Ibrani

Menuju Penggenapan Iman (Ibrani 11: 28-40)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 17:08 | visits : 185

(Ibrani 11: 28-40)

 

Ayat 28 sampai ke 40 dari pasal 11 kitab Ibrani ini berisi runutan tindakan-tindakan iman yang diungkap kembali oleh penulisnya untuk menunjukkan bagaimana orang yang beriman tidak otomatis hidupnya berjalan mulus seperti apa yang penerima surat Ibrani harapkan.  Mereka memilih undur iman hanya untuk alasan keselamatan diri. 

Runutan tindakan iman merupakan lanjutan dari ayat 1-27 yang berisi kurang lebih hal-hal serupa.  Yaitu bagaimana para tokoh iman itu dikatakan benar bukan lantaran mereka benar, tapi karena kebenaran Allah dalam diri mereka yang diteguhkan dalam tindakan.  Tindakan itu tak selalau “berhasil” atau sukses seperti yang orang dunia tanggapi.  Banyak diantara mereka justru meninggal sebelum janji Allah yang pernbah dikatakan kepada mereka genap terpenuhi.  Tapi bukan berarti mereka batal menerima janji itu, atau Allah yang berjanji alpa dengan janjinya.  Lebih jauh dari ukuran sukses dunia, para tokoh iman itu diberikan suatu kesadaran besar dari Allah untuk mengecap sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekjadar berkat dunia.  Itu sebabnya dari bagian ini (28-40) ada begitu banyak contoh tindakan iman yang mengarah pada sesuatu yang betul-betul belum pernah ada dan terjadi.  Sesuatu yang tidak pernah dipelajari sebelumnya.  Mereka melakukan itu karena diberi kesadaran yang baik tentang pemeliharan Allah.  Karena itulah Musa  mengadakan Paskah dan memercikan darah, supaya anak-anak sulung mereka (Ibrani) jangan tersebtuh oleh penghukuman Allah atas Mesir  (28)

Karena iman hal-hal besar, mujizat-mujizat spektakuler dinyatakan.  Bagaimana Israel melintasi Laut Merah yang luas dan dalam itu seperti melintasi tanah kering (29); bagaimana tembok-tembok Yerikho yang terkenal kokoh itu akhirnya roboh di tangan Allah.  Di sini bukan soal cara merobohkannya, atau soal bagaimana “cara” musa membelah laut, tapi soal ketundukan (iman) mereka terhadap perintah Allah, sehingga melakukan hal-hal tersebut.

Bukan hanya hal-hal yang spektakuler, tapi juga hal-hal biasa yang dilakukan sebagai bentuk ketundukan, bentuk ketakutan (positif), bentuk Pengakuan kebesaran Allah dalam bentuk hal-hal yang terkesan remeh, seperti yang dilakukan Rahab, perempuan sundal yang telah menyambut para pengintai-pengintai (Israel) itu dengan baik, sehingga tindakan (imannya) itu pun diperhitungkan Allah, membuat dia tidak ikut dibinasakan (31).  Dan masih banyak lagi hal-hal atau tindakan (iman) lain yang begitu agung untuk dikisahkan kembali.  Ada yang spektakuler, ada pula yang biasa saja.  Ada mujizat yang besar terjadi, ada pula mujizat yang diharapkan pun tidak terjadi.  Tapi menariknya Allah sang pemberi iman memberikan kekuatan dan kesadaran untuk mengerti maksud dan rencananya dibalik itu semua.  Allah memberkati Ibu yang besar harapannya agar anaknya tidak mati dan tetap berada dekat dia, karena itu satu-satunya harta yang dimiliki dan tempat bersandar di hari tuanya.  Kepada orang demikian Allah pernah menunjukkan mujizat5 besar kepadanya, sehingga anak itu hidup kembali (35).  Tapi kepada yang lain Allah tidak melakukannya.  Tapi diberikan suatu berkat yang tidak kalah besar dari mujizat kebangkitan, yaitu sebuah kesadaran diri, sebuah pencerahan dari Allah, sebuah kekuatan yang maha besar untuk “menikmati” penderitaan atau aniaya, dengan membiarkan dirinya disiksa.  Bahkan tidak sedikit diantaranya yang tidak mau menerima pembebasan, supaya boleh mendapatkan kebebasan sejati, pembebasan dari Allah dalam kebangkitan sejati (35).  

Ada pula yang diejek dan didera,  bahkan yang dibelenggu dan dipenjarakan (36), dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang, terisolasi (terdiskriminasi) dari lingkungan sosial, membuat mereka harus mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing  sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan (37).  Dari bagian ini penulis Ibrani seperti menunjukkan kepada penerima suratnya, bahwa bukan hanya mereka yang merasakan penderitaan dan aniaya dan kehilangan sanak keluarga.  Di masa lampau, kitab suci pun mencatat bagaimana kemartiran tokoh-tokoh iman itu.  Namun bukan berati penderitaan dan aniaya bisa dijadikan dalih untuk undur iman.  Tapi penderitaan dan aniaya semestinya bisa menjadi pemantik bagi diri untuk memahami berkat yang jauh lebih besar, kenyamanamn dan keamanan yang jauh lebih besar dari yang disediakan dunia.  Kesejahteraan yang kekal dan tidak sementara.  Sehingga, meskipun mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan  itu, namun mereka tetap beriman kepada Allah, dan percaya pada janjinya.  Imannya adalah kesaksian terhadap berkat itu sendiri (39).  Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang jauh lebih baik mereka dan kita.  Sehingga pada saat kematian dan kebangkitan Kristus terjadi, pahlawan iman di perjajnjian lama itu memperoleh keselamatan yang sempurna, menerima warisan sepenuhnya bersama dengan kita di dalam Kristus (40).

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top