1 Korintus

Pertimbangan Pengetahuan Saja? (1 Korintus 8:1-13)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 20 October 2016 - 16:32 | visits : 568

Terjadi peralihan pokok perbincangan dalam surat Paulus. Di pasal 8 surat pertamanya kepada jemaat Korintus ini, Paulus tidak lagi menjawab persoalan perihal hubungan perkawinan dan keluarga.  “Tentang daging persembahan berhala” (8:1), memberikan keterangan gamblang tentang hal apa yang diperbincangkan selanjutnya.  Persoalan makan-memakan daging yang dipersembahkan kepada berhala rupanya menjadi sesuatu yang dianggap penting bagi sebagian umat di Korintus. 

Kembali dengan sangat elegan Paulus menjawab persoalan jemaat. Tidak serta merta dia menentukan sesuatu itu salah atau benar, tapi mengajak orang untuk kembali berpikir. Tidak hanya menalar sesuatu dalam tataran kulit (fenomenanya) saja, tapi lebih mengakar kepada persoalan yang mendalam.  Membongkar pola pikir yang kurang tepat diterapkan dalam konteks.  An-sich bukan soal makan atau tidak memakan daging berhala yang hendak Paulus jawab.  Tetapi soal “pengetahuan”, kedewasaan berpikir, atau berteologi sebagian orang yang kalau tidak berhati-hati dapat menjadi batu sandungan.  Tidak hanya itu, muaranya bahkan disebut Paulus akan menuju kepada kesombongan (8:1).  Bagi sebagian umat Korintus yang telah memiliki “pengetahuan” matang, atau kedewasaan spiritual, mungkin tidak terlalu masalah hendak memakan daging bekas persembahan berhala atau bukan.  Karena toh, seperti Paulus katakan, jika orang atau umat percaya benar, sungguh percaya dengan Allah yang tunggal, yang satu-satunya benar, maka seyogyanya: "tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa(8:3)" itu.

Memang benar, dan tentu tidak dapat dipungkiri jika ada klaim lain soal allah-allah di luaran sana. Hal ini tidak disangkal Paulus (8:5). Namun sang Rasul menegaskan kembali, bahwa hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal  segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan  dan yang karena Dia kita hidup(8:6). Namun tidak berarti “pengetahuan” yang mumpuni tersebut selalu dapat dijadikan sebagai sarana bagi orang untuk mempertimbangkan sesuatu.  Kadangkala kebijakan bersikap justru lebih patut ditunjukkan dengan prinsip kasih dan penyangkalan diri, termasuk kepada pengetahuan itu sendiri. 

Nyatanya ada realitas berbeda yang perlu disikapi.  Tidak sedikit orang yang masih berhenti, kalau tidak mau dikatakan terkungkung pada persoalan berhala dan pemberhalaan sesuatu.  Dan tindakan memakan makanan berhala, bagi sebagian orang ini tentu saja akan berdampak besar.  Membawa syak bagi diri dan iman mereka. Tidak itu saja, bisa jadi orang yang masih terkungkung dalam konsep berhala justru makin terdorong, terangsang untuk kembali memakan apa yang dianggap sebagai makanan berhala itu, setelah melihat sosok atau pribadi yang dianggap memiliki “pengetahuan” mumpuni dan dewasa itu berada di kuil dan memakan makanan berhala(8:10).  Dengan demikian, tidak saja memantik orang mengarah kepada kesesatan, tapi, kata Paulus, juga telah mengakibatkan orang tersebut, yang untuknya Kristus telah mati, menjadi binasa karena ganjalan "pengetahuan" orang (8:11).

Adalah benar, makanan memang tidak membawa orang lebih dekat kepada Allah. Tidak juga membawa kerugian  kalau tidak makan, pun keuntungan kalau kemudian memakannya. Tetapi sudah seyogyanya orang yang memiliki pengetahuan lebih dewasa dapat menahan diri, menjaga diri agar kebebasan yang dimiliki tidak menjadi batu sandungan  bagi mereka yang lemah.  Itu saja. Sebab akibat yang lebih mendasar dan berdampak mendalam dari ketidakmampuan menahan diri justru membawa orang “berpengetahuan” tidak hanya berdosa terhadap saudara-saudara dan melukai hati nurani mereka yang lemah, tetapi hakikatnya juga telah berdosa terhadap Kristus (8:12).

Terkait hal ini, selain menahan diri, ada dua prinsip kebenaran yang dapat dijadikan acuan dalam bersikap.  Pertama seperti disebut dalam ayatanya yang ke 13, yakni: apabila makanan tersebut menjadi batu sandungan, maka lebih baik untuk selama-lamanya Paulus tidak makan daging lagi, sama sekali, supaya jangan menjadi batu sandungan.  Prinsip kedua yang dapat menjadi rujukan selanjutnya ada di pasal berbeda, tetapi dengan pokok yang tidak jauh berbeda.   “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah”(10:31).  Sebuah tekanan yang klimaks dan mendalam. Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top