Ibrani

Tetap Beriman, Walau Susah (Ibrani 12:1-3)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 17:08 | visits : 169

 

(Ibrani 12:1-3)

Metafor awan sangat tepat digunakan penulis Ibrani dalam menggambarkan saksi-saksi iman.  Seperti awan yang tidak hanya jumlahnya sangat banyak, tapi awan juga ada di sekitar kita (12:1).  Begitu juga dengan saksi-saksi iman.  Sehingga tidak ada dalih orang untuk  meminggirkan fakta itu.  Saksi-saksi iman selalu ada dari zaman ke zaman. Perikop sebelumnya penulis kitab ini pun sudah menyitir banyak teladan iman dari zaman Perjanjian Lama, dengan ekspresi dan bentuk yang berbeda-beda.  Bahkan dalam ketiadaan, dalam “ketidaksempurnaan” atau dalam ketidaksinkronana dengan pengharapan, iman itu tetap nyata dan ada.

Jika saksi iman sudah ada dan selalu hadir di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang, lalu bagaimana respon orang menanggapi hal ini.  Apa respons yang ingin penulis kitab ini harapkan kepada penerimanya.  Salah satu respons paling mendasar dan mula, adalah menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi (12:1).  Caranya dengan tidak lagi terikat kepadanya.  Caranya dengan tidak lagi mengikatklan diri pada aturan lama yang sesungguhnya untuk menunjukkan tentang keberdosaan manusia.  Caranya dengan berlomba-lomba,  dan dengan tekun menghidupi iman tersebut dengan bertindak baik dan bajik, layaknya sebuh perlombaan yang  wajib diikuti dan selesaikan.  Disini tentu saja ada aspek keaktifan.  Ya, aktif melakukan dan bukan menunggu untuk bisa mendapatkan. 

Dalam perlombaan pun bukan melulu tujuan akhir yang ingin dikejar dan dapatkan.  Bukan melulu soal soal bagaimana orang dapat memperoleh apa yang dijanjikan dan inginkan di akhir nanti, tapi soal bagaimana menghidupi perlombaan itu.  Soal bagaimana orang fokus kepada arah yang benar dalam menuju finis.  Sooal bagaimana orang tetap ada dilintasan yang benar, dan bukan melenceng jauh dari lintasan atau membuat jalan potong sebagai lintasan sendiri.  Untuk sampai akhir perlombaan iman dengan baik, yang perlu dilakukan adalah memfokuskan diri dan arah pandang hanya kepada Yesus (12:2).  Sebab Dialah, Kristuslah yang memimpin  orang dalam iman, dan yang membawa iman itu kepada kesempurnaan. 

Bukan dengan cara yang gampang, karya keselamatan itu dia tanggung dengan pengorbanan yang besar.  Dengan mengabaikan kehinaan, meski Dia Allah yang Mulia; Rela memikul salib tanda pendosa, walaupun Kristus sendiri adalah Suci adanya.  Alkitab juga mencatat, meskipun Kristus dicobai, namun Dia tidak berbuat dosa. Pengorbanan itu dilakukan demia umat yang dikasihinya.  Membebaskan status keberdosaan mereka, sehingga dilayakkan untuk mendapatkan anugrah keselamatan.  Pengorbanannya untuk menebus manusia tidak hanya ada ditingkat itu saja.  Dia yang adalah Raja, rela menanggung bantahan, penghinaan dan hujatan yang begitu hebatnya, dari orang-orang berdosa, yang sesungguhnya dosanya ditanggung oleh Dia. 

Penderitaan dalam menghidupi iman seringkali memang ada dan muncul kapan dan dimanapun dan zaman apapun.  Hal sama juga dialami oleh para tokoh iman sebelumnya.  Pun Kristus sendiri, Allah yang rela mengambil rupa manusia, berkorban begitu besar bagi manusia utnuk menanggung dosa mereka.  Dengan mengarahkan pandang pada Kristus yang rela menderita, penulis Ibrani berharap agar penerima suratnya tidak menjadi lemah iman dan putus asa, tapi sebaliknya mereka dikuatkan.  Sebab ada hal besar dibalik penantian akan masa mendatang.  Ada sesuatu anugrah besar yang niscaya akan dimiliki di kekekalan nanati, karena setia dan tekun menghidupi iman, meski dalam keadaan susah dan payah.  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top