1 Korintus

Kesempatan Menyelamatkan Pasangan (1 Korintus 7:13-16)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 20 October 2016 - 16:25 | visits : 394

Kembali Paulus menegaskan posisinya, bahwa”aku, bukan Tuhan”(7:12), karena itu, jikalau di kalimat selanjutnya dia kemudian berpendapat tentang sesuatu, maka ia tidak sedang dalam posisi menghakimi, atau penentu akhir.  Sebab hal itu adalah sebesar-besarnya wewenang Allah.  Dalam sikapnya ini Paulus menunjukkan tentang sebuah persoalan, yang boleh jadi cukup pelik, tentang kawin campur, tentang cemarnya kekhususan Israel, karena mempersunting perempuan lain atau suami dari bangsa lain.  Jikalau menyoal perihal ini dalam konteks kekudusan Israel di masa lalu, maka sudah dapat dipastikan percampuran itu merupakan tindakan dosa, dan kekejian di mata Allah.  Hukuman, sudah pasti akan ada di depan, permohonan ampun perlu segera diminta daripadanya, dan pemisahan (perceraian) pasangan yang tak sepadan, kemungkinan besar harus.  Jika dilihat dari sudut Perjanjian Lama, pemisahan itu tidaklah berlebihan, sebab dengan menikahi orang di luar Israel akan memberi ruang besar untuk berpaling muka, keluar, membelakangi Allah dan mengarahkan diri ke ilah lain. 

Namun di era selanjutnya, seiring perluasan dan penyebaran kekristenan di luar Yahudi, ada hal-hal lain yang mungkin saja dapat dipertimbangkan.  Namun sekali lagi, ini bukanlah final, dan Paulus telah menegaskan sebelumnya, bahwa dia bukanlah Tuhan, finalitas dari segala etika dan hukum.  Sehingga perceraian dalam pernikahan antara orang yang beriman dan tidak beriman, bila dimungkinkan, seyogiyanya tidak dilakukan.  Ada dalih Paulus tentang hal ini.  Sebab, kata Paulus, suami/ istri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya/ suami yang sudah beriman. “Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak  kudus”(7:14), tegas Paulus.  Pengudusan di sini bukanlah bersifat otomatis, tapi lebih kepada sebuah kesempatan untuk menjadi. Istri menguduskan suami mengandaikan sebuah kondisi rumahtangga, di mana pasangan yang sudah percaya akan terus menerus berdoa, agar Tuhan bermurah hati memberi dia (pasangan belum percaya) kesempatan, untuk berjumpa dengan Yesus secara pribadi.  Menguduskan juga berarti menunjukkan kasih Ilahi, dalam perkataan dan perbuatan kepada pasangan yang belum percaya.

Pengudusan terhadap pasangan yang belum percaya bukanlah sesuatu yang pasif diterima, tetapi lebih kepada panggilan Allah dalam hidup pernikahan untuk bergerak dan melakukan sesuatu.  Kesadaran akan pernikahan sebagai panggilan Allah seperti ini niscaya akan membawa banyak keluarga Kristen terselamatkan dari perceraian.  Bukan tidak mungkin keselamatan pasangan yang belum percaya itu akan menggunakan pernikahan tersebut sebagai jalannya. 

Kendati demikian, jikalau pasangan yang tidak seiman itu minta bercerai, maka Paulus, dalam hal ini tidak dapat memaksa:”biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari (yang sudah percaya) tidak terikat.”.  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top