Mata Hati

Gelapnya Pemahaman Alam Roh

Tue, 1 December 2009 - 10:27 | visits : 3813
Tags : Doktrin Roh Kudus Isu Kontemporer

Pdt. Bigman Sirait

Follow Twitter: @bigmansirait

ISU tentang alam roh menjadi trend khotbah masa kini. Apa sebetulnya yang dimaksud dengan alam roh? Sebuah perta-nyaan yang perlu pengupasan. Dalam Alkitab kata “roh” berasal dari bahasa Ibrani “ruahk”, atau “nefesy”. Kata “ruahk” dalam Per-janjian Lama muncul paling tidak 378 kali. Kata ini dipakai mengacu kepada manusia, tetapi yang terbanyak adalah yang berkaitan dengan yang supra-alami. Semen-tara dalam Perjanjian Baru padanan kata “ruakh”, adalah “pneuma”, bahasa Yunani. Muncul sekitar 220 kali, dipakai mengacu kepada ma-nusia, namun kebanyakan untuk menyatakan yang supra-alami, yaitu Roh Kudus.


Nah, yang diajarkan Alkitab tentang roh adalah bahwa Allah itu Roh, demikian juga malaikat dan iblis roh juga adanya. Roh artinya bukan materi, tidak berwujud, dan melintasi ruang dan waktu. Namun dalam keberadaannya, Allah yang Roh bisa ada di mana pun pada waktu yang bersamaan, semen-tara malaikat maupun setan, tidak bisa ada di berbagai tempat pada waktu yang bersamaan. Istilah alam roh tidak dikenal di dalam Alki-tab. Ini adalah istilah yang dikem-bangkan untuk menunjukkan yang bukan alam semesta, atau juga bukan alam orang maut (alam orang mati). Alam roh adalah alam supra-alami itu defenisi yang dipakai.


Yang menjadi salah kaprah di sini adalah pemahaman yang berkem-bang bahwa ada orang tertentu yang bisa masuk ke alam roh. Konsep memasuki alam roh seperti ini sangat kental nuansa mistisnya. Dalam dunia perdukunan memang diyakini bahwa orang tertentu yang tingkat ilmu kebatinannya sudah tinggi bisa memasuki alam roh. Padahal sejatinya ini adalah pengabdian kepada kekuatan setan yang memperdaya manusia, sehingga manusia bisa berpindah melintasi kesadaran kemanusian-nya. Dalam hal ini manusia tidak lebih dari sekadar korban permainan setan. Repotnya, mereka yang memiliki latar belakang perdukunan membuat sinkretisme dalam hal alam roh ini, sehingga terjadilah kontaminasi ajaran lama dalam memahami kebenaran Alkitab. Di sisi lain istilah ini juga banyak dipakai oleh mereka yang berkajang soal karunia, dan bersembunyi di balik istilah alam roh.


Dalam Alkitab, Paulus dengan tegas menelanjangi mereka yang seakan berhikmat, seakan rendah hati, dan sekaligus seakan sangat peka tentang roh (band. Kolose 2:16-23). Paulus sebagai rasul dengan tegas berkata tentang me-reka yang berkajang pada pengli-hatan (alam roh), disebut Paulus sebagai orang yang membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi. Cobalah cerna, mereka yang berbicara alam roh di Kolose, disebut Paulus sebagai berpikiran duniawi. Artinya mereka hanya melakukan dalam ukuran duniawi, menurut diri, kehebatan dan kepuasan diri, karena tampak lebih rohani dari yang lainnya. Padahal Alkitab dengan jelas berkata bahwa orang benar akan tampak dari buahnya, bukan soal penerawa-ngan ke alam roh.


Alkitab tak pernah mengajarkan soal alam roh, melainkan peka kepada pimpinan Roh, yaitu hidup melakukan kehendak Roh. Ini dengan jelas disebut sebagai buah Roh (Galatia: 22-23). Dan juga jangan hidup mendukakan Roh Kudus, yaitu dengan hidup berdosa (Efesus 4: 30). Dalam berbagai konteks di Alkitab yang membicara-kan soal pekerjaan Roh Kudus, tidak sekalipun mengambarkan soal alam roh yang bisa dimasuki. Yang ada justru kritik rasul terhadap ajaran-ajaran seperti itu yang banyak berlatar belakang gnostis. Seakan-akan mereka itu lebih ber-pengetahuan dalam soal-soal “misteri kehidupan rohani”. Tampak seperti berhikmat, melebihi orang lain, padahal sejatinya hanyalah kepalsuan.


