Keluaran

Keluaran 21:1-36 Tentang Hak Budak Ibrani & Peraturan Tentang Jaminan Nyawa Sesama Manusia

Author : Pdt Nikodemus Rindin | Sat, 28 October 2017 - 10:06 | visits : 384

Ringkasan Pendalaman Alkitab

Materi  PA          : Keluaran 21:1-36

Topik                    : Tentang hak budak Ibrani & Peraturan tentang jaminan nyawa sesama manusia

Narasumber       : Pdt. Bigman Sirait

Setelah bangsa Israel menerima, sepuluh hukum maka ada konsekuensi hukum yang diberikan Allah kepada mereka berkaitan dengan hari Sabat.  Ternyata hari Sabat itu ada kaitannya dengan masa kerja orang Ibrani, yaitu selama enam tahun kerja, lalu tahun ke tujuh boleh bebas dengan tidak membayar apa-apa (21:2).  Dalam perbudakan secara umum, maka kehidupan budak sampai mati pun adalah milik tuannya.  Peringatan ini perlu karena jangan sampai mereka memperbudak saudaranya, seperti mereka diperbudak di Mesir.   Pengalaman mereka yang cukup panjang diperbudak di Mesir, sangat mungkin membuat mereka mengadopsi cara perbudakan yang ada di Mesir itu.  Kalau orang itu datang seorang diri maka dia pulang seorang diri, bila budak itu mempunyai istri maka ia membawa istrinya pulang dengan dia (21:3).  Kondisi pulang sang budak sangat ditentukan oleh perlakuan sang tuan kepadanya.  Kalau dia diurus dengan baik, maka pulang dengan kondisi yang baik.  Bila tidak, maka mungkin saja dia pulang dengan keadaan yang bengkak. Karena itu maka sang tuan harus mempunyai rasa tanggungjawab  kepada budaknya.  Lalu, meski dia adalah milik tuannya tetapi apa yang dikumpulkan oleh budak, bukanlah milik tuan karena itu bolehlah sang budak membawa pulang miliknya itu. Hal ini sebetulnya mengambarkan suatu bentuk garansi terhadap budak Ibrani bahwa hak mereka pun diperhatikan.  Ini tata tertib yang membedakan antara orang Israel dengan orang Mesir dalam memperlakukan budak.  Sekaligus gambaran yang membedakan antara tata tertib hidup orang percaya dengan orang tidak percaya.

Hakekat cinta membuat budak sadar, kalau dia medeka dalam keadaan seorang diri tidak ada gunanya meski kepadanya telah diberikan hak kebebasan tetapi ia memilih untuk tidak mau keluar karena ia mau terikat dengan keluarga dan majikan yang sudah ada.  Ia bersyukur kepada manjikan yang sudah memperlakukannya dengan baik dengan memberikan seorang istri yang memberikan anak-anak dalam hidupnya (21:4-5).  Dan adanya hubungan yang baik diantara mereka.  Dalam hal ini sang budak berada dalam kondisi yang terjamin dan aman seumur hidup, ini bukan dalam paksaan.  Bahwa kemudian apa yang dinyatakannya sebagai cinta dan setia, bukan berarti melegalitas keinginannya tetapi itu harus diperhadapkan kepada Tuhan sebagai hakim yang adil maka dibawalah ke pintu atau ke tiang pintu (simbol pernyataan sikap), 21:6.  Simbol ini menyatakan bahwa mereka datang kepada Tuhan dan keputusan Tuhan berlaku atas mereka dimana janji itu diucapkan.  Bukan hanya berjanji kepada tuanya tetapi juga kepada Tuhan. Bila satu orang dengan sadar membawa anaknya karena tidak mampu membesarkannya lalu diserahkan kepada tuannya, maka sang tuan harus memperlakukannya dengan sikap bertanggungjawab.  Jika tuan itu kemudian tidak menyukainya, ia tidak boleh menjualnya kepada bangsa asing tetapi haruslah tuannya itu mengizinkan itu ditebus oleh sesama orang Ibrani (21:7-8).  Jika tuan melihat budak perempuan ini baik, cukup cantik, lalu diberikannya kepada anaknya laki-laki maka haruslah tuannya memperlakukannya seperti anak-anak perempuan berhak diperlakukan (21:9).  Jadi bukan diperlakukan seperti budak yang hanya diperlakukan semena-mena, apalagi hanya untuk pemuas seksual, tentu tidak boleh demikian. Padahal konsep terhadap budak perempuan adalah untuk pemuas seksual manjikannya.  Dalam hal ini, tidaklah demikian.

