2 Korintus

Ajakan Menginsyafi (2 Korintus 10:5-111)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 27 October 2016 - 13:44 | visits : 466

2 Korintus 10:5-111

Difitnah, benar-benar menyebalkan.  Apalagi kalau fitnahan itu sama sekali berlainan dengan kenyataan. Fitnah, bagaimana caranya menghentikan, kalau kontrol tak ada di tangan.  Bagaimana pula mengontrol kalau itu keluar dari hati dan mucrat keluar dari mulut orang.  Siapa yang bisa membungkam semua mulut yang ingin komentar, ingin menginterpretasi setiap langkah dan gerak diri.  Benar, memang tak ada hal apapun yang luput dari hidup ini tanpa ada yang menilai atau menginterpretasi, setidaknya mengomentari, meski itu di dalam hati dan jadi konsumsi sendiri.  Tapi, ketika itu menyembur ke permukaan, bertransformasi menjadi fitnah, itu yang jadi masalah.

Paulus dalam suratnya juga menceritakan kisah yang tak jauh beda.  Bagaimana fitnahan itu datang bertubi-tubi, bergulung-gulung dan berlaksa-laksa – sedikit bermegalomania – menghampiri dirinya.   Lebih khusus ada di bagian pasal 10 dari surat kedua kepada jemaat Korintus, tersurat dia mengisahkannya.  Kali ini Paulus difitnah dan dicap sebagai orang yang penakut.  Paulus dinilai sebagai orang yang hanya berani di belakang, tapi takut di muka.  Berani dalam surat, tetapi takut ketika berhadapan langsung dengan jemaat (10:10).   Kepada sebagian jemaat Korintus yang memfitnahnya, Paulus mengusulkan beberapa hal agar dibatinkan, agar dijadikan sebagai refleksi bagi diri. 

Pertama, Paulus berkata tentang dirinya bahwa sesungguhnya dia punya kuasa, punya wibawa ilahi untuk menunjukkan betapa tegas dan kerasnya dirinya. Khususnya ketika ketika berbicara tentang kebenaran dan menghalau keberdosaan.  Jangankan untuk sekadar bertindak tegas dan keras (menghukum dlsb), dengan senjata kuasa  Allah (10:3) Paulus sanggup meruntuhkan benteng-benteng yang ingin dibangun orang dari keangkuhanan dirinya yang ingin menentang pengetahuan (pengenalan) akan Allah (10:5).  Paulus juga sanggup menawan pikiran orang-orang dan membuat mereka takluk kepada Kristus.  Dia juga sanggup  menghukum setiap kedurhakaan (10:6). Tapi tidak berarti Paulus serta–merta menggunakan kakuasaan dan senjatra ilahi itu dengan sembarangan dan serampangan.  Ada kalanya diperlukan pendekatan (perlakuan) khusus kepada sebagian jemaat atau orang.  Seperti yang Paulus lakukan kepada jemaat Korintus, yakni memberi kesempatan kepada mereka untuk lebih dulu bertobat, sebelum dirinya kemudian datang berhadapan muka dengan jemaat Korintus.  Di sini waktu akan menjadi alat uji bagi jemaat Korintus, apakah benar mereka telah sungguh taat dan setia.  Jika ketatan itu telah  benar dihidupi (menjadi sempurna), maka Paulus siap menghukum setiap kedurhakaan yang terjadi (10:6).

Kedua, Paulus mengajak kepada para pemfitnah dirinya agar melihat dengan jernih dan obyektif realita yang ada (10:7).  Bukan tendensi apalagi opini bentukan persepsi pribadi. Paulus mengajak mereka agar menyadari kondisi dengan menengok kenyataan, menengok fakta sebenarnya dan bukan olah interpretasi pada hal ilusif semata.  Paulus juga menunjukkan bagaimana cara pandang yang benar dalam memandang kenyataan, yakni dengan memandang kenyataan, memandang orang lain sebagai milik Kristus, sama seperti dirinya (10:7), dan bukan memandangnya hanya sebagai obyek penilaian semata. Ini adalah prasuposisi yang tepat dalam menilai.  Silakan saja orang menilai, tapi menempatkan penilaian pada struktur penilaian yang selayak dan sewajarnya. 

Dalam konteks tertentu Paulus juga tidak malu kalau harus membanggakan kekuasaan yang Tuhan berikan kepadanya, sebab kekuasaan itu diberikan bukan untuk meruntuhkan seseorang, tapi sebaliknya, justru untuk membangun orang.  Sebagai orang yang punya “monopoli” atas kuasa ilahi tersebut, mudah bagi Paulus untuk bertindak semena-mena, berbuat semaunya, atau sembarang dan serampangan bertindak. Hal ini yang ingin Paulus tekankan kepada para pengkritik dan pemfitnahnya, agar dapat memahami, terlebih kalau mau menyadari dan menginsafinya.  itu semua tidak dilakukan Paulus, sebab dia tidak mau tindakannya atau apa yang dia tuliskan selanjutnya (keras dan tegas)  pada akhirnya justru antiklimaks (mengalami kemerosotan atau berlawanan), yang justru akan menakut-nakuti jemaat (10:9), dan bukan membangun umat, seperti khittahnya (jalan atau garis yang seharusnya) (10:8).

Dengan beberapa hal itu Paulus berharap kepada para pemfitnahnya, yang berkata bahwa:”…surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti” (10:10), agar dapat menginsafi. Agar dapat menyadari; mengerti benar; dan meyakini benar (definisi menginsafi KBBI), bahwa tindakannya ketika berhadapan muka, sama seperti perkataannya yang telah dituliskan dalam surat-surat sebelumnya (10:11). Konfirmasi, penegasan, atau pelurusan tentang wasangka itu perlu dijelaskan Paulus, agar jangan sampai perkataan, pengajaran atau Firman yang disampaikan kepada jemaat direndahkan, agar Injil yang diwartakan tidak diremehkan dan dianggap tidak punya arti atau makna (10:10).  Karena memang tujuan itulah yang disasar guru-guru Palsu yang memfitnah Paulus, bukan sekadar mengerdilkan Paulus dihadapan jemaat, tapi juga menurunkan warta Injil yang Paulus sampaikan kepada jemaat.  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top