Ibrani

Rela Hati Ibrani 13:22

Author : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 17:10 | visits : 248

Ibrani 13:22

 

“Dan aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kata-kata nasihat ini kamu sambut dengan rela hati, sekalipun pendek saja suratku ini kepada kamu.”

Di penghujung suratnya penulis Ibrani menasihatkan agar penerima suratnya dapat menerima seluruh nasihat dalam suratnya itu dengan rela hati.  Mengingat suratnya itu pendek saja. 

“Rela”, bukan istilah biasa. Memiliki arti dan makna yang begitu mendalam.  Bicara tentang “rela” didalamnya dituntut pemenuhan terhadap sesuatu bukan sekadar berdasar bersedianya orang itu melakukan sesuatu, lebih dari itu, di sana juga dituntut adanya bentuk keikhlasan.  Ya, bersedia dengan ikhlas hati berarti tidak ada paksaaan di sana.  Tidak ada dorongan-dorongan berlebihan di sana, kalau tidak didorong pekerjaan tertentu tidak dilakukan.  Bicara tentang “rela hati” juga bicara tentang sebuah upaya aktif dan sensitifitas diri.  Dengan pengertian ini bisa dipahami bahwa Penulis Ibrani berharap agar penerima suratnya memiliki sensitifitas rohani pribadi.  Sehingga ketika mereka membaca pun mendengar nasihat dalam surat Ibrani, nuraninya secara mandiri dapat memberi dorongan terhadapnya untuk mau ikut, nurut dan manut dengan apa yang penulis Ibrani katakan dan nasihatkan.  Bukan karena dipaksa-paksa, tapi karena peimpinan Roh Kudus melalui nurani mereka, sehingga mau melakukannya. 

Kata “Rela” didalamnya juga terdapat  pengertian dapat diterima dengan senang hati tidak mengharap imbalan, dengan kehendak atau kemauan sendiri.  Ya “rela” berarti mau melakukan bukan karena ada pamrih, atau ada timbal balik yang menguntungkan diri sendiri, baru kemudian mau melakoni.  Tapi karena diri yang memang senang hati melakukan.  Artinya melakakuan sesuatu bukan dengan sungut-sungut, terpaksa melakukan.  Aspek senang hati dalam “rela” sangat penting.  Melakukan sesuatu dengan senang, disana akan nampak perbedaannya.  Kesungguhannya akan tampak nyata; Semangatnya akan muncul disana.  Dan hal itu akan berdampak terhadap hasil pekerjaan yang berkualitas tinggi, karena diri senang melakoni.  Dari pengertian ini penulis Ibrani berharap betul ada perbedaan signifikan dalam “rela” penerima suratnya memenuhi permintaan dan nasihatnya. Dalam “rela”nya bukan saja mau ikut atau nurut, tapi bergairah melakukan, bersemangat melakukan, karena kecintaannya, karena kesenangannya melakukan itu.  Dengan begitu hasilnya akan tampak nyata berbeda. 

Bahasa aslinya, kata “rela hati” di sini lebih dekat dengan kata kesabaran.  Kata Yunani “anechomai” didalamnya terkandung arti menahan, menanggung, menerima, sabar.  Hal ini menunjukkan bahwa apa yang penulis Ibrani nasihatkan bukan nasihat sembarang.  Kendati tulisannya singkat, pendek saja dalam suratnya, namun memiliki tuntutan yang sangat berat.  Dan penulis Ibrani sadar benar dengan hal itu.  Beratnya tuntutan dalam nasihatnya itu dia akhiri dengan nasihat agar melakukannya dengan sabar.  Tanpa ada kesabaran, orang akan mudah saja meninggalkan atau lari dari jalan nasihat yang diharapkan.  Dan bukan tidak mungkin malah lari dari padanya.  “Rela hati” di sana ada kesabaran melakukan, ada keberlanjutan dalam melakukan.  Bukan hanya di awal saja mau mengikuti, lalu selanjutnya undur diri.  Tidak, tidak itu. Tapi konsisten dan sabar melakoni.  Berat, itu pasti.  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top