Mata Hati

POLITIK UANG DI GEREJA

Tue, 29 September 2009 - 14:54 | visits : 2636
Tags : Artikel Politik Politik
Pdt.Bigman Sirait
ISU politik uang sangat familiar di ranah politik, bahkan sudah menjadi bagian dari percaturan politik di segala lapisan. Arus uang telah dianggap selalu mewarnai tiap keputusan politis. Uang dinilai sangat strategis dan taktis sebagai alat, dan sangat erat kaitannya dengan kekuasaan dan kemudahan yang laris manis diperjualbelikan. Uang yang tak “beragama” telah menguasai umat yang mengaku beragama. Pilkada di beberapa daerah nyaris tak pernah lepas dari politik uang. Yang menang diisukan bermain uang, sementara yang kalah menggugat dengan setumpuk bukti versi mereka.
Maka tak heran jika kemudian banyak para pemimpin yang terjerat korupsi. Hitungannya sederhana, mereka telah merasa habis-habisan untuk memenangkan pemilihan, jadi supaya balik modal bahkan untung, ya cuma satu, korupsi. Bahwa rakyat terbengkalai, menjadi korban, siapa yang peduli. Tapi yang pasti, tak satu pun kasus seperti ini berakhir di pengadilan dengan putusan yang terang-benderang. Uang membuat yang jelas menjadi tersamar. Bahkan anak muda mengatakan, “Tau ah, gelap”. Ironi, tapi itulah realita politik yang kehilangan etika. Ucapan tak lagi bisa dipegang, karena bisa berubah cepat, dalam kecepatan tinggi pula.

Sekarang, kalau politik uang mewarnai perjalanan gereja, bukankah itu sebuah kegelapan yang sangat menyedihkan? Gereja yang seharusnya menjadi garam dan terang sesuai panggilannya, berubah menjadi tawar dan gelap. Ternyata, sejak dulu, gereja sebagai institusi telah mengalami polusi panjang. Lihat saja perilaku para ahli Taurat yang berpolitik sesat. Begitu bernafsunya mereka untuk menyalibkan Yesus, yang dinilai telah menelanjangi borok mereka dalam pelayanan gereja. Yesus yang membongkar praktek gelap mereka dengan detail (Matius 23:1-36), soal kerakusan pada uang (ay.25), hingga kemunafikan dalam perilaku sebagai pemimpin agama (ay.27).

Para ahli Taurat, yang ternyata hanya ahli membicarakan Taurat, tapi sama sekali tidak ahli melakukan perintah Taurat itu sendiri. Lihat saja, bagaimana Injil menceritakan usaha mereka “membeli” Yudas dengan 30 keping perak. Politik memecah, dan memanfaatkan kekuatan dalam yang mereka lakukan sukses besar. Para ahli Taurat cukup cerdik mengenali orang yang bisa mereka beli. Berhasil membeli Yudas, mereka juga membeli saksi palsu yang memberatkan Yesus. Aturan Taurat tentang saksi, supaya bukan saksi dusta, mereka tabrak. Lagi-lagi ironinya ahli Taurat, tak berhenti mengadakan saksi yang berdusta, mereka menghimpun massa dan mencipta skenario bobrok, tak beretika. Wajarlah jika Yesus menyebut para ahli Taurat, bak kuburan berlabur putih yang dalamnya busuk tak tertahankan.

Tak berhenti di situ, maka untuk mendapatkan pengesahan hukum Roma, yaitu dengan target menyalibkan Yesus, mereka membawa kasus ini ke Pilatus. Lobi politik, dan tekanan massa dimanfaatkan maksimal oleh penggila kuasa ini. Hasilnya cukup mencengangkan, keputusan Pilatus berhasil mereka pengaruhi. Motto dunia hukum terabaikan, yaitu lebih baik membebaskan orang bersalah daripada menghukum orang yang benar. Ya, di sini, di keterlibatan para ahli Taurat, pemimpin agama, justru yang benar, bahkan sangat benar, dihukum dengan ganti yang salah. Barabas, narapidana kelas berat, dibebaskan tanpa syarat. Aroma tak sedap segera merebak. Bayangkan, nurani istri Pilatus masih berbunyi, sekalipun dia “asli” kafir. Dia gelisah dengan kasus Yesus dan meminta suaminya untuk tak mencampurinya, karena merasa yakin Yesus tak bersalah. Tapi ahli Taurat tak merasa tergugat, mereka yang merasa suci, umat pilihan, tetap saja dengan kebebalannya, membuat Yesus menjadi sasaran utama yang tak boleh meleset.

Di pengadilan yang tak adil itu mereka meraih sukses besar. Ya, mereka selalu sukses untuk berbuat jahat. Ironis, ahli Taurat sukses menjadi pendosa. Keputusan penyaliban Yesus sah sudah, legal secara hukum. Secara yuridis Roma Yesus terpidana, sekalipun de facto DIA benar seratus persen.

Sesudah penyaliban, kisah kebangkitan menjadi gegap gempita. Kebenaran tak lagi bisa dibantah, namun tetap saja, para ahli Taurat tak kekurangan siasat. Lagi-lagi dana dikucurkan, serdadu pun disuap (Matius 28:11-15). Ah, batin tersentak, ahli Taurat ternyata sangat jahat, politik uang tampak nyata di dalam “gereja”, institusi agama ternyata tak beda dengan institusi politik. Semua berpacu memuaskan nafsu, meraih kekuasaan dengan membeli “kepercayaan”. Doa, khotbah, ritual agama lainnya, ternyata ampuh sebagai baju penipuan. Uang menunjukkan taringnya mengatur pemuka agama, membeli atas nama agama.

Nyata sekali bukan, betapa busuknya para ahli Taurat di waktu lampau. Dan, jangan terkejut, jika kini ternyata penjahat “bertoga” tatap ada. Politik uang di “gereja” tetap berlangsung, jabatan kependetaan diperjualbelikan. Menahbiskan orang ber-uang menjadi trend, bahkan meminta mereka menjadi gembala. Hasilnya, tak lebih tak kurang, dijadikan sumber pendanaan. Belum lagi tarik-menarik kekuasaan di tingkat atas, di sinode. Politik uang juga bergulir di sini. Memilih pemimpin gereja, tak sedikit uang yang bergulir. Semua hanya untuk satu tujuan: memegang kendali, menguasai, dan dengan sendirinya ini bisa berarti uang, dan, sekali lagi uang.
Jika kemudian banyak gugatan dari jemaat pada umumnya, atau orang kaya yang sadar dimanfaatkan, tidaklah mengherankan. Gugatan berputar seputar isu peredaran uang dan kekuasaan pemimpin agama yang nyaris tak berbatas. Pemimpin “gereja” kebanyakan merangkap sekaligus, sebagai penguasa, pengusaha, bahkan pemilik “gereja”. Posisi basah, betapa menggiurkannya. Maka tak heran jika ada politik uang. Jika tidak bermaksud meraih kursi untuk diri, maka tak jarang pemimpin boneka pun dipasang.

Selamat datang di kegelapan “gereja”, tapi sekaligus selamat menjadi terang. Semoga Anda terbeban menelanjangi permainan uang ini, dengan menegur petinggi gereja atau menggugat secara proporsional. Semoga tak ada yang berlindung di balik kata kasih dan damai, sementara kejahatan terus berjalan. Selamat tak berpolitik uang, tapi pakailah uang untuk berbagi kasih dan mencipta damai.

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top