1 Korintus

Prinsip Pengendali Karunia (1 Korintus 13:4-7)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 21 October 2016 - 15:15 | visits : 470

Karunia memang bermanfaat. Banyak kegunaan dan fungsinya.  Di jemaat, karunia adalah sarana penunjang bagi pelayanan.  Karena itu keberadaannya tidak bisa dianggap remeh.  Entah karunia yang dinilai biasa-biasa saja, atau yang hebat sekalipun, yang luar biasa, semuanya memiliki kegunaan penting dalam jemaat.  Namun demikian, bagi Paulus, karunia yang dikategorikan hebat sekalipun sesungguhnya tak berarti apa-apa tanpa kehadiran kasih pada diri si pemilik (dititipi) karunia (13:1). Sebab ketika orang hanya terpaku padA karunia semata, bukan tidak mungkin ada ekspresi jumawa, ada ekspresi kebanggan atas diri di sana yang secara tidak langsung menyembunyikan kemuliaan Allah Sang Pemilik karunia yang sejati. 

Mengapa kasih dinilai Paulus lebih utama dari karunia yang spektakuler sekalipun?  Sebab di dalam kasih sesungguhnya ada instrumen filter yang menolong orang, si pemilik karunia itu dapat mawas diri, dapat berhati-hati dalam menggunakan karunia.  Paulus menyebutkan bahwa kasih itu sabar, murah hati, ia tidak cemburu.  Istilah yang sudah sangat jelas dan terang apa artinya.  Di sini Paulus seperti sedang berujar dengan gaya satir, kepada sebagian orang Korintus penerima karunia yang seringkali tidak sabar kepada mereka yang dianggap kurang religius, yang tidak memperoleh karunia dari Allah, seperti mereka.  Sehingga tidak jarang segelintir orang itu memaksa jemaat lain agar bersegera mengikuti jejak mereka.  Bahkan tak jarang gara-gara itu mereka merendahkan jemaat lain, memandang mereka sebagai kristen level bawah. 

Kasih disebut Paulus sebagai murah hati dan ia tidak cemburu.  Kecemburuan memang acap menjadi pemicu konflik di tubuh jemaat Korintus.  Bentuk kecemburuannya pun beragam.  Dari soal keduniawian, soal status sosial, sampai ke soal karunia itu.  Tidak mendapat karunia yang sama, yang spektakuler seperti segelintir jemaat di Korintus membuat jemaat menjadi cemburu.   Padahal di awal suratnya kepada jemaat Korintus Paulus menyebut bahwa jemaat Korintus pada dasarnya adalah jemaat yang kaya akan karunia 1 Kor 1:4-5.  Namun ironis betul, kepelbagaian karunia di tubuh jemaat, entah yang dinilai spektakuler pun yang tidak justru menjadi pemicu perpecahan.  Padahal, seperti disebut Paulus dalam 1 Kor 12 karuni-karunia tersebut ada sebagai sarana penunjang pelayanan yang saling melengkapi, bukan untuk memicu perpecahan.  Kemajemukan karunia seyogyanya di pandang sebagai kekayaan, dan bukan jurang pemisah.  Karena itulah Paulus menyebut, dibutuhkan benar kasih yang mengemuka dalam ketidakcemburuan dan murah hati.  Sehingga orang yang tidak mendapat karunia spektakuler dapat merasa memiliki dan terberkati oleh pemilik karunia yang spektakuler.  Begitu juga sebaliknya. 

Paulus juga menyebut esensi kasih adalah tidak memegahkan diri dan tidak sombong.  Hal ini juga sudah teramat jelas.  Tidak layak dan tidak berhak orang Korintus bermegah diri atau bersombong diri atas karunia yang dimiliki, sebab sudah sangat jelas, bahwa karunia yang mereka miliki sejatinya bukanlah kepunyaan mereka.  Sebab Allah, Tuhan Yesus lah sang empunya segala karunia itu semua.  Kasih tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri. Kasih tidak membuat seseorang menjadi pemarah, mudah tersinggung, dan pendendam. Kasih tidak akan membuat seseorang bersukacita karena penderitaan akibat ketidakadilan, termasuk tidak dapat bersukacita atas keberhasilan seseorang yang diperoleh dengan kecurangan atau pelanggaran.

Dampak kasih terhadap relasi kepada sesama dan lingkung (horizontal) menjadi perhatian utama Paulus. Bagi dia, kasih tidak sekadar simpati kepada orang, tapi juge ter-eksternalisasi dalam sikap yang jelas seperti disebutkan di atas. Yang terlebih penting adalah, baik bagi jemaat Korintus pun jemaat di kekinian, dapat menjadikan kasih layaknya sebuah prinsip pengendali terhadap segala manifestasi rohani, manifestasi karunia. Sehingga keberadan karunia pada setiap pribadi itu benar dapat dirasakan dan memberkati.  Dan bukan bermanfaat hanya bagi diri semata.  Paulus menasihati jemaat Korintus untuk "mengejar kasih itu dan berusaha memperoleh karunia Roh" (1Kor 14:1). Slawi  

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top