Ibrani

Perjuangkan Iman Sampai Akhir (Ibrani 13:7)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 17:09 | visits : 182

“Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.” (Ibrani 13:7)

Ingatlah..! Dua kali dalam nasihatnya yang terakhir ini penulis Ibrani menulis kata itu.  Pertama ada di bagian Ibrani 13:3 yang berisi refleksi, sekaligus anjuran untuk simpati kepada orang tertindas, karena mereka sendiri pun pernah dan sedang tertindas.  Dengan demikian para penerima surat Ibrani itu bisa bersimpati sekaligus berempati dengan kondisi dan nasib orang dengan memposisikan diri dan merasai apa yang orang rasai, sehingga bisa berbuat sesuatu kepada mereka. 

Kedua kali penulis surat ibrani menggunakan kata “ingatlah” menunjuk kepada “pemimpin-pemimpin”.  Di sini dia tidak menyoal pamrih para pemimpin.  Tidak untuk melihat apa yang para pemimpin itu kerjakan terhadap mereka (penerima surat) sehingga perlu dibalaskan. Tidak, penulis Ibrani sama sekali tidak sedang menganjurkan hal itu, pun terhadap dirinya sendiri yang kemungkinan juga pernah melayani di tengah-tengah mereka.

“Ingatlah akan pemimpinmu”, penulis Ibrani mengajak para penerima dan pembaca suratnya agar mengingat hal-hal yang baik dari para pemimpin mereka, khususnya para pengajar Firman yang membaktikan hidup mereka bagi Injil dan melayani umat agar mendekat kepada Allah, bukan melekat pada pemimpinnya. 

Dari pernyataan yang ditulis oleh penulis Ibrani dapat dikecap bagaimana dia mengandaikan seorang pemimpin, khususnya mereka yang menjadi pewarta Firman memiliki kualitas yang jauh lebih baik.  Kualitas itu tidak hanya soal pengetahuan, seni retorika atau ilmu tafsir.  Tidak juga melulu soal gaya kepemimpinan dan penggembalaan.  Lebih dari itu adalah soal bagaimana para pemimpin itu hidup dan menjalani kehidupan ini.  Menjadi teladan dan panutan umat. Bukan hanya hari ini atau sekarang ini saja, tapi menghidupinya sampai akhir. Berbicara soal bagaimana menjaga diri tetap bersih; soal bagaimana memperjuangkan iman sampai akhir hayat. 

Bukan soal mudah.  Beriman dan percaya di hari ini tidak sama dengan bisa menghidupi dan menjalaninya hingga akhir nanti.  Ada begitu banyak orang yang mendapat kesempatan untuk mengenal Tuhan, tapi kemudian menghilang di tengah jalan.  Sama halnya dengan yang sedang dialami oleh para penerima surat Ibrani.  Tak tahan hidup ditekan karena iman, mereka ingin meninggalkan percayanya kepada Tuhan dan kembali ke iman lama.  Untuk itu penulis Ibrani kembali menganjurkan agar penerima suratnya mengingat kembali teladan para pendahulu mereka, para pemimpin mereka yang telah berjuang sampai akhir.   

Bagian ini menarik untuk dicicip maknanya.  Betapa teladan guru-guru Firman itu patut diapresiasi dan ikuti sampai saat ini.  Betapa guru itu memang harusnya bisa “digugu” dan “ditiru”; harus bisa menjadi panutan dan teladan bagi orang yang dibimbingnya.  Menghidupi imannya hari demi hari, ditunjukkan dengan menjaga dirinya tetap benar dihadapan Allah.  Dan itu bukan satu atau dua kali; tapi terus-menerus sepanjang hari sampai tubuh ini kembali menjadi debu, tanda jiwa tak lagi melekat di dalamnya.  Semoga!  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top