2 Korintus

Pilih Berita Atau Gaya (2 Korintus 11:1-6)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Wed, 9 November 2016 - 09:13 | visits : 618

2 Korintus 11:1-6

Ajining diri dumunung aneng lathi, ajining rogo ana ing busono” Ini adalah pepatah jawa yang kalau diterjemahkan secara bebas berarti: Nilai diri atau kepribadian sejati atau kepribadian yang murni itu munculnya dari perkataan seseorang (lathi/lidah); sementara  penampilan/busana itu tak lebih dari gambaran atau cerminan saja dari kepribadian.  Tapi hari ini, justru lebih jamak, lumrah dan mudah ditemui justru bagaimana orang lebih mengutamakan cerminan, gambaran atau bayangan daripada sesuatu yang ada dalam diri.  Lebih menghargai apa yang dikenakan (busono) lebih daripada perkataan, kabar, berita, atau pesan yang diwartakan, yang muncul dari kepribadian yang sejati dan murni.  Lebih mengutamakan kecakapan, bagaimana cara menyampaikan, bagaimana bisa fasih lidah, bagaimana dari pada pengetahuan yang disampaikan. Jika pandai menyampaikan, maka orang akan dipandang atau nilai pintar dan cakap, jika tidak, maka itu dilihat sebagai sebuah “kebodohan”.

Jauh dari era kini, di masa gereja mula-mula, Paulus pun mengalami diskriminasi serupa.  Bagaimana dia dinilai “bodoh”, meskipun ini pernyataannya sendiri, tapi besar kemungkinan, jika didekati dengan cara negatif/kebalikan, maka Paulus sedang menunjukkan penilaian orang terhadap dirinya.  Tentang “kebodohannya” itu yang sebetulnya hanya kurang lihai berkata-kata (11:6).  Paulus meminta kepada jemaat di Korintus agar sedikit bersabar tentang kelemahannya itu.  Jangan sampai “kekurangan” Paulus itu menutupi seluruh berita sukacita yang diwartakannya kepada jemaat.   Permintaan ini bukanlah permintaan berlebihan, karena memang ada begitu banyak pengajar Palsu, yang ajarannya juga palsu, justru memiliki kelebihan dari kekurangannya itu.  Misalnya, Paulus menyebut mereka adalah para pengajar yang “tak ada taranya” (11:5), orang-orang yang mempunyai kemampuan luar biasa(2 Kor 12:11) atau punya latar belakang sebagai orang terpandang (Gal 2:6).   

Permintaan itu semata didasarkan  atas keinginan yang murni dari seorang Bapak rohani kepada anak rohaninya, yakni agar pikiran mereka tidak disesatkan; agar kesetiaan yang sejati kepada Kristus tidak diperdayan oleh ular dengan segala kelicikan, seperti pernah terjadi pada diri hawa (11:3).   Karena memang jemaat memiliki kecenderungan membuka pintu bagi guru-guru palsu ini.  Mereka disebutkan Paulus sangat tertarik dengan gaya bicara guru-guru itu yang menawan, dengan  sabar, (tekun) mendengar jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain; memberikan  roh lyang lain; dan Injil  lain yang sama sekali berbeda dari apa yang telah diwaratakan oleh Paulus dan timnya (11:4).

Paulus memang mengakui bahwa dirinya kurang dalam hal penyampaian warta dengan cara yang dianggap menawan (11:6), dengan banyak warna retorika, istilah-istilah mutakhir atau gaya orasi yang baik, seperti umum ditampilkan filsuf-filsuf di masa itu. Tapi, soal yang lain, apalagi soal kedalaman warta kebenaran, soal pengetahuan, Paulus berani membela diri, bahwa dia  tidak kurang dari pada rasul-rasul yang tak ada taranya itu (11:5).  Dalam hal pengetahuan, dalam hal warta kebenaran, apa lagi, Paulus pun sudah menyatakannya kepada jemaat Korintus pada segala waktu dan di dalam segala hal.

Ini semua dilakukan bukan demi menunjukkan kelebihan Paulus daripada guru-guru palsu.  Tidak sedang menyombongkan diri agar jemaat pun menghargai.  Ini semua dilakukan, lagi-lagi demi kepentingan jemaat sendiri.  Demi keimanan jemaat sendiri.  Agar jangan samapi jemaat tergelincir hanya gara-gara tampilan atau gaya orang menyampaikan. Jangan sampai jemaat menjadi sesat dengan ketertarikan mereka pada gaya dan cara orang bertutur atau berorasi tentang hal yang sebenarnya adalah kesesatan belaka.  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top