1 Korintus

Lagi, Soal Hidup Selibat (1 Korintus 7:7-9)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 20 October 2016 - 16:21 | visits : 383

Pada dasarnya hidup membujang bukanlah kesalahan.  Asal saja berlandaskan pada maksud dan motif yang tepat.  Pada dasar filosofi yang tak keliru, bukan pula asal pilih, apalagi dari ide filosofis yang tak selaras dengan kristianitas. Bukan tuduhan yang tanpa dasar, tapi konteks di Korintus kala itu memang bergelut dengan banyak pengajaran filosofis.  Beberapa diantaranya adalah seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, tentang “ekstrim kanan” ide filsafat Yunani yang kental dengan dikotomi materi dan materi.  Ajaran yang muaranya pada penyangkalan diri.  Meniadakan, menyangkali, dan menganggap rendah hal yang bermateri (tubuh) dan hal-hal lain yang terkait dengannya.  Tubuh dianggap bagian dari entitas kejahatan, yang olehnya perlu ditundukkan, termasuk hasrat dan nafsu yang timbul daripadanya. Termasuk menekan kebutuhan yang bersifat naluri, hasrat seksualitas.  Bukan itu alasan tepat dimaksud.  Dikotomi dari filsafat Yunani itu yang justru kemudian banyak menyesatkan umat di sana (Korintus). 

Dasar yang tepat juga bukan karena memaksakan diri atau dipaksa orang.  Tidak, tidak itu.  Sebab tidak semua orang memiliki penguasaan diri yang kuat.  Benar, terhadap pilihan hidup membujang, Paulus sebenarnya setuju-setuju saja.  Bahkan ia menganjurkan orang agar:”alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku”(7:7), memilih hidup selibat.  Tapi dia juga menyadari bahwa setiap orang memiliki karunia berbeda.  Setiap orang, kata Paulus, menerima karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.   Dalam konteks ini, tersirat Paulus memberi penegasan bahwa hidup selibat merupakan anugerah dari Allah, bukan pilihan yang dipaksakan, apalagi ikut-ikutan seperti dia (Paulus).  Lebih terang lagi tentang konsep hidup selibat, Matius pernah menuliskannya:“Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti." (Mat 19:12).  Di sini jelas, bahwa orang yang hidup selibat ada tiga kemungkinan.  Pertama karena lahir demikian; dijadikan demikian dan terakhir ada orang yang secara sengaja membuat diri demikian lantaran memiliki tujuan yang jelas, yakni Kerajaan Sorga.

Boleh jadi anjuran Paulus didasarkan pada pilihan ketiga, yang oleh karena pilihan itu, maka dampak Injil akan semakin besar. Sebab bukan keniscayaan bila orientasi pilihan yang datingnya dari Allah, maka akan bermuara pada karya dan hal khusus yang Allah pilih untuk orang itu kerjakan.   Sederhananya, bila pilihan hidup selibat itu didasarkan oleh karena dan oleh karunia Allah terhadap orang itu secara khusus, maka hampir dapat dipastikan orang itu telah dipersiapkan Allah untuk suatu tugas khusus, tertentu, yang kemungkinan besar akan sulit dikerjakan oleh mereka yang telah memiliki pasangan. Para penginjil, perawat di daerah terpencil, atau guru-guru di desa tertinggal, adalah beberapa contoh pembandingnya. 

Kepada mereka para janda-janda, atau orang-orang yang belum/tidak kawin, Paulus mengalamatkan anjurannya itu.  Refrensi, atau contoh untuk hal itu adalah dirinya sendiri. “baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.” (7:8), yang sebenarnya memiliki hak sama dengan para penginjil dan rasul lain untuk membawa istri dan keluarga, namun tidak dilakukannya.  “Tidakkah kami mempunyai hak untuk membawa seorang isteri   Kristen, dalam perjalanan kami, seperti yang dilakukan rasul-rasul lain dan saudara-saudara Tuhan dan Kefas?”( 1 Kor 9:5).  Lagi-lagi pilihan Paulus yang tidak popular ini jangan disalahpamahi, seolah-olah dia tidak sayang terhadap keluarga.  Bukan itu, tapi mengutamakan sebuah karya akbar yang raya, sesuatu yang besar dibanding kebutuhan dirinya, kebutuhan pribadi dan keluarganya. 

Perkataan Paulus tersebut bukanlan perintah yang wajib dan harus, karena pemaksaan atau dipaksakan bukan dasar yang baik.  Apa yang Paulus sampaikan merupakan usulan, anjuran yang tidak bersifat mengikat.  Dan jika ada orang yang memang tidak dapat menguasai diri, maka pintu terbuka lebar untuknya agar mensegerakan diri untuk menikah.  “Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.”(7:9). Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top