Mata Hati

Awas Bahaya Naga!

Author : Pdt. Bigman Sirait | Tue, 28 February 2012 - 10:53 | visits : 3785
Tags : Doktrin Akhir Jaman Eskatologi Isu Kontemporer

Pdt. Bigman Sirait

Tahun ini adalah tahun “Naga Air” dalam kalender Cina. Dalam sistim penanggalan yang berbasiskan bulan ini, dikenal beberapa shio sebagai karateristik tahun. Tahun 2556, itulah tahun Cina saat ini. Sebuah tradisi penanggalan yang cukup tua. Dalam agama Islam juga ada penanggalan tersendiri, penanggalan Arab, yang membuat tanggal jatuhnya Idul Fitri bisa bergeser dari tahun ketahun. Ini berbeda dengan penaggalan Gregorian yang digunakan secara internasional. Sama seperti tahun baru Cina yang bergeser tanggalnya antara bulan Januari dan Februari. Sama seperti penanggalan Cina atau Arab, Yahudi juga punya penanggalan tersendiri, yang dalam satu tahunnya ada 13 bulan. Tanggal tahun barunya pun berbeda dengan Gregorian. Dalam penanggalan Cina juga ada bulan yang berlangsung 2 kali. Ini adalah keunikan di tiap bangsa, dan sebuah kekayaan budaya yang perlu didalami. Sementara Natal atau tahun baru internasional, tanggalnya tetap setiap tahunnya, ini berdasarkan tahun Gregorian yang hitungannya berdasarkan matahari, yang dalam satu tahunnya ada 12 bulan.
Nah, memahami penanggalan ini tentu harus mempelajari latar belakangnya, dan tak bisa diartikan begitu saja tanpa pemahaman yang cukup. Itulah kecelakaan yang terjadi ketika orang ramai-ramai yang mengisukan soal penanggalan suku Maya yang akan berakhir tahun 2012, tahun ini. Namun, tetua suku Maya dengan tegas menyatakan itu penyelewengan makna. Pasalnya, suku mereka tak mengenal konsep kiamat. Itu pekerjaan western, tegasnya. Yang membuat hal seperti ini semakin miris, adalah ketika ada orang yang menyebut dirinya Kristen, dan mendapat penglihatan, lalu memaknainya sebagai akhir jaman. Ya, penanggalan suku Maya, begitu pula dengan penanggalan Cina, di tahun ini. Ada berita yang beredar agar umat Kristen berhati-hati, karena tahun naga air diterjemahkan sebagai pertanda akhir jaman. “The Black Water Dragon” kata berita yang beredar. “Black Water” diterjemahkan sebagai jurang maut. Sementara naga, dengan mudah ditebak, selalu dihubungkan dengan setan. Kitab Wahyu 12 atau 13, yang berbicara soal naga, dengan segera dijadikan pendukung. Sebuah tafsir yang sangat sembrono dan spekulatif.
Cobalah simak soal naga yang menjadi pusat pembicaraan. Pertama, harus disadari, bahwa naga adalah sebuah legenda, dan bukan binatang yang sesungguhnya. Kisah naga bisa ditemukan di berbagai bangsa. Di Cina, naga berbentuk ular besar yang meliuk, berkaki dan bisa menyemburkan api. Dalam kisah soal naga ini, tak digambarkan sebagai penggangu, bahkan sebaliknya. Itu sebabnya gambar naga banyak dipakai pada baju, hiasan, atau lukisan, dalam berbagai pola. Barongsai juga menjadi perwujudan naga. Inilah kisah naga, lepas dari soal agama. Naga adalah cerita turun temurun, dan bukan konsep agama. Lalu di dataran Eropa, tempat dari mana agama Kristen masuk ke Indonesia, juga dikenal soal naga. Naga di Eropa bukan seperti ular, tetapi lebih menyerupai burung besar dengan kepala yang panjang, dan juga bisa menyemburkan api. Naga ini oleh orang tertentu sering disebut sebagai yang ditakdirkan, akan menjadi alat tunggangan untuk berperang dan mengalahkan musuh.
Begitu juga Afrika, mengenal naga, namun dalam bentuk berkepala singa dengan badan yang besar. Semua sama, menggambarkan binatang besar dengan kekuatan yang besar pula. Namun, tidak sebagai binatang jahat, sekalipun dia bisa jadi musuh manusia. Ini sangat bergantung pada situasi dan kondisi yang ada. Lalu, apa kata Alkitab soal naga ini? Nah, ini yang penting kita selusuri, supaya jangan berbicara naga, yang dibicarakan Alkitab, namun dengan konsep yang tidak sama dengan Alkitab.
Dalam bahasa Ibrani naga ini disebut “Tannin”, sementara dalam bahasa Yunani “Drakon”, yang kemudian dalam bahasa Inggris disebut Dragon. Kata “Tannin” ini dipakai secara bergantian dalam Perjanjian Lama (PL). Dalam Kejadian 1: 21, diterjemahkan sebagai; binatang laut yang besar. Di Keluaran 7: 9; sebagai ular, yaitu ketika tongkat Musa dilempar. Dalam Yehezkia 29: 3, kata yang sama diterjemahkan sebagai buaya yang besar. Sementara dalam Mazmur 74: 13, “Tannin” diterjemahkan sebagai ular naga. Begitu juga dalam Perjanjian Baru (PB), kata “Drakon” diterjemahkan sebagai naga, seperti dalam Wahyu 12, 13, 16 dan 20. Dari pemakaian di dalam PL atau PB, dengan segera jelaslah, bahwa kata naga menunjuk kepada binatang yang merayap dan bisa bertubuh besar. Artinya, kata naga tidak menunjuk sebuah bentuk spesifik tertentu. Dan tidak heran jika naga, dalam tradisi Cina, Eropa, dan Afrika, muncul dalam berbagai bentuk yang berbeda. Sementara sebagai simbol, ular atau naga, sering disebut sebagai iblis atau setan. Namun jangan pula lupa, bahwa tongkat Musa berubah menjadi ular, apakah itu berarti Musa bermain setan? Atau jangan-jangan dia anti-Kris? Ini bisa terjadi jika memberlakukan tafsir yang spekulatif.
