1 Korintus

Onani Karunia (1 Korintus 1:12:1-3)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 21 October 2016 - 15:06 | visits : 431

Terlampau banyak karunia acap membuat orang lupa banyak hal.  Lupa diri atau bahkan lupa ingatan.  Lupa kebenaran pun lupa kesejatian.  Euphoria pada karunia tak jarang membuat mata menjadi buta.  Sesitifitas nurani dan rohani pun menjadi lenyap.  Hal serupa juga dialami oleh jemaat Korintus.

Perbincangan paulus berpindah ke pokok berbeda.  Kali ini paulus membahas soal aneka ragam karunia yang di miliki oleh jemaat Korintus.  Jemaat Korintus memang banyak mendapat anugerah Allah berupa karunia rohani yantg beraneka ragam.  Mereka kaya akan karunia.  Hal itu tak disangsikan.  Di awal suratnya kepada jemaat Korintus paulus pun sudah menyebutkannya (1 kor 1:4-5).

Meskipun limpah akan anugerah Allah, limpah akan karunia yang diberikan oleh Allah, namun di sisi lain, masalah tetap saja menumpuk di jemaat Korintus.  Tak terkecuali menyoal karunia ini.  Karunia rohani, yang sesungguhnya merupakan gambaran (manufestasi) adikodrati dari roh Allah, yang bekerja melalui orang percaya demi kebaikan bersama (1kor 12:1,7; 14:1), tak tercermin di sana.  Alih-alih karunia rohani itu dapat menjadikan pelayanan kian maksimal, seperti tujuan semula, orang Korintus justru getol “onani” karunia.  Mereka hanya asyik masyuk, bahkan mabuk pada karunia.  Menikmati diri dan karunia, hanya bagi diri.  Sama sekali tidak ada yang mengemuka atau mewujud bagi pelayanan kepada Allah (vertikal) pun orang lain (horizontal). 

Tuduhan ini tidaklah berlebihan.  Dan bukan tanpa alasan. Bagaimana orang Korintus tidak disebut “onani” karunia atau “onani” rohani, jika mereka hanya senang bermesraan dengan diri dalam karunia rohani. Jemaat yang katanya kaya akan karunia rohani itu hanya egois dengan menikmati karunia itu sendiri.  Bahkan beberapa komentator menyebutkan, mereka (orang Korintus) sampai pada taraf mabuk rohani atau ekstase spiritual.  Sialnya lagi, ke-tak sadaran diri dalam ekstase rohani itu sama sekali tidak mempengaruhi iman jemaat, sebaliknya justru cenderung mengebiri iman.  Ironisnya, sesuatu yang tak membangun iman itu justru diklaim sebagai sesuatu yang datangnya dari roh kudus. 

Bagaimana tidak disebut mengebiri iman.  Jika dalam suasana trance, dalam kondisi ekstase rohani, kalau tidak mau dibilang kesurupan, orang Korintus justru menghujat Kristus, mereka justru memperkatakan ungkapan kutuk kepada Yesus (12:3). 

Tentang hal ini paulus berkata tegas.  Dulu, sebelum umat di Korintus mengenal Allah, mereka, memang dengan mudah dipengaruhia.  Tanpa menggunakan nalar, tanpa berpikir, mereka dapat ditarik begitu saja kepada penyembahan berhala-berhala  yang bisu (12:2).  Masakan sekarang, setelah jemaat mendapat pengajaran langsung dari paulus, juga beberapa guru rohani lain, hal yang sama juga masih terjadi.  Bertindak tanpa berpikir.  Melakukan sesuatu tanpa dinalar terlebih dahulu kebenarannya.  Termasuk terlampau mudah mengamini sesuatu datang dari Roh Kudus, padahal sejatinya tidak sama sekali. 

Paulus sekali lagi memberikan penegasan, sekaligus meyakinkan kembali umat di Korintus agar tidak mudah mengamini sesuatu itu datang dari Roh Allah.  Sebab jika sesuatu itu datang dari Roh Allah, maka orientasinya pasti menuju kebenaran dan bukan sebaliknya.  Jika sesuatu itu dari Allah, tak mungkin manifestasinya pada penghujatan Kristus, pada perkataan kutuk kepada Yesus.  Sesuatu dari Allah, dalam hal ini adalah manifestasi karunia Rohani, yang mengemuka adalah pernyataan iman, pernyataan pengakuan dan pengagungan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat Umat manusia. Sebab tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan ", selain oleh Roh Kudus (12:3). Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top