1 Korintus

Sebaik-baik Nilai (1 Korintus 7: 17-24)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 20 October 2016 - 16:28 | visits : 453

Membaca perikop ini mengingatkan saya kembali pada bacaan tentang sejarah perkembangan kristen di Tanah Jawi Wetan (Jawa Timur).  Mengingatkan tentang sikap diskriminatif kristen barat terhadap kristen pribumi.   Bagaimana kristen pribumi di Mojowarno (sekarang Mojokerto) dipandang sebelah mata, bahkan dianggap tidak “kristen”, lantaran tak sesuai dengan kriteria mereka (kristen barat).  Mengenakan kain sarung, kopyah (songkok), blangkon, dan nyeker (tidak mengenakan sendal) dianggap tidak mencerminkan diri sebagai seorang kristen.  Yang dimaksud “kristen sejati” kira-kira ya yang mirip dengan kristen barat. Mengenakan kemeja rapi, jas lengkap, dan tentu saja bersepatu, itu baru namanya kristen.  Jika tidak, alih-alih dapat dibaptis dan tercatat sebagai jemaat, berharap boleh masuk ke “gereja barat” pun jangan, karena bakal distop di teras gereja.

Kriteria kristen sejati memang kerap mengalami evolusi.  Ironisnya, imbuhan dan lompatan nilai acap dibawa ke ranah yang super subyektif.  Bagaimana tidak, ukuran-ukuran kristen sejati dibuat dan disepakati bersama oleh sebagian orang, seperti yang terjadi di jemaat Korintus ini, berdasarkan kriteria suka-suka, pokoke sama-sama tahu dan ngerti.  Tak hanya itu, nilai-nilai subyektif lama, yang boleh jadi mengkristal di diri juga digunakan sebagai tambahan penting, kesannya dibuat seolah-olah integral dalam istilah “Kristen Sejati” sendiri.  Dalam ayat bacaan kita kali ini, hal ini nampak betul, bagaimana kelompok orang berlatar yahudi, yang biasa dengan istilah sunat sebagai tanda dan ritual memaksakan nilai mereka kepada kristen lain yang memiliki latar berbeda.  Orang dianggap sebagai kristen sejati kalu sudah disunat. 

Terhadap persoalan yang juga menjadi pemicu perselisihan jemaat Korintus ini Paulus dengan bijak mememberi arahan. Ayat 7:17 agaknya menjadi pemula sekaligus, ketetapan atau konklusi bahasannya soal nilai kristiani. “..hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah”, begitu gamblangnya Paulus menjelaskan. Kalimat ini merupakan kalimat penting yang hendak ditekankan Paulus, sebab dia mengulangnya hingga dua kali, ayat 17 dan 20.  Lebih lanjut tentang keadaan yang dimaksud, Paulus menjelaskan di ayat berikutnya:”Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu.  Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat.” Dengan ini sudah dapat tergambar bagaimana sikap rasul Paulus, ketidaksetujuannya dengan sebagian orang yang ingin memaksakan kehendak dan nilai yang dipegang kepada orang lain. 

Sebab entah bersunat atau tidak bersunat, bagi Paulus tidaklah penting. Yang terpenting baginya adalah mentaati hukum-hukum Allah, itu sudah. Menjadi hamba ketika dipanggil Allah, atau menjadi orang merdeka juga tidak teramat penting.  Sebab yang terpenting menurut Paulus adalah firman Tuhan dilakukan. Tentang hal ini dalih Paulus begitu jelas tergambar dalam dua paradoks kebalikan yang memiliki nilai mendalam: ”Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya.”   

Nilai-nilai lama yang mengemukan dalam bentuk sunat, hamba-tuan, merdeka-terkungkung, memang sulit, atau hampir tidak mungkin dihilangkan.  Sebab telah mengendap, membatu di dalam diri, hingga mempengaruhi tafsir nilai baru.  Namun Paulus dengan teramat bijak memaparkan perihal nilai-nilai parsial, nilai-nilai partikular itu dengan nilai-nilai yang lebih universal.  Nilai yang mengatasi, melampaui, dan mengayomi nilai-nilai carangan.  Apalagi kalau bukan nilai Kristus dan firman-Nya. Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top