1 Korintus

Soal Tudung Kepala (1 Korintus 11:2-16)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 21 October 2016 - 14:49 | visits : 829

Jemaat di Korintus memang benar-benar beda dari jemaat lain.  Karakteristiknya sama sekali lain dari jemaat-jemaat lain.  Mungkin saja karena penduduknya yang heterogen, dan orang Kristen di sana pun, waktu itu juga sangat majemuk.  Tak terlalu mengherankan persoalan yang dihadapi pun beragam.  Dari soal makanan sampai soal perceraian.  Dari soal cara makan, sampai favoritisme pada hamba Tuhan yang melayani.  Tak heran tata cara dalam beribadah, termasuk sikap mereka dalam beribadah pun sama sekali berbeda, bahkan jauh sama sekali dari “standarisasi” etis dan estetis yang jamak dikenal orang Yahudi, notabene asal budaya yang berpengaruh besar terhadap kekristenan.  Benar, ada kebiasaan-kebiasaan tertentu dari budaya Yahudi/Ibrani yang dikritisi Paulus.  Tapi ada beberapa hal yang menurut Paulus juga tetap relevan untuk dilakukan.  Salah satunya adalah pemakaian tudung kepala terhadap wanita dalam suatu ibadat. 

Pasal ini memberikan informasi tentang bagaimana Paulus bersikap terhadap para wanita yang seperti dilaporkan kepadanya, enggan memakai tudung kepala dalam pertemuan ibadat.  Menanggapi soal ini Paulus tidak gelap mata. Lantas buru-buru mempersalahkan mereka.   Tapi, lagi-lagi dengan cara yang sangat elegan Paulus menyelesaikannya.  Bisa saja, bahkan teramat mungkin Paulus melarang perempuan-perempuan itu dengan kata “TIDAK” atau “JANGAN”.  Tapi hal itu akan berdampak sesaat, atau malah berdampak pada sikap naif, kolot, serba “pokoknya”, tanpa terlebih dahulu mengetahui mengapa hal itu dilarang atau yang lain diperbolehkan. Apa saja yang melatari dan sebagainya. 

Di awal pasal ini Paulus memuji sikap jemaat Korintus dalam menginternalisasi/membatinkan apa yang telah diajarkan kepada mereka dengan cara mengingat ajaran itu. Juga mengaktualisasikan apa yang ditularkan dengan tetap dan teguh berpegang kepada pengajaran yang Paulus teruskan (1 Kor 11:2).  Namun sayang, kepatuhan kepada ajaran, tidak dibarengi dengan laku etis yang sepadan.  Buktinya, tidak sedikit wanita di jaman itu enggan atau tidak mengindahkan aspek kesopanan dan kepantasan ketika beribadah, dengan tidak memakai tudung kepala (11:13).  Hal inilah yang coba Paulus ingatkan kembali, agar wanita Korintus mengindahkan asas kepatutan etis dan estetis.

Tudung kepala di masa itu sangatlah penting peranannya.  Bukan sekadar asesoris semata. Tudung kepala mengandaikan pemakainya adalah wanita yang bermartabat.  Wanita yang sopan dan rela tunduk kepada suaminya demi menyatakan martabatnya itu.  Tudung kepala juga mengandaikan pemakainya adalah orang (wanita) terhormat, wanita seutuhnya, karena itu layak dihormati dan dihargai sebagai seorang wanita. Seorang wanita yang bertudung di depan umum, dikhiaskan sedang memakai simbol "wibawa" di kepalanya.  “Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya   oleh karena para malaikat (11:10).”   Frasa "karena para malaikat" di sini, seperti disebut dalam Full Life Commentary, dapat menunjuk kepada suatu kenyataan bahwa para malaikat saja sangat memperhatikan tatatertib, kerapian, dan ketaatan dalam memuji Allah. Seolah Paulus hendak mengatakan, kok manusia, sebagai ciptaan mulia, segambar dengan penciptanya justru bertindak sebaliknya. 

 Tanpa tudung, apalagi dalam rumah ibadat, laki-laki tidak akan menghormati mereka.  Wanita yang tak bertudung  seperti sedang memamerkan diri di depan umum secara memalukan. Tidak berbeda dengan para penjual kepuasan yang bertebaran dijalan-jalan Korintus.  Mengingat Korintus adalah kota dagang yang ramai dan disinggahi banyak orang kala itu. 

Kepada wanita yang enggan memakai tudung Paulus, dengan gaya yang satir berbicara, agar mereka memangkas saja rambutnya (11:6).  Tetapi selanjutnya, Paulus memperingatkan konsekuensi dari tindakan itu. Ketika perempuan memangkas rambutnya, maka hal itu sesungguhnya adalah sebuah penghinaan, aib bagi perempuan (11:6).  Sebaliknya, tudung, yang juga direpresentasikan dengan rambut panjang (11:15), adalah kehormatan bagi perempuan. 

Namun demikian keputusan tetap ada di tangan jemaat perempuan. Apakah akan tetap melakukannya atau mengikuti apa yang Paulus sampaikan.  Paulus mempersilakan mereka mempertimbangkan keputusan apa yang akan diambil. “Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung? (11:13)”.

Pemakaian tudung, dalam budaya berbeda, apalagi di kekinian tidak lagi relevan.  Namun demikian prinsip yang tersemat di balik pemakaian tudung masih dapat digunakan hingga saat ini.  karena itu syogyanya seorang (wanita) kristen harus berbusana yang mencerminkan kesopanan, mengekspresikan diri sebagai manusia yang bermartabat dan layak dihormati.  Sebab meminjam pepatah Jawa “Ajining Rogo Ono ing busono”, nilai kedirian seseorang dapat terpancar dari pakaian yang dikenakan.  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top