1KOR001 - Salam Pengingat Kekudusan (I Korintus 1:1-3)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Wed, 4 January 2017 - 10:38 | View : 537
Tags : 1 Korintus Kudus
holiness-love-grandeur.jpg

Related

TEKS: I KORINTUS 1:1-3

I.   PENGANTAR [INTRODUKSI]

Resah dengan sikap dan laku jemaat yang pernah dididiknya, Paulus tak tinggal diam.  Sementara sedang berada di suatu tempat, kemungkinan besar di Asia (1 Kor. 16:19), mungkin juga di Efesus (16:8), Paulus menulis surat yang pertama kepada jemaat di Korintus yang dikenal orang bunyinya cukup memerahkan telinga.  Berita tentang kondisi jemaat Korintus dibaca Paulus dari sepucuk surat yang dibawa oleh Stefanus dan dua orang kawannya (16:17 dan 7:1). Miris betul, jemaat yang dulu pernah dia didik secara langsung selama delapan belas bulan, kini mengalami degradasi moral bahkan iman.   Banyak orang Yahudi dan bukan Yahudi yang menjadi Kristen, buah pelayanan Paulus. Juga “Sekolah Alkitab” yang dibuat secara khusus untuk mereka, letaknya strategis dan mencolok karena berdampingan dengan rumah ibadat (Kis. 18:1-18), seperti tak berbekas. 

II.    PENGAMATAN [OBSERVASI]

1.    Siapa penulis surat 1 korintus ini? Siapa saja yang memberi salam? (1 kor 1:1)
______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________

2.    Seperti apa/ dengan sebutan apa penulis mengidentifikasi dan memperkenalkan dirinya? (1 kor 1:1) 
______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________

3.    Kepada siapa surat ini ditujukan? ? (1 kor 1:2) 
______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________

4.    Seperti apa / dengan sebutan apa penulis mengidentifikasi para penerima suratnya? (1 kor 1:2) 
______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________

 
III.   PENDALAMAN [INTERPRETASI]

1.    Mengapa Penulis Surat  1 Korintus mengingatkan tentang kekudusan di salam / awal suratnya? (1 kor 1:2)
______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________

2.    Apa urgensi kekudusan bagi penerima surat? (1 kor 1:2) 
______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________

3.    Seperti apa kekudusan bekerja dalam diri manusia? Dari mana datangnya kekudusan, dan seperti apa dampaknya? 
______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________


IV.   PENERAPAN [APLIKASI]

1.    Korintus diajak untuk merefleksikan kembali pada Panggilan kekudusannya, apakah panggilan sama juga ditujukan untuk kita sekarang ini?
______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________

2.    Seberapa penting /  masih kontekstualkah bicara tentang kekudusan di zaman ini? Mengapa?
______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________

3.    Apa makna kekudusan sejati? Dan Apa tanggung jawab manusia terhadap kekudusan?
______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________


V.    PERENUNGAN [REFLEKSI]

______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________            ______________________________________________________________________________________________


ARTIKEL

Resah dengan sikap dan laku jemaat yang pernah dididiknya, Paulus tak tinggal diam.  Sementara dia sedang berada di suatu tempat, kemungkinan besar  di Asia (1 Kor. 16:19), mungkin juga di Efesus (16:8), Paulus pun menulis surat nya yang pertama kepada jemaat di Korintus yang dikenal orang bunyinya cukup memerahkan telinga.  Berita tentang kondisi jemaat Korintus dibaca Paulus dari sepucuk surat yang dibawa oleh Stefanus dan dua orang kawannya (16:17 dan 7:1). Miris betul, jemaat yang dulu pernah dia didik secara langsung selama delapan belas bulan, kini mengalami degradasi moral bahkan iman.   Banyak orang Yahudi dan bukan Yahudi yang menjadi Kristen, buah pelayanan Paulus. Juga “Sekolah Alkitab” yang dibuat secara khusus untuk mereka, letaknya strategis dan mencolok karena berdampingan dengan rumah ibadat (Kis. 18:1-18), seperti tak berbekas. 

Persoalan-persoalan perpecahan jemaat, kehidupan "duniawi" (1Kor 3:1-3); hilangnya esklusivitas moral dan iman, (2Kor 6:17), toleransi terhadap dosa (1Kor 5:1-13), kebejatan seksual (1Kor 6:12-20), hukum sekular antara orang Kristen (1Kor 6:1-11), pikiran manusiawi tentang kebenaran rasuli (pasal 15; 1Kor 15:1-58) dan perselisihan mengenai "kemerdekaan Kristen", adalah masalah-masalah pelik dan krusial yang perlu disikapi oleh Paulus.  Belum lagi fanatisme umat terhadap pemimpin tertentu yang memantik perpecahan diantara mereka. Upayanya untuk membenahi setiap permasalahan serius dalam jemaat Korintus, termasuk arahan, bimbingan serta dorongan untuk mengembalikan jemaat pada laku hidup kristen yang seharusnya(sejati), juga ditulis oleh Paulus dalam suratnya itu.  

Bukan hal mudah untuk melakukannya, pasalnya tidak hanya persoalan-persoalan moral yang dihadapi, kapabilitas Paulus sebagai seorang rasul (kewibawaan Rasulis) pun turut dipertanyakan oleh beberapa oknum jemaat di Korintus.  Mungkin juga dengan alasan itu pada pengantar suratnya (salam) Paulus menekankan betul bahwa ia menjadi Rasul Allah karena memang ada panggilan khusus dari-Nya. Pada ayatnya yang pertama ini, orang yang sebelumnya dikenal bengis “membantai” umat Allah itu hendak menunjukkan bahwa ada prakarsa, intervensi, sekaligus wibawa ilahi yang memanggil dirinya ke dalam jabatan ini. Bagian ini merupakan bagian yang sangat penting, karena akan menjadi semacam dasar bagi keseluruhan isi yang akan dipaparkan dalam suratnya. Sebab tanpa peranannya sebagai rasul Kristus yang ditunjuk langsung, maka Paulus tidak sedikitpun memiliki wewenang atau wibawa rohani.  

Lebih lanjut, pasal pertama di surat pertama Korintus, murid dari Gamaliel ini juga mengingatkan (baca:menyadarkan) umat perihal sesuatu atau hal yang mendasar, namun belakangan coba ditinggalkan oleh umat di Korintus, yakni kekudusan.  Sebab kekudusan adalah anuegrah Allah yang menjadi semacam “pengait” dalam sebuah hubungan yang unik.  Umat dikuduskan oleh Tuhan sekaligus dipanggil untuk secara aktif menjaganya, bersama-sama orang yang mengaku dan berseru kepada Kristus Tuhan.

Tidak saja kepada umat di Korintus semata.  Panggilan serupa – mensyukuri anugerah kekudusan serta menjaganya – adalah hal yang tidak mudah, namun kembali dituntut, baik dimasa kini maupun mendatang.  Mengingat sejarah Korintus seperti terulang kembali di masa kini, dan mungkin juga nanti.  Ketiadaan esklusivitas laku moral dan iman; kecenderungan toleran terhadap pola pikir dan gaya hidup duniawi dengan  hukum-hukumnya yang dianut, kian jelas di masa kini. Karena itu kekudusan adalah hal penting yang perlu kembali diingatkan, terlebih dihidupi dan jaga.  Demi memunculkan kembali keunikan umat sebagai kristiani. Semoga!  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments

Top