2 Korintus

Tuduhan Keji Anak Rohani (2 Korintus 12:14-21)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Wed, 9 November 2016 - 13:46 | visits : 457

2 Korintus 12:14-21

Beradar kabar tak sedap tentang Paulus di Korintus, bahwa proyek pengumpulan dana untuk jemaat Yerusalem hanya rekayasa Paulus untuk mengeruk keuntungan dari jemaat Korintus (16).  Seolah menjadi bagian dari rencana besar kelicikan Paulus (16).  Berita ini benar-benar membuat Paulus merasa prihatin, membuat dirinya sedih, dan mungkin juga marah. 

Di pasal 12 surat kepada jemaat Korintus yang kedua ini Paulus kemudian memberikan sanggahan atas tuduhan yang tak bertanggungjawab tersebut.  Bahwa sesungguhnya dirinya adalah orang tua dari jemaat Korintus.  Ya, Paulus adalah orang tua rohani mereka.  Sebab Pauluslah yang memenangkan jemaat Korintus, membimbing mereka dan mengajarkan mereka tentang kebenaran Firman Tuhan.  Bagaimana mungkin orang tua justru menyuruh anaknya untuk mencari uang menghidupi orangtua (keluarga). Meskipun orang di era sekarang ini dapat menyanggah, bahwa tidak sedikit orangtua yang mengeksploitasi anaknya demi pemenuhan keinginan pribadinya, namun yang Paulus maksud adalah soal kelaziman, keharusan, dan soal idealnya orangtua, yang harus menghidupi keluarganya.  Mengucurkan keringat demi keluarganya dapat terpenuhi kebutuhannya, dan bukan sebaliknya.

Alih-alih memanfaatkan atau mengeksploitasi anak rohaninya,  Paulus, sebagai orang tua, justru kerap berkorban bagi kepentingan mereka (14-15), dan itu memang kewajiban dia sebagai orangtua. Karena itu, Paulus, dengan pertanyaan retorikanya, bertanya kepada jemaat Korintus agar membuktikan kebenaran tuduhan mereka.  “Jadi pernahkah aku mengambil untung dari pada kamu oleh seorang dari antara mereka, yang kuutus kepada kamu? (17)”   “Adakah Titus mengambil untung dari pada kamu? Tidakkah kami berdua hidup menurut roh yang sama dan tidakkah kami berlaku menurut cara yang sama? (18)”

Sebagai pelayan Tuhan, baik dia (Paulus), maupun rekan-rekan pelayanannya, seperti Titus, berlaku sama dalam melayani.  Pun ketika mereka meminta Korintus turut ambil bagian dalam pelayanan pengumpulan dana,l itupun dalam spirit yang sama.  Yakni, semangat (spirit) bukan diri (Paulus) yang diuntungkan, tapi ini semua dilakukan justru untuk membangun iman jemaat (19). Ya, lagi-lagi bukan keuntungan diri yang jadi orintasi melayani, tapi pertumbuhan iman jemaat.  Jelaslah, bukan saja tuduhan yang dialamatkan kepada Paulus itu keliru, tapi juga tak berdasar. 

Pada bagian ini Paulus juga mengajak Korintus untuk sejenak mengalihkan pandangan mereka kepada dari kegemaran menghakimi dan menuduh orang sembarangan, dengan kegemaran untuk mengoreksi diri dan berintropeksi.  Bukan sesuatu yang berlebihan, sebab memang masih banyak hal-hal yang Paulus kuatirkan dari jemaat Korintus, yang notabene adalah nak rohaninya.  Terutama soal jemaat Korintus yang masih terperangkap dalam dosa lama, kecemaran, percabulan dan ketidaksopanan.  Yang sampai surat kedua itu ditulis untuk Korintus, mereka belum juga bertobat (21).  Juga masih ada kekuatiran lain soal dosa-dosa lama lain, yakni perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri,  fitnah, bisik-bisikan, keangkuhan, dan kerusuhan (20).

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top