1 Korintus

Tersandung Soal Makan Bersama (1 Korintus 11:17-26)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 21 October 2016 - 14:52 | visits : 569

Perpecahan di Korintus memang “sesuatu banget”. Hampir di semua lini dan gerak jemaat Korintus mendatangkan perpecahan.  Mulai dari sombong rohani, favoritisme pemimpin, sampai hal-hal sepele, tapi sebenarnya mendatangkan dampak masif.  Contohnya seperti soal makan minum dalam sebuah perjamuan.  Soal makan saja kok ya ribut, begitulah kira-kira sindiran kita saat ini kepada sikap tingkah laku kekanak-kanakan sebagian orang di Korintus. 

Tersebab makan malam bersama (Perjamuan) dalam sebuah persekutuan.  Bermula dari kabar-berita  tak sedap yang Paulus dengar.  Warta itu menyoal perpecahan yang terjadi di jemaat di Korintus, ironisnya perpecahan itu justru terjadi ketika jemaat Korintus berkumpul untuk bersama-sama bersekutu memuliakan Allah dan bersantap bersama (perjamuan) (11:18).  Alih-alih mendatangkan berkat bagi siapapun yang datang, entah miskin pun kaya, pertemuan-pertemuan yang dilakukan justru mendatangkan ketidakbaikan, mendatangkan keburukan (11:17).  Jauh sama sekali dari tujuan awal pertemuan-pertemuan demikian dilakukan, untuk makan perjamuan Tuhan (11:20). Terlebih sebagai ingatan (memperingati) peristiwa perjamuan ketika Tuhan Yesus di serahkan (11:24-25). Sebab setiap kali komunitas orang percaya melakukan perjamuan Tuhan, sesungguhnya mereka telah memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang (11:26).  Tentu saja kudu selaras dengan maksud dan tujuan yang sudah ditetapkan. 

Apa lacur, makna yang sejati dari perjamuan Tuhan itu dinodai oleh orang-orang yang bersikap tidak tepat.  Sialnya lagi, kesejatian itu ternoda justru dengan sikap yang tidak dewasa.  Bukan saja menyoal rakusnya orang memakan makanan perjamuan, terbukti dengan adanya orang yang lapar (tidak makan/ atau belum kan sama sekali) dan yang lain mabuk (11:21), terlampau banyak menyantap atau meminum anggur. Tapi keengganan menunggui saudara kekasih yang belum datang, ketidaksabaran mereka yang kemudian menyantap makanan lebih dahulu. Tidak lekas datang, atau ketidakdisiplinan, sehingga saudara kekasih lain datang terlambat. Tidak-tidak itu, kalau benar demikian sudah barang tentu Paulus akan mempersoalkannya juga, bahkan hampir dapat dipastikan dia juga berbicara keras soal itu.  Besar kemungkinan orang yang belum datang adalah saudara-saudara yang kurang beruntung dalam hal finansial/ekonomi, yang disinyalir harus menyelesaikan waktu atau target pekerjaan mereka.  Sementara yang sudah datang, barangkali adalah orang-orang yang berlebih/ber-uang, terbukti mereka dapat datang lebih cepat, karena memang tidak terikat dengan pekerjaan dan lain sebagainya.  Mereka juga mampu membawa makanan sendiri, dan makanan yang sama pada akhirnya juga dihabiskan sendiri (11:21). Beda sama sekali dengan yang datang belakangan. Hampir dapat dipastikan tidak membawa apa-apa.  Kalau mereka membawa makanan, mana mungkin disebutkan kelaparan. 

Ketidakdewasaan dalam bersekutu, sikap egois dan kekakanak-kanakan seperti itulah yang ditentang Paulus.  Menunggu adalah ekspresi dari kedewasaan pribadi dan rohani yang diharapkan Paulus kepada jemaat Korintus.  Hidup kerohanian yang dewasa tidak selalu diekspresikan dalam bentuk spiritual yang jauh melambung tinggi.  Teraktualisasi dalam relasi spiritual dengan sang transenden. Tapi juga mengemuka dalam laku yang membumi, mengemuka dalam sikap etis dalam berelasi.  Termasuk etika dalam hal yang remeh sekalipun, seperti soal menunggu orang untuk makan bersama.  Sebab, dengan menunggu, khususnya dalam konteks perjamuan ini, tidak saja dapat mengindarkan diri dari mempermalukan orang-orang miskin, orang tidak berpunya (11:22), tapi juga terhindar dari sikap mencemari kesejatian dari maksud perjamuan. Slawi

 

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top