Ibrani

Antara Pengorbanan Dan Ekspresi Iman Ibrani 13:2

Author : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 17:09 | visits : 216

Ibrani 3:2

Di Bagian penutup Surat Ibrani ini Penulisnya berusaha menuliskan pesan-pesan penting bersifat praktis.  Sesuatu yang berkaitan dengan “Kemurahan Hati”, yang  diharapkan tidak lupa dikerjakan oleh penerima suratnya.  Apa saja hal-hal praktis tersebut?  Salah satunya sudah diurai minggu lalu, yaitu tentang “memelihara kasih persaudaraan”.   Selanjutnya Penulis Ibrani menyarankan hal lain yang lebih konkrit lagi untuk dapat dilakukan, yaitu agar: Tidak lupa memberi tumpangan kepada orang.

Memberi tumpangan memang sesuatu yang sepertinya sederhana.  Tapi dalam konteks ayat ini dan dikaitkan dengan konteks Ibrani, hal ini menjadi sesuatu yang tidak sesederhana seperti yang orang bayangkan. Mengapa demikian?  Pertama, kata “orang” dalam Ibrani 13:2 itu idak merujuk kepada komunitas orang yang sama; tidak merujuk pada orang-orang dalam atau satu suku dan budaya yang tentu saja akan lebih mudah memahami dan dipahami.  Tapi merujuk pada “orang asing” yang sama sekali berbeda dengan mereka (penerima surat Ibrani).    Persoalannya menjadi tidak sederhana, karena di dalam budaya Yahudi sendiri – merupakan latar sosial dan budaya penerima surat Ibrani – orang diluar suku mereka dianggap sebagai “warga kelas dua”.  Sebagai seorang yang sudah diubahkan kehidupan spiritualitasnya hal itu seharusnya menjadi sesuatu yang mudah dikerjakan.  Tapi bagi orang yang sejak lama dicekoki dengan nilai esklusivitas “keliru” ala Yahudi, tentu saja tidak mudah melepaskan nilai penghakiman terhadap orang asing tersebut.  Benar, sejak dalam PL pun sudah diatur bagaimana orang Israel harus bersikap terhadap orang-orang asing.  Bagaimana Orang Israel tidak boleh menindas mereka (Kel 22:21; 23:9; Im 19:33-34).  Bahkan lebih daripada itu orang Israel harus mengasihinya (Ul 10:19).  Namun dalam praktiknya orang asing justru didiskriminasi dan dianggap tidak selevel dengan Israel.  Karena itu memberi tumpangan kepada orang asing, merupakan bentuk “pengorbanan” tersendiri bagi umat Yahudi. 

Kedua, akan jauh lebih baik menerima seorang asing, memberi tupangan kepadanya, jika tuan rumahnya sendiri berkecukupan sehingga dapat menjamu orang-orang asing itu.  Tapi nyatanya kondisi ekonomi penerima surat Ibrani sendiri sedang terpuruk.  Betapa tidak, bukan saja tertindas dan terdiskriminasi secara sosial, para penerima surat Ibrani juga terisolasi secara ekonomi.  Sehingga menyulitkan dan tidak bisa memberikan hospitalitas yang maksimal kepada tamunya.  Alih-alih untuk tamu, untuk sendiri pun sudah kesusahan. 

 Jika ayat 13:2 dilihat secara negatif, “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang”, sepertinya mengindikasi bahwa para penerima surat Ibrani itu alpa atau setidaknya menganggap sepi tugas mulia memberi kasih kepada orang lain itu.  Tentu saja bisa dengan aneka macam dalih dan permakluman kondisi diri dan sosial penerima surat Ibrani.  Untuk itulah penulis Ibrani memberikan satu dorongan positif kepada para penerima surat Ibrani itu agar lebih aktif lagi melakukan perberbuatan baik itu.  Sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.  Mengingatkan pada peristiwa TUHAN menampakkan diri kepada Abraham di dekat pohon tarbantin di Mamre. Lalu Abraham berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka memberikan meramahan kepada para tetamunya (Kej 18:1-33; 19:1-3).  Dengan menyitir atau mengingatkan kembali kisah yang pernah dialami oleh Bapa Iman mereka, Abraham, penulis surat Ibrani berharap penerima suratnya dapat mengambil hal positif dari kisah itu, sehingga dapat menjadi pemantik dan pemotivasi diri dalam berbuat kebaikan, khususnya memberi tumpangan kepada orang asing.  Dengan demikian bukan saja sudah memenuhi kewajiban kemanusiaan, tapi juga memenuhi tuntunan kitab suci tentang bagaimana bersikap kepada orang asing.  Dan kalau Tuhan berkenan, tindakan yang amat baik itu bisa membawa berkat spiritual bagi keluarga mereka, seperti apa yang Abraham sudah rasakan di waktu yang lampau. 

Bagian surat Ibrani ini kiranya bisa ditarik menjadi permenungan atau refleksi bagi diri, sekaligus pendorong bagi diri untuk mengekspresikan iman ditengah situasi yang bahkan sesulit apapun.  Iman tidak hanya dinikmati tapi juga diwujudnyatakan, sehingga orang boleh merasakan.  Dengan begitu bukan yhany orang yang diberkati, tapi juga diri, khususnya berkat spiritual yang berpengaruh besar terhadap kualitas spiritual seseorang.  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top