2 Korintus

Menjawab Sangkaan Keliru (2 Korintus 13:1-10)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Wed, 9 November 2016 - 13:47 | visits : 492

2 Korintus 13:1-10

Apa yang Paulus alami sangat mirip dengan yang banyak hamba Tuhan alamai di masa kini.  Apalagi kalau bukan persoalan domba yang bersikap kurang baik terhadap gembalanya.   Bukan hanya sekadar soal penerimaan, tapi juga tuduhan dan fitnah domba yang notabene telah dipelihara oleh gembalanya.  Paulus mengalami getirnya diperlakukan buruk oleh domba-dombanya yang sudah dia anggap sebagai anak rohaninya.  Ditolak, difitnah dan dihujat oleh jemaat Korintus, itu yang dialami Paulus. 

Betapa tidak mudah menerima kenyataan seperti ini.  Paulus, bapak rohani yang telah berjuang keras demi kemajuan anak-anaknya, bahkan tak segan-segan berkorban demi anak-anak rohaninya itu,  tapi kerja keras dan pengorbanan bukan saja tak dianggap, malah disalahartikan.  Alih-alih segera bertobat dan berubah, jemaat Korintus seolah menantang ketegas Paulus dengan sengaja hidup dalam dosa. Melalui cara ini Korintus sepertinya ingin menguji Paulus apakah dia berkuasa menunjukkan tanda dari kuasa Kristus atas diri mereka, termasuk ingin menguji sejauh mana Paulus memiliki keberanian dan wibawa secara rohani.  Seolah bertanya, benarkah orang yang menyebut diri rasul Kristus  (Paulus) adalah orang yang diberi wewenang dan kuasa untuk itu, yang ditunjukkan dengan wibawa rohani untuk “mengutuk” tindakan dosa dan memberi konsekuensi hukuman atasnya (13:3).

Sikap “melunak” Paulus kepada Korintus sepertinya telah disalahartikan.  Paulus bukan tidak berani bertindak tegas terhadap jemaat yang hoby berdosa itu, Paulus sebetulnya ingin meminta orang Korintus bersikap dewasa.  Dengan cara apa? Ya, dengan cara bertobat, menjauh dari dosa dan memohon ampun atas tindakan tak bertanggungjawab tersebut. 

Karena itu menjelang kunjungan Paulus yang ketiga ke Korintus, Paulus sangat berharap jemaat yang gemar berbuat dosa itu mau segera bertobat.  Sebab, jika tidak, maka Paulus tidak akan menyayangkannya (13:2).   Sikap Paulus ini menunjukkan kasih seorang pelayan Tuhan kepada orang yang dilayani.   Kadangkala dituntut sikap keras, tapi tak jarang juga diperlukan kesabaran.  Tapi kalau sudah sampai pada ambang batasnya, dan demi kebaikan jemaat, para pelanggar harus ditindak tegas, harus didisiplinkan.

Kelak, kalau Paulus dating, dia akan terlebih dahulu membereskan soal tuduhan keliru yang dialamatkan kepadanya.  Ia akan membuktikan bahwa apa yang disangkakakan itu tidak benar. Sebab pembuktian pada suatu kasus harus didasarkan pada prinsip kesahihhan, yaitu bila ada 2-3 saksi. Kedatangan Paulus juga akan membereskan kehidupan moral jemaat Korintus, termasuk membereskan ketidaktertiban yang terjadi dalam pola hidup bergereja di sana. Ketika datang nanti, Paulus akan bertindak dalam wibawa Kristus. Dengan wibawa rasulinya akan mendisiplinkan mereka yang tidak memelihara kekudusan. Paulus akan bertindak sebagai rasul Kristus untuk menertibkan dan memurnikan jemaat-Nya.  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top