1 Korintus

Menghindari Hukuman Dosa Perjamuan (1 Korintus 11:27-34)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 21 October 2016 - 15:04 | visits : 527

Gaya bahasa Paulus benar-benar teramat sangat cantik.  Kentara benar kepandaian rasul satu ini memainkan kata-kata dalam dua kondisi berbeda.  Dua situasi yang berlainan, bahkan sangat jauh jedahnya sekalipun mampu disatukannya  dengan sangat baik.  Perbincangan soal liturgika yang sacred, soal ritual yang kudus, mampu dibumikan oleh Paulus dalam konteks yang bahkan jauh dari sentuhan esklusivnya sebuah ritual, membumikan pada hal yang sebagian orang sebut sangat remeh temeh, yaitu soal laku etis, demikian disampaikan Billy Kristanto dalam ceramahnya.

Di pasal ini kepiawaian seorang Paulus dalam mengolah kata dan kalimat tidak bisa dianggap remeh.  Perkataan Tuhan Yesus dalam perjamuan terakhir menjadi penanda keagungan sebuah konsep ideal perjamuan kudus. "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!"; "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku;  perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!". Menariknya, sesuatu yang agung itu meski ditarik ke dalam konteks etis, namun tidak mengurangi kualitas keagungannya. 

Lihat saja bagaimana kelincahan perpindahan Paulus.  Ketidaktepatan sikap diri dan hati ketika memakan sajian perjamuan dianggap sebagai penodaan kepada tubuh dan darah Tuhan (11:27). Padahal ketidaktepatan dimaksud, jika dinilai dari konteks sekarang, tidak lebih dari keengganan seseorang menunggu untuk bersantap bersama.  Toh makanan yang di makan adalah makanan yang di bawa sendiri.  Seharusnya bukanlah kesalahan besar jika orang tersebut langsung saja menyantapnya.  Ini kan soal etika saja, masakan dibawa-bawa ke ranah spiritual.

Bukan Paulus salah menetapkan aplikasi, bukan juga murid Gamaliel ini salah membumikan sesuatu yang ideal.  Tapi ketidaktepatan sikap diri dalam perjamuan bersama (bersantap bersama) dinilai Paulus, tidak saja kurang pas ditinjau dari sudut etika, maupun estetika berelasi, tapi juga menyalahi maksud mendasar dari sebuah perjamuan.  Makan dengan cara yang tidak layak, seperti disebut dalam (11:27) bila digambarkan, besar kemungkinan adalah tindakan ikut serta di meja Tuhan; makan seperjamuan, tetapi  dengan sikap hati yang acuh tak acuh.  Hanya mementingkan diri sendiri, dan cenderung tidak hormat terhadap “ritual” itu, pun kepada sesama peserta perjamuan.  Tak mau meenunggu saudara seiman lain yang belum datang.  Juga teramat rakus menyantap makanan, terbukti tidak ada tersisisa bagi saudara seiman lain yang tidak berpunya (11:21&33).  Ketidaklayakan sikap juga tercermin dari keenggan meninggalkan dosa, termasuk enggan menyadari kebersalahan dan kebersoalan diri sebelum menerima perjanjian kasih karunia. 

Untuk itu, sebelum masuk dalam perjamuan suci, sebelum bersantap bersama dengan saudara seiman dalam perjamuan, maka Paulus menyarankan agar setiap orang terlebih dahulu menguji dirinya sendiri (11:28). Menguji diri mensyaratkan adanya “reformasi” diri, yakni perubahan yang ditimbulkan dari penyadaran diri akan dosa dan bertobat setelahnya.  Menguji diri juga mensyaratkan adanya kesungguhan atas sebuah keyakinan.  Apakah benar diri ini tetap tegak di dalam iman kepada Kristus yang adalah Tuhan dan juru selamat (2Kor 13:5).  Bukan berlebihan menguji diri seperti demikian.  Sebab ketika seseorang masuk dalam perjamuan, dalam konteks Paulus saat itu tidak jauh berbeda dengan santap bersama, maka dia sedang memperingati Tuhan dan pengorbananNya. 

Ketidaklayakan sikap diri dan hati ketika masuk dalam perjamuan suci berdampak fatal.  Tidak saja berdosa besar terhadap Tuhan, seperti sudah dijelaskan di atas, tapi juga mendatangkan penghukuman.  Sebab mereka dengan sikap tidak layak, menurut Full Life Commentary, sama saja dengan menyalibkan Kristus kembali (11:29-32). "Berdosa melawan tubuh dan darah Tuhan" berarti bertanggung jawab atas kematian-Nya.  Tapi lebih baik dihukum.  Sebab penghukuman itu kata Paulus adalah bagian dari dididikan Tuhan atas umatNya (11:32).

Selain menguji diri, Paulus juga menyarankan sebuah tindakan sederhana untuk menghindari orang jatuh berdosa dengan sikap tidaklayaknya dalam mengikuti perjamuan.  Pertama, jika berkumpul untuk makan, nantikanlah olehmu seorang akan yang lain (11:33).  Selanjutnya, jika ada orang yang sudah lapar, sebelum makan di perjamuan, sebaiknya ia makan terlebih dahulu di rumahnya.  Supaya persekutuan yang disertai perjamuan itu tidak mubazir, tidak sia-sia atau malah mendatangkan hukuman(11:34).  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top