Ibrani

Jangan Jauh Dari Allah (Ibr 12:15)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 17:09 | visits : 191

Jangan jauh Dari Allah

”Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar  yang pahit  yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.” (Ibr 12:15)

Menderita karena Kristus, itu memang seharusnya.  Karena Kristus sendiri pun mencontohkannya.  Paulus bahkan merasa amat sangat berbahagia ketika diberikesempatan untuk merasakan penderitaan karena Tuhan.  Ya, menderita karena Tuhan, dan bukan karena diri.  Jika penderitaan itu ada lantaran kesalahan dan kelalaian diri maka tak perlu berbahagia. Introspeksilah yang justru diperlukan. 

Benar, kadangkala Allah memang memakai penderitaan sebagai alat uji bagi iman kita.  Untuk alasan ini orang boleh saja bermegah setelah melewatinya, karena Allah telah menolong dia melalui ujian iman yang berat.  Tapi tidak semua penderitaan adalah alat uji dari Allah.  Boleh jadi penderitaan yang dialami adalah bentuk penghukuman Allah atas kesalahan kita. 

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana orang bersikap ketika menghadapi penderitaan hidup, baik karena kesalahan diri, dihukum Allah agar menyadari kesalahan diri, atau pun penderitaan karena ujian dari Tuhan.  Salah satu hal yang penulis Ibrani sarankan adalah menjaga diri agar penderitaan jangan sampai membawa kita menjauh dari Allah.  Jangan sampai penderitaan membuat kita menjadi putus asa dan masa bodoh, karena merasa tidak lekas ditolong keluar dari penderitaan.  Mungkin ini yang dialami oleh penerima surat Ibrani.  Beratnya penderitaan yang dialami lantaran iman mereka, membuat mereka memilih untuk menjauh dari Allah.  Menjauhkan diri dari kasih karunia Allah.   Sesuatu yang sangat memprihatinkan.  Alih-alih menjadikan penderitaan sebagai pemantik untuk mengintrospeksi diri, respon penerima surat Ibrani justru sangat ofensif.  “Melawan” Allah dengan mengingkari iman mereka terhadap-Nya. 

Tindakan menjauh dari Allah tentu sangat berbahaya.  Bukan saja membuat orang menjadi masa bodoh dengan kondisi spiritualnya, tapi juga tersimpan akar pahit terhadap Allah dalam dirinya. Makna literal dari “Akar Pahit” adalah akar yang dipakai untuk obat penyakit sesak napas atau asma; Cyclea laxiflora.  Tapi “akar Pahit” yang digunakan di ayat ini bermakna akar; turunan; asal-usul, atau penyebab  dari kepahitan perasaan dengki dan sakit hati.  Menunjuk kepada jiwa dan sikap yang ditandai dengan kebencian dan kemarahan yang mendalam.  Sikap dendam yang hebat yang ditujukan justru kepada Allah lantaran didikanNya melalui penderitaan, atau lantaran merasa Allah abai terhadap penderitaan yang dialami. 

Bahaya dari “akar Pahit” tidak hanya berdampak terhadap diri.  Jerat kuasanya jauh lebih luas dari itu.  Akar pahit dapat menyebar dan mencemarkan banyak orang, membuat umat saling menghancurkan kekudusan dengan saling “mempengaruhi” dalam arti negatif.  Dengan demikian bukan hanya diri yang hancur, tapi juga jemaat dalm arti keseluruhan.

Lalu bagaimana caranya agar umat tidak jatuh kedalam akr pahit.  Salah satu caranya seperti apa yang penulis Ibrani sarankan, yakni dengan saling menjaga diantara jemaat.  Jangan sampai satu diantara jemaat menjauh dari persekutuan; menjauh dari kasuh karunia Allah.  Dengan saling menjaga diantara umat, entah dalam keadaan senang atau sedih; menderita atau sukacita, bukan lagi suatu masalah.  Sebab semua saling mendukung; sebab semua ada dalam satu lindungan anugerah Tuhan.  Dengan demikian iman mereka tetap terjaga. 

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top