1 Korintus

Kasih Itu Kekal (1 Korintus 13:8-13)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 21 October 2016 - 15:17 | visits : 533

Karunia merupakan sesuatu yang bermanfaat.  Karena itu berbahagialah orang yang mendapatkannya.  Sebab dengan itu orang dapat meresponi panggilan dan melaksanakan pelayanannya, baik kepada allah maupun manusia dengan lebih maksimal.  Tetapi celakalah orang jika hanya berpangkal pada karunia.  Sebab karunia itu sifatnya sementara saja, dalam artian dia tidak ada selama-lamannya.  Karunia tidak kekal.  Karunia hanya berperan ketika manusia berada dalam tataran ruang dan waktu, ketika menyejarah di dunia ini. Lebih sial lagi adalah orang yang terlampau meninggikan diri, terlampau bungah dan bangga terhadap karunia yang dimiliki.  Sebab, ketika karunia itu lenyap, ketika nubuat  berakhir; bahasa roh berhenti; dan pengetahuan yang hebat itu lenyap, maka dia akan teramat kecewa (13:8). Tidak ada lagi gengsi diri. Hilang lenyap sudah pembeda atas diri dan orang. Pamornya sebagai “orang yang dipakai Tuhan” akan musnah sudah. 

Menyedihkan memang.  Tapi apa mau dikata, karunia memang tak lebih dari sarana pelengkap pelayanan sahaja.  Tak lebih dari alat yang diperkenan Allah dipakai oleh manusia demi menunjang pelayanannya.  Kelak ketika sarana/alat itu diambil, maka selayaknya orang tak bersedih, apalagi kecewa.  Ketika Tuhan berkata waktu menggunakan alat itu habis, semua hal yang sejatinya tidak sempurna itu akan ditarik kembali, dan digantikan sesuatu yang jauh lebih sempurna.  “Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.” (13:9). 

Lalu apa itu yang dimaksudkan jauh lebih sempurna, yang kekal dan tidak berkesudahan itu?  Apalagi kalau bukan kasih (13:8), sebuah prinsip/sifat yang mengarahkan sekaligus mengingatkan orang pada sifat dan karya Kristus yang besar.  Di sini Paulus menunjukkan kepada jemaat Korintus tentang aspek immortalitas dari kasih itu. Sempurna yang dimaksudkan Paulus menggunakan istilah Yunani “teleios” yang mengarakan pada sebuah kondisi yang lengkap, matang atau dewasa.  Istilah ini segera mengingatkan kita pada pernyataan Paulus akan menunjukkan kepada orang di korintus sesuatu yang lebih utama lagi. (12:31).  Sesuatu yang lebih lengkap, yang lebih matang atau dewasa, dan jauh lebih unggul. Itu adalah kasih. 

Menurut Paulus kasih jauh lebih unggul daripada karunia yang spektakuler sekalipun, dari pengetahuan orang seluas dan sepintar apapaun.  Sejatinya adalah inti dan jati diri Kristiani. Ketika kasih di dalam diri orang hilang, tak terkecuali orang yang dianugerahi karunia besar sekalipun, maka niscaya orang itu akan hancur.  Sebab yang muncul ke permukaan adalah nafsu pemuasan diri belaka.  Misalnya seperti telah disinggung pada ayat sebelumnya, ketika kasih itu tiada dalam diri orang yang memiliki karunia, maka perasan diri dengan level spiritualitas unggul saja yang mengemuka.  Merasa diri lebih dipakai Allah dari pada orang lain. Merasa diri jauh lebih beriman dan memiliki spiritual baik daripada yang lain.  Alih-alih menjadi berkat, kepemilikan karunia, tanpa dilandasi kasih, malah akan menjadi batu sandungan bagi orang. 

Keberadaan kasih memampukan orang memiliki persekutuan yang erat dengan Tuhan sampai akhir.  Tidak ada seorangpun yang bisa menghadap Allah, yang bisa  bergaul erat dengan Dia kalau kasih tiada.  Keberadaan kasih pula yang menolong orang tidak hanya simpati terhadap sesama, tapi juga mampu berempati, sebagai wujud respons aktif seorang kristiani.  Karena itu seperti yang disebut Paulus, tidak berlebihan jika kasih itu dipandang sebagai hal yang jauh lebih utama.

Oleh karena itu, ketika yang jauh lebih utama, lebih lengkap itu telah ditunjukkan, maka yang tidak utama itu otomatis akan lenyap.  Paulus mencontohkannya dengan kondisi seorang kanak-kanak, maka dia akan berkata-kata, merasa dan berpikir seperti kanak-kanak. Tetapi ketika dia sudah besar, menjadi dewasa, masakan akan tetap mau menjadi seperti kanak-kanak? Sudah sepatutnya pola pikir dan sifat layaknya seorang anak itu ditinggalkan.  Maka dari itu, bukan karunia besar yang lebih utama, bukan pula pengetahuan hebat yang lebih unggul. Tetapi kasih yang jauh lebih tinggi dari semuanya itu. Kasih akan abadi.  Slawi.

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top