2 Korintus

Bijaksana Jemaat Korintus (2 Korintus 11:13-20)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Wed, 9 November 2016 - 09:19 | visits : 543

2 Korintus 11:13-20

Entah apakah karena terlalu fanatik terhadap sosok tertentu, atau memang karena jemaat Korintus kurang pintar (kalau tidak mau dibilang bodoh).  Agaknya pilihan yang kedua lebih mendekati.  Bagaimana tidak dibilang kurang pintar jika memperhatikan apa yang sedang jemaat Korintus lakukan dan alami.   Dicuri tapi tak sadar jika hartanya sedang dicuri.  Dimanfaatkan, tapi justru merasa sedang diberi kesempatan.  Dikuasai, dan diperhamba, tapi merasa seperti digembalakan.  Meskipun guru-guru palsu telah berbuat jahat kepada mereka, telah memperhamba dan memanfaatkan mereka, telah menguasai, bahkan berlaku angkuh terhadap mereka, namun jemaat Korintus tetap saja sabar denga tindakan tersebut, malahan justru membuka pintu (hati) bagi guru-guru palsu seperti itu (11:20).

Lebih gila lagi, dalam ketidakpintaran itu orang Korintus justru menuding Paulus sebagai orang yang bodoh (11:16).  Ya, kemungkinan besar memang karena hasutan guru Palsu.  Tapi menyedihkan betul, diri sendiri yang kurang pintar, tapi justru menyebut orang lain bodoh. 

Tapi tak mengapa, Paulus menganggap orang-orang Korintus itu memang kumpulan orang yang terlalu “bijaksana” (11:19).  Betapa tidak “bijaksana,” kalau kepada orang-orang yang merugikan mereka, jemaat Korintus tetap bersabar, nurut dan manut saja.  Mata dan telinga Korintus seperti sedang ditutup rapat-rapat oleh guru-guru Palsu itu, sehingga mereka tetap berpaling, membela dan fanatik terhadap para guru palsu itu.  Tapi sayang, fanatisme mereka adalah fanatisme buta.  Sampai-sampai mereka lupa untuk bersikap kritis, melihat secara subyektif dan jujur kepada siapa fanatisme itu ditujukan.  Fanatisme buta justru mereka tunjukkan kepada rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang kemudian menyamar sebagai rasul-rasul Kristus.   Bagi Paulus ini bukanlah sesuatu yang mengherankan, sebab  Iblispun bisa  menyamar sebagai malaikat Terang (11:14). Jadi, bukan sesuatu hal yang ganjil atau aneh, jika ada pelayan-pelayan Iblis menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Lha wong bosnya saja bisa, maka anakbuahnya (pelayan Palsu) pun boleh jadi diberi kemampuan serupa. Tapi, kelak apa yang mereka lakukan, apa yang mereka perbuat, Allah akan memberi balasan setimpal dengan perbuatan mereka. (11:15).

 “kebijaksanaan” Korintus, atau lebih tepatnya kebodohan Korintus semoga tidak terjadi lagi di masa kini.   Jemaat Korintus dapat menjadi sarana bagi refleksi diri umat agar melihat, menilai atau menilik segala hal, pun hamba Tuhan dengan obyektif. Tidak terjebak pada penokohan seseorang, meskipun hal ini sulit terhindarkan, apalagi sampai fanatisme buta, yang entah salah atau benar menurut kitab suci, pemimpinnya  akan terus dibela.  Akibatnya, kekaguman dan tunduk kepada pemimpin, melebihi kekaguman dan ketundukan pada ajaran Alkitab sendiri. Kebodohan Korintus pun dapat dijadikan sebagai alat atau otokritik bagi para pelayan Tuhan agar tidak mengondisikan umat terlalu dependen (bergantung) kepadanya daripada kepada Tuhan.  Sebagai sebuah “data”, betapa rentannya umat dapat fanatik buta terhadap pemimpinnya, baik terhadap tindakan (memperalat, memperhamba dlsb (11:19).  Atau hal lain yang sifatnya pengajaran atau tafsir, sehingga tidak menganggap diri orang yang punya “monopoli” atas kebenaran, sementara yang lain salah, atau setidaknya dianggap bodoh, seperti tuduhan yang dialamatkan jemaat Korintus kepada Paulus. Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top