1 Korintus

Awasan Untuk Tidak Bangga Rohani (1 Korintus 10:8-14)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 20 October 2016 - 16:45 | visits : 497

Merasa diri beriman lebih dibanding orang lain sepertinya menjadi persoalan tersendiri bagi sebagian umat di Korintus.  Terlalu percaya diri dan percaya rohani hanya lantaran “tanda” yang dimiliki.  Dibaptis dan  menjadi satu dalam tubuh dan darah Kristus melalui sakramen perjamuan.  Perasaan berlebih ini membuat orang di Korintus merasa dapat berbuat semaunya, berbuat apa saja, bahkan karenanya merasa diri sungguh-sungguh telah aman.  Di pasal ayat sebelumnya Paulus menunjukkan kepada jemaat di Korintus, bahwa “tanda” Baptis tidak serta merta menyelamatkan mereka.  Lihat saja umat Israel di masa lalu, ada sekian ribu jumlah orang yang juga “dibaptis”(10:2), tapi toh sebagian besar dari mereka tidak dikehendaki Allah. 

Setidaknya ada dua hal yang memberi kontribusi besar sekaligus “menegaskan” bahwa yang dilakukan Allah (menghukum) umat Israel di masa lalu itu benar adanya.   Pertama adalah kecenderungan umat Israel tergoda untuk menyembah berhala. Dan hal ini benar-benar diwanti-wanti Paulus kepada umat di Korintus.  Selanjutnya, yang kedua adalah kecenderungan berzinah (10:8).  Godaan yang satu ini sangat kontekstual dengan persoalan jemaat di Korintus, mengingat besar dan ramainya kota itu sebagai pusat perdagangan sekaligus hiburan, tak terkecuali besarnya jumlah perempuan penghibur di kota itu.   Lalu ada godaan untuk mencobai Allah (10:9); Bersungut-sungut (10:10).  Terhadap godaan-godaan itu Paulus kembali menyegarkan ingatan mereka bahwa ada konsekuensi atas dosa-dosa yang dilakukan, diantaranya “mati dipagut ular” atau “dibinasakan  oleh malaikat maut”. Jika sudah begitu siapa yang dapat unjuk diri bahwa iman yang dimiliki dapat menggaranti dia untuk selalu mampu “menyelamatkan” diri dalam melewati godaan?  “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia akan dapat teguh berdiri, (10:12). 

Bukan kesombongan rohani yang diperlukan untuk melawati cobaan, tetapi sebuah kehati-hatian.   “Hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! (10:12)”.  Di sini Paulus menunjukkan sebuah kata kunci penting, “kewaspadaan”.  Mungkin cobaan dan godaan yang ada tidak terhindarkan, namun dengan waspada dan berhati-hati, maka orang akan melaluinya dengan lebih baik. 

Terhadap godaan-godaan itu, Paulus tidak mengesampingkannya.  Dan dia percaya bahwa setiap orang akan mengalami.  Apalagi bagi umat di Korintus dengan heterogenitas masyarakatnya, yang berimbas pada semakin beranekaragam bentuk dan jenis godaan yang ada.  Untuk itu ia memberikan prinsip penting tentang apa itu godaan.  Pertama, Paulus menunjukkan bahwa godaan, pencobaan-pencobaan yang dialami bukanlah godaan atau pencobaan yang begitu besar.  Pencobaan-pencobaan itu adalah pencobaan biasa saja (10:13).    Pencobaan yang juga dialami banyak orang lainnya.  Contoh yang telah ditunjukkan tentang bangsa Israel tentu dapat menjadi awasan untuk tidak jatuh pada lobang yang sama. 

Prinsip lain yang diberikan Paulus adalah, bahwa dalam setiap pencobaan di situ Allah tidak membiarkan umat yang dicobai sendirian saja.  Sebab Allah setia.  Allah juga tidak akan membiarkan orang yang dicobai tidak dapat menanggungnya, sesungguhnya Allah telah memberikan sebuah kekuatan besar, sebuah potensi besar untuk melewati setiap pencobaan yang dialami.  Yang terlebih penting lagi adalah Allah selalu memberi jalan keluar pada setiap masalah, pada setiap pencobaan dan ujian yang dialami.  Kata Yunani untuk pencobaan sesungguhnya telah menunjukkan hal ini.  Cobaan yang dialami sesungguhnya adalah sebuah ujian, yaitu sesuatu yang dirancang, bukan untuk membuat orang jatuh, melainkan untuk menguji kita, sehingga oleh karenanya kita tampil menjadi lebih kuat daripada sebelumnya.  Oleh karena itulah dalam setiap ujian, Allah tidak hanya memberikan “permasalahan”, tapi juga kemampuan dan sekaligus jalan keluarnya.  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top