Ibrani

Lihat Dan Paksa Diri Melakoni (Ibrani 12:14)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 17:09 | visits : 189

(Ibrani 12:14)

“Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.” (Ibr 12:14)

Dua ulasan sebelumnya mengetengahkan tentang bagaimana Allah kadangkala memberi “ganjaran” umat yang dikasihiNya.  Bukan sebagai hukuman, tapi lebih menunjukkan didikan dari seorang Ayah kepada anaknya.  Sehingga ganjaran yang sering dirasa berat oleh umat itu an sich adalah bentuk “kasih sayang” Allah dalam bentuk yang berbeda.  Seolah memberi pagar bagi umatNya untuk tidak terjerumus lebih dalam lagi. 

Selanjutnya, di bagian ayat ini ada kesan kuat dari penulis surat Ibrani dalam memberi awasan, mewanti-wanti umat agar jeli melihat “ganjaran”.  Apakah hal itu benar-benar adalah bentuk lain dari didikan Tuhan demi membentuk mental dan iman yang lebih dewasa.  Atau sebenarnya itu adalah konsekuensi atau dampak dari tindakan salah dan dosa umat sendiri yang langsung terasa saat itu juga.  Dalam makna yang tersirat  penulis Ibrani memberikan beberapa hal berikut sebagai alat uji. 

  1. Relasi Horizontal

“Berusahalah hidup damai dengan semua orang….”  Bagian ayat ini seperti memberi gambaran kepada penerima surat Ibrani agar menliki ke dalam diri, jangan-jangan ganjaran yang meraka dapat dan rasakan bukan karena didikan, tapi karena sikap dan kelakuan mereka sendiri yang tidak menjadi berkat.  Sikap seperti apa? Sikap kebalikan dari pernyataan tersebut,  yakni sikap yang bermusuhan dengan banyak orang.  Tersirat penulis Ibrani seperti mengarahkan umat untuk belajar melakukan otokritik terhadap diri, dan jangan terlena dengan kesesakan yang dirasa sebagai bagian dari pembentukan iman.  Dengan bersikap demikian penerima surat Ibran dapat segera mengidentifikasi tentang kesesakan yang dirasakan oleh diri. 

Selanjutnya, kata “berusahalah” di sini bukan sekadar sebuah ajakan, tapi bisa lebih dimaknai sebagai sesuatu desakan.  Hal ini terlihat jelas dari penggunaan kata “berusahalah” dalam bahasa aslinya, menunjukkan sebuah kondisi yang penting untuk segera dilakoni dan aktif dicari.  Kata yang dipakai adalah “diwkete”, dari kata dasar “dioko” yang bermakna (menganiaya, mengejar, berusaha).  Menunjuk kepada sebuah tindakan aktif yang sedang dan akan terus dilakukan. Sebuah tindakan yang “menganiaya” (mencambuk) diri, mengejar dan berusaha keras, dalam konteks ini adalah untuk hidup damai dengan semua orang.

Hidup damai di sini tentu saja bukan berarti mengejar damai atau kedamaian dengan menjadi sama atau serupa dengan orang sekitar, sehingga, kalau sudah sama tidak perlu ada perbedaan yang bisa memicu perselisihan.  Tidak-tidak demikian.  Yang dimaksudkan disini adalah sebuah upaya diri untuk menghadirkan tindakan-tindakan damai sejahtera. Hal ini dekat dengan apa yang Paulus tulis dalam Roma 14:19 “Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.”  Dengan memaksa diri mengejar damai sejahtera yang berguna bagi diri dan orang lain, niscaya terhindar pula dari kesulitan-kesulitan sebagai dampak buruk kebalikannya.  Namun demikian, kalau diri sudah berusaha mengejar damai sejahtera; diri berusaha menjaga agar hidup dalam kondisi damai yang ditandai dengan bergunanya diri bagi liyan dan hidup saling membangun, namun tetap mengalami kesulitan, mungkin saja itu adalah sebuah kesempatan Allah untuk mendidik umatNya.  Slawi

 

 

 

 

 

 

 

Relasi Vertikal

menkeberdosaan seseorang karena

 

 

yang berat  bagian

Ayat sebelumnya berbicara tentang

Untuk itu, menyikapi beratnya ganjaran dan didikan oleh Allah, baik kepada penerima surat Ibrani, pun kita di masa kini adalah dengan menjaga diri tetap kuat, bertahan dalam gandengan Allah.  Tidak membiarkan diri berjalan dalam lemah gontai lantaran lutut yang  goyah (12:12).   Tapi berjalan tegak dengan berusaha sekuat tenaga untuk meluruskan  jalannya kaki.  Sehingga kaki yang pincang pun sebisa mungkin jangan terpelecok, tetapi menjadi semakin sembuh, kaki  menjadi lebih kuat, dan jalannya tidak gontai.  Sebuah gambaran dari penulis Ibrani tentang betapa sulitnya tetap berada dalam dan bersama Tuhan,  Untuk tetap tegak berdisi bersama Dia.  Namun niscaya itu sebua tidak sia-sia.  Slawi

 

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top