1 Korintus

Mengekang Diri Demi Tujuan Ilahi (1 Korintus 9:24-27)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 20 October 2016 - 16:41 | visits : 411

Masih dalam kerangka melakukan pembelaan. Paulus melawan sikap sebagian orang yang merongrong kewibaan kerasulan atasnya.  Melemahkan dia, mencurigai, bahkan  merendahkan sikap yang dipilih. Seperti diketahui, di ayat-ayat sebelumnya Paulus memberi penegasan yang kuat atas sikapnya dan kewibawaan kerasulan dirinya.  “Keunggulan” dirinya (kendati dia tidak menyebut demikian) atas hamba Allah dan rasul-rasul lain yang menggunakan hak-hak mereka.  Bagaimana dia bersikap layaknya orang yang dilayani.  Lalu menegaskan juga hal apa yang melandasi pilihan sikapnya itu.  Yakni Injil itu sendiri.

Selanjutnya, yang juga tidak kalah penting adalah bagaimana Paulus menggunakan ilustrasi sebuah perlombaaan atau gelanggang pertandingan  agar lebih mudah orang mengerti.  Ada dua cabang olahraga yang Paulus sitir, Lari dan Tinju, sebagai ilustrasi untuk mempermudah pesan yang dimaksudkannya tersampaikan dengan baik. 

Dalam gelanggang pertandingan lari, seperti dilukiskan Paulus, semua peserta akan bersama-sama dan turut berlari. Namun demikian tetap hanya akan ada satu orang saja yang mendapat hadiah atas upaya kerja kerasnya.  Tentu saja yang menerima adalah pemenangnya, pelari yang samapi di garis finish pertama kali. 

Lalu ilustrasi itu diijadikan Paulus sebagai pembanding.  Jikalau dalam sebuah perlombaan lari, di mana setiap orang yang menjadi pesertanya akan benar-benar menguasai diri, menjaga kondisi dan berjuang sekuat tenaga demi sebuah mahkota yang fana, bagaimana dengan anak-anak Tuhan, hamba-hamba Tuhan yang sudah seharusnya berjuang lebih giat lagi untuk suatu mahkota yang abadi.  Dan untuk itu, Paulus memberi penguat lagi, bahwa dia tidak berlari sekehendak kaki melangkah, tapi memiliki tujuan yang jelas.  Selanjutnya Paulus mengandaikan diri sebagai seorang petinju yang tidak sembarangan saja memukul. Tetapi mengatakan telah melatih tubuh dan menguasai seluruhnya.

Pengandaian ini untuk melukiskan sebuah kondisi di mana dia benar-benar telah melatih tubuhnya, mendisiplin diri dengan ketat.  Boleh jadi bentuk pengekangan terhadap diri itu dapat berupa membatasi, bahkan mengindari orientasi pada kesenangan dan keuntungan duniawi. Menjauh dari kemewahan, termasuk tidak mempertahankan hak-hak sewajar, sebagaimana dimiliki oleh hamba Tuhan dan rasul-rasul lainnya.

Di dalamnya juga ada indikasi ajakan dari Paulus kepada mereka yang menganggap diri “pandai”, yang mengritik dia (9:3) agar mengikuti teladannya untuk melepaskan hak-hak mereka demi mahkota mulia, mahkota kekealan itu. Sama seperti seorang olahragawan yang melatih diri, mengekang dan melapaskan keinginan makan yang tinggi dengan memakan makanan yang sehat.  Lebih jauh lagi, “supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top