1 Korintus

Kuntungan Bagi Orang Dan Kemuliaan Bagi Allah (1 Korintus 10:23-33)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 20 October 2016 - 16:51 | visits : 490

Kebebasan! Siapa yang tak menginginkannya? Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang rela dibatasi, apalagi dibelenggu dengan dan oleh apapun.  Meskipun sesungguhnya keduanya hampir tidak mungkin dipisahkan.  Sungguh, kebebasan acap disalahartikan orang.  Kebebasan dipandang sebagai sikap “semaunya” sendiri, atau bebas sebebas-bebasnya.  Kebebasan adalah ruang di mana batasan tidak diingini.  Padahal, ketika bersentuhan dengan kehidupan, bersentuhan dengan orang dan masyarakat, maka kebebasan diri tak boleh melanggar kebebasan orang lain.  Sama seperti diri yang mengingini kebebasan, orang lain pun berhasrat sama.  Kalau benar ingin bebas sebebas-bebasnya, menyitir syair lagu “OJO LALI” yang dipopulerkan Tony Q Rastafara, “Yen pengen urip karepe dewe, Manggono ning alas dewe…”.  Kalau orang ingin hidup berbuat semaunya, sebebas-bebasnya, ya silahkan saja tinggal di hutan sendiri, demikian arti syair lagu berirama Reggae itu. 

Kepada jemaat Korintus yang berhasrat seperti itu, Paulus mewanti-wanti benar, bahwa jangan sampai kebebasan mereka melanggar, atau setidaknya menyinggung hasrat kebebasan orang lain juga.  Paulus membenarkan jika "Segala sesuatu diperbolehkan." Tapi , tidak semunya berguna dan membangun, kata Paulus (10:23).  Ya.., memang belum beranjak dari soal makan memakan makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala dan makan di kuil penyembah berhala.  Paulus mempertegas kembali kepada jemaat Korintus yang terlampau jumawa, menganggap diri rohani, sudah bebas, tidak terbelenggu aturan, sehingga dapat makan apapun dan di manapun.  Benar, bukan soal berhalanya, seperti dijelaskan sebelumnya. Karena apalah berhala itu, tak lebih dari benda mati.  Tetapi kejahatan penyembahan (mempersembahkan makanan) kepada roh jahat, itu yang Paulus persoalkan. 

Selain alasan di atas, sebagaimana telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, Paulus juga menggunakan alasan sosial etis untuk menegaskan hal ini.  Kepada mereka yang berhasrat besar untuk bebas Paulus mengatakan, agar jangan egois, jangan hanya berorientasi kepada keuntungan diri sendiri, tapi juga menghargai hasrat orang lain, kebutuhan orang lain (10:24).  Silakan saja orang makan daging yang di jual di Pasar Korintus, meskipun bukan rahasia lagi bahwa daging yang diperjual belikan di pasar Korintus sudah dipersembahkan kepada berhala.  Tetapi jika ada orang yang kemudian nuraninya tidak sejahtera melihat lalu mengingatkan "Itu persembahan berhala!", seyogyanya orang tidak membeli apalagi memakannya, kata Paulus (10:28).  Dengan nasihat ini, dengan arahan ini, dapat saja orang kemudian berlata:” "Mengapa kebebasanku harus ditentukan oleh keberatan-keberatan hati nurani orang lain?” (10:29) bisa jadi orang juga berdalih, “Kalau aku mengucap syukur atas apa yang aku turut memakannya, mengapa orang berkata jahat tentang aku karena makanan, yang atasnya aku mengucap syukur? (10:30).   Apalagi, tidak ada makanan di dunia ini milik berhala. Sebab segala makanan adalah milik Allah.  “Bukankah segala yang ada di bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan?” (10:26). 

Kepada mereka yang teramat mungkin berdalih seperti itu, ini jawaban Paulus.  Ketika orang melakukan sesuatu hendaknya melakukan itu tidak saja atas dasar keinginan diri semata.  Tidak atas dasar pemuasan nafsu dan hasrat keegoisan diri.  Melampaui itu, hendaknya orang dalam melakukan sesuatu juga mempertimbangkan orientasi kekekalan.  Mempertimbangkan orientasi ilahi. Apakah tindakan yang dilakukan memuliakan Tuhan atau tidak (10:31).  Apakah tindakan itu akan membuat orang lain lantas memuliakan Allah sang pemrakarsa segala kebaikan, dan bersyukur karenanya.  Atau justru sebaliknya, malah menimbulkan syak di hati.  Membuat orang menjadi tidak sejahtera nuraninya.  Tindakan yang justru menjadi batu sandungan bagi orang lain.  “Kok orang kristen makan makan berhala? “Kok orang kristen makan di kuil berhala?”.   Tentang prinsip ini Paulus tidak hanya pandai berbicara, pandai “berteori”, tapi dalam suratnya kepada jemaat Korintus ini Paulus menyatakan, bahwa dia pun sudah memraktikkannya.  “Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak,  supaya mereka beroleh selamat.” Ini bukan sikap kompromi, apalagi bunglon.  Ini adalah bentuk elegansi Paulus agar berita keselamatan yang disampaikannya dapat optimal tersampaikan.  Sebuah pilihan tindakan bukan atas dasar pilihan keegoisan diri, tapi berorientasi pada orang banyak, yang pada akhirnya berdampak kekekalan (keselamatan) bagi orang.  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top