengkan kebenaran, dan rajin membangun pembenaran diri. Semua ukuran moral harus jelas dan tegas. Tidak boleh dibuka celah untuk kompromi dan mengurangi kebenaran. Itu adalah kejahatan. Dengan sangat mudah kita melihat degradasi moral yang terjadi disekitar kita. Yang menjadi pertanyaan; Apakah kita telah terkontaminasi? Atau, apakah gereja dimana kita ada berkompromi soal nilai nilai moral. Ini perlu disikapi dengan tegas.

Peringatan rasul Paulus tentang degradasi moral tak terbantah. Jangan bersembunyi dibalik isu lain, hanya karena hidup tidak bermoral baik. Isu jangan dialihkan, tetapi moral yang harus diperbaiki. Kita tak mungkin bisa membohongi surga. Tapi kita bisa ditolong surga untuk hidup sebagaimana mestinya. Ini moralku, katakan moralmu, dan, bersama kita saling mengawasi. Bukankah itu indah. Jadilah umat yang bersekutu bukan individualis. Belajarlah cukup seperti yang diajarkan dalam Doa Bapa kami, bukan materialistis. Hidup dalam damai, bukan anarkis. Saling memperhatikan dan saling menghargai, jangan egois. Berlaku lembut, bukan antagonis. Bisa dipercaya, bukan oportunis. Kendalikan hawa nafsu, jangan hedonis. Dan jika beribadah, beribadalah dengan segenap hati untuk menyenangkan Tuhan, jangan religiositas, hanya untuk mencari kesenangan diri.

Selamat memenangkan per-tempuran moral yang sesungguhnya, diakhir jaman yang memberikan tawaran yang menghancurkan.  

 

 

 

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top