Menariknya adalah dikatakan, jika tuanya itu mengambil perempuan lain lagi untuk menjadi istrinya, maka ia tidak boleh mengurangi kewajibannya; baik makanan, pakaian dan persetubuhan, (21:10). Ini menyingkapkan tata tertib hidup yang sangat menarik di era masa lampau.  Jikalau tuan  mengabaikan tanggungjawabnya dan mengingkari janji, maka dengan sendirinya janji itu gugur dan wanita itu harus diizinkan keluar dengan tidka membayar uang tebusan apa-apa, (21:11). Masuk kepada peraturan tentang jaminan nyawa sesama manusia.  Hukumnya adalah jangan membunuh, jika kamu membunuh maka kamu dibunuh, itulah hukumnya (21:12).  Karena kamu melanggar hukum, maka kamu dihukum. Yang menjadi persoalankan, kemudian ada orang-orang lain perang yang dibantai sampai-anaknya yang tidak dosa pun dihabisi semua, itu yang menjadi problem serius.  Makanya orang banyak tanya, katanya jangan membunuh, tetapi perang datang sampai anak-anaknya dibunuh semua.  Itulah yang perlu kita perhatikan dengan baik-baik, Tuhan Yesus pernah berkata, “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Matius 5:38-39). Paulus pun pernah berkata bahwa yang menjadi musuh kita bukan lagi daging dan darah tetapi roh di udara (Ef. 6:12).  Bukan orang itu yang harus kamu ambil nyawanya tetapi dosa di dalam orang itulah yang harus kamu kalahkan dari dia.  Kalau orang itu membunuh seseorang tidak disengaja tanpa ada niat, misalkan dia pegang pedang lalu ia terpeleset kemudian pedang itu jatuh tidak disengaja mengenai orang lalu orang tersebut mati ditangannya, maka kepadanya akan ditunjukan tempat untuk lari (21:13). Bila saksi tidak komplit, kurang dari dua maka dia boleh lari ke kota perlindungan.  Jika dia dibunuh orang ditengah jalan berarti Tuhan membunuh dia, tetapi bila dia selamat sampai tujuan berarti Tuhan selamatkan dia.  Nanti inilah yang disebut konsep penebusan yang dikerjakan Kristus dalam menyelamatkan kita.  Barangsiapa berlaku angkara, maka Tuhan tidak berkenan kepadanya sehingga harus dihukum mati (21:14).  Lalu siapa yang memukul ayah atau ibunya, pastilah ia dihukum mati (21:15).  Ayah dan ibu adalah simbol kehidupan.  Karena merekalah yang melahirkan.  Hormatilah ayah dan ibu, itu adalah rejeki hidupmu.  Jika kita memukul mereka maka hukumnya sangat serius, yaitu kematian. Kemudian, siapa yang menculik seorang manusia, baik ia telah menjualnya, baik orang itu masih terdapat padanya, ia pasti dihukum mati (21:16).  Kenapa? Karena sebetulnya ia telah mengambil hidup orang itu.  Ia mengambil hak hidup seseorang dengan paksa, entah ia jual atau simpan.  Padahal ketentuan budak sudah diatur, orang itu melamar sebagai budak kemudian tujuh tahun kemudian boleh bebas tetapi yang diculik ini adalah seumur-umur hidupnya mau dirampas.  Itu sebab dikatakan, “kasih minus hukum itu liar, tetapi hukum minus kasih itu legalistik”.  Maka kasih harus plus hukum, hukum plus kasih.  Kita boleh mengasihi tetapi harus ada hukum di sana.  Kita menghukum karena dia salah, bukan untuk mematikannya karena ada belaskasihan di dalamnya. 

Kalau ada yang bertengkar, meski tidak mati tetapi karenanya yang lain terpaksa berbaring di tempat tidur, orang yang memukul itu bebas dari hukuman jika yang terbaring itu bisa bangkit lagi hanya harus membayar ganti ruginya (21:19).  Kalau tuan memukul budaknya kemudian mati maka pastilah tuntutan itu dibalaskan kepada sang tuan, tetapi jika budaknya masih hidup sehari dua, kewajiban memelihara budak tidak hilang maka tidak dituntut belanya, karena budak itu adalah miliknya sendiri (21:20-21).  Kalau ada yang berkelahi lalu salah seorang mengenai seorang perempuan yang sedang hamil, sehingga keguguran kandungan (perempuan itu tidak meninggal) maka kepada mereka dikenakan gugatan denda sebanyak yang dikenakan oleh suami perempuan itu dan ia harus membayarnya sesuai putusan hakim.  Tetapi bila perkelahian itu membawa maut, maka nyawa harus digantikan (21:22-25).  Apabila mata seorang budak dipukul, giginya ditumbuk lalu matanya rusak atau giginya tanggal maka ia harus melepaskannya sebagai orang merdeka ganti kerusakan mata itu (21:26-27).

Kalau ada seekor lembu menanduk seorang sehingga mati maka lembu itu harus dilempari mati dengan batu dan dagingnya tidak boleh dimakan.  Tetapi pemiliknya bebas dari hukuman. Kenapa? Tidak serta-merta kesalahan lembu bisa ditimpakan kepada majikannya. Namun bila lembu itu sudah berkali-kali menanduk orang, dan sang pemiliknya sudah diperingatkan tetapi ia tidak mau menjaganya maka lembu dan pemiliknya harus dilempari dengan batu sampai mati (21:28-29).  Binatang memang tidak tahu apa yang dilakukannya tetapi majikan tahu kebiasaan binatang peliharaannya.  Karena itu, jaga lembumu, biar tidak menanduk orang lain.  Jika dibebankan kepadanya uang pendamaian, maka haruslah dibayarnya segala yang dibebankan kepadanya itu.  Hukum yang sama juga berlaku bila seorang-anak lak-laki atau perempuan ditanduknya.  Tetapi jika lembu itu menanduk budak laki-laki atau perempuan lalu menimbulkan luka maka pemiliknya harus membayar tiga puluh syikal perak kepada tuan budak itu, lalu lembu itu harus dilempari mati dengan batu (21:30-32). Jika seseorang menggali sumur, lalu ia tidak menutup sumurnya sehingga seekor lembu atau keledai jatuh ke dalamnya maka pemilik sumur harus bertanggungjawab mengganti harga binatang itu dengan uang kepada pemiliknya, binatang yang mati itu menjadi kepunyaannya (21:33-34).   Azas legalitas di sini adalah bertanggungjawab atas budakmu, hidupmu, sesamamu dan hak milikmu.  Hukum taurat adalah basisnya, yang kemudian memunculkan implikasi-implikasi yang harus dikerjakan secara aktual kehidupan sehari-hari.

(Ringkasan PA ini belum diperiksa oleh Narasumber)

Comments


Group

Top