Dalam Ulangan 32: 33, orang fasik digambarkan sebagai racun ular. Apakah orang fasik berbahaya karena bisa ularnya, atau perilakunya? Pasti anda tahu mana yang benar. Dan Tuhan Yesus sendiri memakai contoh ular dalam konteks yang baik, ketika Dia berkehendak agar murid-Nya cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Sudah pasti, Tuhan Yesus tak menghendaki kita sebagai murid menjadi seperti setan. Itu pasti! Tapi, lagi-lagi dengan tafsir yang sembarangan bisa jadi seperti itu. Saya yakin para penafsir masa kinilah yang tak tepat sasaran, dengan memukul rata, ular sama dengan setan. Harus ingat pemaknaannya, dan tempat pemakaiannya. Dari segi cerdik dan bahaya, ular itu tampak tak berdaya, diam, padahal sangat mematikan. Sementara dari segi besar, ia punya kekuatan yang besar pula. Jadi bukan ularnya dalam bentuk phisik, tapi maknanya dalam bentuk sifat. Wahyu 13 dengan terang benderang menjelaskan “Sang Naga” adalah manusia, yang bilangannya enam ratus enam puluh enam. Dalam tradisi Yahudi, 6 adalah angka manusia, angka kegagalan. Ini mengacu kepada penciptaan manusia pada hari keenam, sekaligus kegagalan manusia dan jatuh kedalam dosa. Penerima surat Wahyu sangat mengerti apa yang dimaksud oleh Yohanes, sayang, pembaca sekarang keblinger menafsirkannya.
Dalam wahyu 13, jelas Yohanes berkata, tak ada yang perlu ditakutkan dari penganiayaan apapun. Bahkan dengan tegas Yohanes, dalam Wahyu 14: 1 mengatakan, jika para pengikut setan itu punya tanda 666, sebaliknya, orang percaya didahi mereka tertulis nama Anak dan nama Bapa. Ah, betapa hebatnya kehidupan orang percaya, dan betapa jelasnya isi kitab Wahyu. Sementara angka 10 memiliki arti genap, besar, dan 7, memiliki arti sempurna. Nah, setan itu digambarkan sebagai hebat, besar kekuatan dan pengaruhnya, sempurna dalam kejahatannya, namun dikalahkan oleh orang percaya. Mari rajin meneliti, tak hanya rajin bicara, apalagi berkhotbah tanpa mendalaminya, dan sekedar atas nama wahyu Allah. Padahal, semua hanyalah keinginan diri sendiri. Awas! naga berbahaya, bukanlah soal tahun naga, atau gambar naga, atau lainnya. Alkitab sudah dengan amat sangat jelas berkata, musuh kita bukanlah daging dan darah, melainkan musuh di udara, setan dan anteknya. Jika orang yang menyebut diri Kristen terus menerus ribut soal naga, saya kuatir ini justru strategi setan. Sehingga, orang Kristen terjebak dalam diskusi yang salah, sementara setan dalam arti sesungguhnya tak terawasi.
Teknik pengalihan, dan para pengalihnya bisa jadi dimanfaatkan setan. Padahal, setan itulah yang harus kita hancurkan, yaitu, perilaku dosa di dalam diri, bukan jauh di luar sana. Hiduplah sebagai orang Kristen yang berbuah (Galatia 5: 22-23). Hiduplah sebagai pemenang yang berkarya, dan bukan pecundang yang hanya banyak bicara. Awas bahaya naga, bukan semburan api dari mulutnya, karena itu adalah kisah legenda, tapi kemunafikan, itu yang mengerikan. Di sisi lain, umat Kristen juga harus belajar bijak, tak mudah tersulut isu. Apalagi jika isu menjadi alat yang menyakiti sesama. Padahal, dengan jelas Tuhan Yesus mengajar kita untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.
Menjadi garam dan terang dunia jelas bukan menjadi orang yang sembarang bicara dan memalukan secara data dan fakta. Ingat, setan sudah kalah di atas kayu salib. Dan sebagai orang percaya, kita adalah pemenang. Yang perlu kita kerjakan, adalah taat pada tiap ketetapan Tuhan dan setia mengikuti-Nya. Jangan hidup dalam kepalsuan, penipuan, dan menjadi hamba uang. Pekerjaan setan yang paling mencolok justru kegilaan pada uang. Banyak pemimpin yang terus menerus memperkaya diri, namun selalu menyebut nama Tuhan. Inilah yang harus dicermati. Sementara umat cenderung menjadi pengikut pemimpin, dan bukan pengikut Kristus. Inilah bahaya akhir jaman. Jadi bukan soal naga, atau tahun naga air. Ini sangat memalukan, seakan Kristen itu tak memahami fakta sejarah. Padahal, ini pekerjaan sekelompok kecil orang saja. Mari kembali kepada perang yang sesungguhnya, yaitu memerangi dosa, ketidakadilan, dan ketidakbenaran. Selamat mengenali bahaya “naga” yang sesungguhnya.

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top