Teladan Penghargaan Pelayan (1 Korintus 16:10-18)

Author : GI Slamet Wiyono | Fri, 21 October 2016 - 15:55 | View : 508
teladan.jpg

Terlalu gandrung dengan sesuatu menjadikan orang hanya mengarahkan pandang mata pada satu titik tertentu saja.  Enggan melirik, apalagi bercengkrama dengan hal lainnya.  Asyik-masyuk berkasih-kasihan dengan diri dan sesuatu yang dihasrati. Ada hal keuntungan yang bisa dipetik.  Tapi bukan berarti kecintaan terlalu pada sesuatu tidak mendatangkan kerugian.

Terlalu cinta pada pekerjaan misalnya, acap membuat orang hanya bergulat dengannya.  Tak peduli dengan orang atau benda-benda lain didekatnya. Pun tak berhasrat untuk melibatkan diri dan berbagi agar pekerjaan dapat lebih mudah dan cepat rampung.  Al hasil sang pecinta karya terseok-seok memaksakan diri demi memenuhi target yang harus dilalui.  Padahal ketika pekerjaan itu dibagi, maka beban yang berat akan terkurangi. Akan tetapi memilih sikap seperti ini tetap saja memiliki risiko tersendiri.  Sebab setidaknya dibutuhkan “penyangkalan diri”.  Di akhir suratnya yang pertama kepada jemaat Korintus, Paulus menunjukkan kepada jemaat Korintus sikap demikian.  

Pelayan Tuhan sehebat Paulus memiliki banyak celah yang dapat membuat dia jatuh.  Dielu-elukan banyak orang di berbagai kota yang di layani teramat mungkin membuat Paulus menjadi cepat jumawa, berbangga diri dan berpuas hati.  Bahkan tak menutup kemungkinan potensi mengalihkan tujuan keutamaan pelayanan dari kemuliaan Tuhan menjadi kemuliaan diri. Tapi ini tidak terjadi. Sebagai seorang pelayan yang mengemban visi pelayanan dengan jangkauan yang sangat besar, Paulus justru sadar tidak mungkin melampaui seorang diri.  Paulus sadar bahwa dirinya bukanlah manusia super, manusia serba bisa, tapi manusia biasa. Karena itu dia sangat membutuhkan kontribusi dan bantuan rekan lain.   Ini salah satu bentuk kerendahan hati seorang pelayan Tuhan seeksis Paulus. Tidak hanya kepada rekan kerja yang “selevel”/senior seperti dirinya, bahkan kepada Juniornya pun penghargaan yang sama ditunjukkan Paulus. 

Tersebut di sana ada nama Timotius, salah seorang murid Paulus. Di suratnya kepada jemaat Korintus terlukis betapa Paulus sebagai senior sangat memperhatikan keberadaan Yuniornya. Bahkan menunjukkan kepada jemaat Korintus, tugas yang diemban Timotius sangatlah penting, tidak lebih penting dari tugas yang dia emban (16:11).  Karena itu Paulus mewanti-wanti benar kepada jemaat Korintus, agar ketika Timotius sampai di Korintus, sedapat mungkin mereka tidak memandang rendah Timotius (16:11), juga tidak membuat dia tidak terlalu cemas apalagi takut di sana (16:10).   Terlebih baik jika jemaat Korintus berkenan menolong Timotius supaya dapat melanjutkan perjalanannya dengan selamat agar dapat kembali bertemu paulus. 

Selanjutnya ada nama Apolos yang disebut Paulus dalam suratnya.  Hamba Tuhan yang dihargai harapkan bantuannya oleh Paulus agar bersegera menjenguk jemaat Korintus, namun demikian masih berhalangan (16:12).  Lalu Stefanus, seorang petobat perdana di Akhaya, yang bantuan dan kontribusi pentingnya terhadap Pelayanan tak disembunyikan Paulus.  Dalam suratnya Stefanus disebut Paulus berperan penting dalam pengabdiannya kepada pelayanan  orang-orang kudus, pelayanan kepada jemaat-jemaat Tuhan (16:15).  Dalam suratnya Paulus juga mengespresikan perasaan kegembiraannya atas kedatangan Stefanus, Fortunatus dan Akhaikus. Karena kehadiran mereka menjadi penghiburan tersendiri, menyegarkan dan memberi kelegaan bagi Paulus (16:18). 

Sebagai bapa umat dan seorang rasul, Paulus memiliki wewenang dan kewibawaan (otoritas) dari Allah untuk memerintahkan agar jemaat Korintus menghargai para pelayanan seperti telah disebutkan.  Karena mereka telah mengususkan diri dan membaktikan hidup bagi pelayanan kepada Allah, dengan mengemban peran-peran yang unik.  Namun Paulus tidak sekadar menghimbau atau memerintah saja.  Penghargaan tertinggi telah terlebih dahulu Paulus tunjukkan dan teladankan.  Betapa Paulus sangat terbantu dengan pelayanan rekan-rekan sekerjanya itu.  Betapa Paulus mendapat banyak penghiburan dan “kepuasaan” rohani mendengar kesaksian dan melihat peran pelayanan yang maksimal mereka lakukan.  Karena itu, permintaan Paulus agar jemaat Korintus menaati dan menghargai pelayan Tuhan selain dirinya tidaklah berlebihan.  Sebab dia terlebih dahulu mencontohkan.  Slawi 

See also

jQuery Slider

Comments

Top