1 Korintus

Hal Perceraian

Author : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 20 October 2016 - 16:23 | visits : 396

Ada begitu banyak tafsir tentang perceraian.  Dari yang keras hingga lentur.  Bahkan tak bertenaga sama sekali pun ada.  Dalam kepelbagaian tafsir pastilah ada latar, ada pengalaman tertentu orang, atau komentator yang mengarahkan dia pada kecenderungan tertentu.  Baik yang keras pun yang loyo. Pengalaman, lingkungan dan pergumulan teologis yang ditemui dan alami, yang mengkristal, membentuk satu pola dan nilai tertentu, yang kemudian mempengaruhi orang dalam menentukan kecenderungan.  Kristalisasi konsep yang menjadi bilai menjadi semacam prasuposisi orang dalam menilai sesuatu.  Ini tidak dapat dipungkiri dan nafikan begitu saja.  Kendati teks suci berkata “A”, orang dapat saja tetap kekeuh dengan pilihan “B”, lantaran nilai yang dipegang, yang menjadi praanggapan memandang “B” sebagai sebuah keutamaan.   

Menyikapai tulisan Paulus dalam 1 Korintus 7:10-11, ini pun tidak jauh berbeda.  Paulus yang mengawali ulasan tentang perceraian dengan kalimat tegas dengan mengatakan:”Kepada orang-orang yang telah kawin aku--tidak, bukan aku, tetapi Tuhan--perintahkan,…” (7:10), masih saja dapat ditafsir, pandang dan nilai berbeda. 

Di sini ada hal yang perlu Paulus ingatkan dan tekankan lagi secara tersirat soal pernikahan.   Bahwa pernikahan itu kudus.  Pernikahan sejati bukan saja soal ikatan janji antara dua orang berbeda kelamin. Bukan pula soal perayaan atau ragam, tata cara yang dilakukan, entah menurut tradisi, suku bangsa, budaya, maupun kelas sosial. Pernikahan itu adalah sesuatu yang kudus dari Allah, yang olehnya tidak diperkenan terjadi perceraian.  Senada dengan Paulus, atau boleh jadi menjadi rujukan Paulus, lugas betul Lukas menuliskan pernyataan Tuhan Yesus:”Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah” (Luk 16:18).

Benar, meskipun larangan itu jelas, namun masih saja ada yang lantas melakukannya juga, tentu dengan serangkaian alasan atau dalih berbeda, dan memang ada banyak persoalan yang menjadi latar di balik perceraian.  Terlihat dari bagaimana Paulus memberikan rujukan sikap atau tindakan yang dapat dilakukan, jika hal itu kemudian terjadi.  Ada dua pilihan yang Paulus usulkan, yakni: 1. jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami; 2. atau berdamai dengan suaminya. (7:11)

Dua pilihan sikap itu merupakan pertimbangan matang yang Paulus buat, mengingat struktur pernikahan yang ketat dan kudus itu.  Mungkin kitab Maleakhi dapat menjadi penjelasan tentang pertimbangan ini.  Kitab Maleakhi menyebut, bahwa:

  1. TUHAN (huruf besar/ YHWH) itu sendiri yang menjadi saksi dalam pernikahan (Mal 2:14)
  2. Istri adalah teman sekutu dan isteri seperjanjian. (Mal 2:14)
  3. Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh. (Mal 2:15)
  4. Sebab Allah membenci perceraian. (Mal 2:16)

Gambaran dalam kitab Maleakhi ini memberi penegasan, bahwa Pernikahan merupakan lukisan dari perjanjian antara Tuhan dengan umat. Tuhan sendiri yang menjadi saksi.  Perceraian terkandung arti penodaan kesaksian Allah atas pernikahan (keluarga).  

Meskipun perceraian adalah tindakan keliru, namun tidak berarti dapat dijadikan sebagai legitimasi orang untuk menjastifikasi, menghakimi yang tersandung telah melakukan. Sebab, dosa bukanlah soal kuantitas, tapi kualitasnya.  Dengan ini, siapa diantara kita yantg tidak berdosa? Siapa yang bersih sama sekali tidak melanggar ketetatapanNya?  Bukankah kita sama seja dengan Israel yang tergar tengkuk itu.  Yang gara-gara kawin campur dan perceraian, seperti disebut Maleakhi, maka TUHAN enggan berpaling dan menerima persembahan Israel.  Dan murkaNya pun siap menghampiri (Mal 2:10-16).

Namun demikian, tidak bijak juga jika orang tidak mewartakan apa yang telah ditorehkan dalam kitab suci perihal perceraian. Katakan “Ya”, untuk “Ya”, dan “Tidak” untuk “tidak”, tanpa berhasrat mengurangi atau mengimbuhinya.  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top