Saat ini, di era kita, ajaran soal alam roh cukup mendapat respon. Ini bisa dipahami mengingat Indonesia yang berlatar belakang mistis. Secara umum kita diwarnai oleh pemahaman mistis yang berkem-bang di sekitar kita. Dengan mudah Anda akan menemukannya di dunia media. Nyalakan televisi, Anda akan ditawari untuk menge-tahui peristiwa masa depan, pekerjaan, hingga jodoh. Semua-nya lengkap dengan testimoni mereka yang mengaku mengalami peristiwa supra-alami itu, tepat seperti apa yang dikatakan pada mereka. Dan hebatnya, mereka yang berkemampuan supranatural itu bukan seperti gambaran waktu lampau, nenek sihir yang menye-ramkan. Berbagai tampilan yang ada, dari macho hingga cantik, sangat variable, bahkan fashion yang digunakan pun up to date. Pemakai jasa mereka juga bukan orang bodoh, melainkan orang yang sukses bisnisnya, edukatif, dan terkenal.


Inilah yang terjadi di dunia umum. Celakanya, ternyata setali tiga uang dengan dunia rohani, dan lebih celaka lagi ini juga terjadi di kekristenan. Orang tak lagi suka mendengar ajaran yang benar, melainkan ajaran yang menye-nangkan di telinga. Beriman dipa-hami sebagai hidup tanpa ham-batan. Tiap persoalan diterje-mahkan sebagai pekerjaan setan, dan karena itu setan harus diusir. Umat tak lagi mau memeriksa diri bahwa persoalan yang terjadi bisa jadi kesalahan diri sendiri. Belum lagi ucapan Yesus sendiri yang berkata: “Ikutlah Aku, sangkal dirimu, pikul salibmu”. Ini dimanipulasi, dilupakan, dengan ungkapan “Yesus sudah menang dan kita adalah umat pemenang”. Ucapan yang alkita-biah namun pemaknaannya jauh sama sekali. Ironis, itulah kehidu-pan agama masa kini. Semua agama dilanda kepalsuaan yang semakin menghebat. Beragama untuk kenikmatan diri, bukan melakukan yang Allah kehendaki, melainkan apa yang aku ingini. Tuhan akan memenuhi semuanya, asal Anda bijak melihat dan berperang di alam roh. Kesaksian mereka terasa sangat spektakuler, namun dalam semangat hidup banyak yang berorientasi pada materi. Alam roh dikumandangkan, keuntungan yang didapatkan alias duniawi.


Alam roh memang sebuah pemahan remang-remang, di mana orang bisa bersembunyi dengan tenang. Melarikan diri dari pergu-mulan hidup nyata bersembunyi di balik alam roh yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Sudah seharusnya gereja peka terhadap bahaya seperti ini. Sayangnya justru kebalikannya yang terjadi, tak jarang justru gereja meng-adopsi hal ini dan terjebak di sana. Mari kita pahami dengan benar bahwa manusia adalah makhluk jasmani tetapi juga makhluk rohani. Karena kita makhluk rohani maka kita bisa bersekutu dengan Allah yang Roh itu. Namun itu tidak berarti kita bolak-balik memasuki alam roh, atau surga untuk bertemu Tuhan. Orang percaya diberi iman, dan iman adalah alat untuk kita percaya dan bertumbuh. Lalu Firman Tuhan sebagai penun-tun jalan. Peristiwa rasul melihat atau bercerita surga adalah spe-sifik dalam kepentingan penulisan Alkitab, bukan pola berhubungan dengan Tuhan.


Tak semua nabi, tak semua rasul, berbicara soal surga secara khusus, apalagi pergi ke sana. Karena itu mereka yang sekarang ini tanpa sadar sudah memprokla-mirkan diri sebagai yang lebih dari para nabi dan rasul. Jadi, sekali lagi, orang percaya yang percaya pada Tuhan, seperti kata Paulus tak berkajang dalam penglihatan. Dan juga seperti kata Yesus Kristus sendiri kepada Thomas: “Berba-hagialah orang yang percaya sekalipun tidak melihat”. Jadi pengakuan bahwa kemampuan melihat alam roh sebagai keung-gulan sangat berlawanan dengan ucapan Tuhan Yesus. Dan, saya, jelas lebih percaya kepada Tuhan Yesus. Entahlah dengan Anda. Tapi saya berharap, semoga kita sama-sama lebih percaya kepada ajaran Tuhan Yesus sendiri, dan Alkitab yang sudah final, dan amat sangat jelas, ketimbang berkajang dalam penglihatan alam roh.


Soal setan, orang percaya tak perlu takut. Kita menang jika sungguh-sungguh beriman ke-pada Kristus. Jika setan menam-pakkan diri, selalu ingat, itu peker-jaan terendahnya. Dan jika Anda mengalami itu, berarti setan menganggap Anda masih rendah. Pekerjaan setan yang canggih adalah membuat manusia merasa hebat, seakan sama dengan Allah, seperti yang pernah dilaku-kannya ketika menggoda manusia pertama, dan setan berhasil (Kejadian 3). Hal yang sama dilakukannya terhadap Yesus di padang gurun, namun setan gagal (Matius 4). Jadi jangan terjebak di alam roh, tetapi bertandinglah di alam ini dengan hidup sesuai kehendak Allah. Semoga menjadi terang. v

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top