Tubuh Duniawi Dan Tubuh Sorgawi (1 Korintus 15:42-58)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 21 October 2016 - 15:50 | View : 688
1-korintus-73-5-1.jpg

Masih menjawab soal kebangkitan orang mati (tubuh). Pada penggalan ayat kali ini Paulus menjelaskan lebih mendetail lagi.  Benar, kematian memang membuat tubuh (materi) ini menjadi hancur tak berbekas.  Hal ini tidak disangkal oleh Paulus dan sudah dijelaskan, melalui ilustrasi benih yang harus mati terlebih dahulu untuk dapat hidup (15:36). Namun demikian bukan berarti keberlangsungan kehidupan dari benih tersebut mandek. Sebab, benih yang mati itu kelak akan berubah menjadi tanaman dewasa.  Benih punya struktur bentuk/tubuh tersendiri yang sudah barang tentu berbeda dari tanaman dewasa (15:38).  Namun demikian sesungguhnya tanaman dewasa merupakan bagian dari keberlangsungan hidup benih yang terlebih dahulu mati.  Demikian Paulus memaparkan perihal keberlangsungan hidup manusia yang tidak berhenti pada kematian saja. 

Tubuh manusia memang dapat mati dan hancur.  Tapi keberlangsungan kehidupan dan  kepribadiannya tetap utuh, akan berlanjut, kendati dalam “struktur” berbeda.  Sebab tubuh duniawi manusia saat ini menyandang apa yang Paulus sebut sebagai kebinasaan, kehinaan, dan kelemahan 15:42. Tubuh (materi) yang dapat rusak termakan oleh waktu.  Fungsi dari organ tubuh setiap manusia, seiring berjalannya waktu akan terus berkurang.  Hal ini adalah akibat dari keberdosaan Adam, manusia pertama, yang sekaligus represtasi manusia yang berdosa.  Adam, menjadi teladan/contoh bagi tubuh alami atau tubuh duniawi manusia.  Tubuh yang berasal dari debu tanah (materi), yang bersifat jasmani (15:47). 

Namun demikian, ketika nafiri terakhir berbunyi, segera, dalam sekejap mata orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan setiap orang akan diubah (15:52). Tubuh oang percaya yang berada dalam kondisi binasa itu akan diubah menjadi tubuh yang kekal/abadi, tubuh yang tidak dapat binasa (15:42).  Tubuh kehinaan dan penuh kelemahan akan diubah menjadi tubuh penuh kemuliaan dan kekuatan.  Pada waktu orang percaya menerima tubuhnya yang baru, sesungguhnya mereka akan mengenakan tubuh kekekalan/tubuh keabadian (1Kor 15:53). Dalam kondisi demikian niscaya orang percaya dapat lebih utuh memahami seluruh maksud Allah bagi manusia.  Lebih utuh mengenal Allah, sebagaimana yang Allah inginkan orang mengenal-Nya (Yoh 17:3). Tubuh demikian Paulus sebut sebagai tubuh sorgawi, dengan menggunakan “manusia kedua”, Yesus, sebagai contoh dan teladan (15:48). Tidak hanya sebagai contoh, Paulus juga menunjukkan bahwa Kristus juga sekaligus pribadi yang aktif berkarya mewujudkan progresif keserupaan manusia duniawi dengan diriNya melalui kematian dan kebangkitanNya. 

Manusia pertama memang dicipta Allah secara unik. Sebab Allah secara khusus memberikan nafas kehidupan kepadanya (Kej 2:7), oleh karena itu dia disebut Makhluk yang hidup (15:45).  Teramat disayangkan, kehidupan yang dianugerahkan justru dinodai oleh keberdosaan manusia pertama, dan berakibat fatal.  Sebab upah dosa adalah maut (Roma 6:23).  Para komentator mengartikan maut di sini dalam dua arti, baik mati secara spiritual: berupa keterpisahan dengan Allah, dan mati dalam arti literal, kebinasaan yang ditandai dengan penurunan fungsi tubuh, fungsi nalar dlsb, yang pada akhirnya menuju tidak berfungsinya seluruh organ tubuh manusia secara biologis (mati).

Jika manusia pertama mematikan anugerah kehidupan, berbeda dengan Manusia kedua/Adam Terakhir (Yesus) yang justru menjadi roh  yang menghidupkan (15:45 band. Roma 5:15).  Di kayu salib Yesus telah menghancurkan maut dan membawa manusia pada anugerah besar untuk kembali dapat bersekutu dengan sang pencipta.  Allah yang memprakarsai karya besar pendamaian melalui Kristus.  Kristus telah memberikan kepada semua orang kemenangan (15:57).  Paulus menegaskan hal ini kepada jemaat Korintus agar mereka tidak mudah terombang-ambing dengan pengajaran-pengajaran yang tidak Alkitabiah.  Sebab dengan tidak percaya dengan kebangkitan orang mati, kebangkitan tubuh, maka sesungguhnya mereka juga tidak percaya, bahwa Yesus telah melepaskan mereka dari maut, yang telah memerdekakan mereka, melalui salib dan kebangkitanNya. Karena itu, diakhir bagian ini Paulus menganjurkan kepada jemaat Korintus agar tetap berdirilah teguh, tidak goyah, tidak mudah dipengaruhi hal-hal yang buruk. Dan terlebih lagi agar orang Korintus selalu giat  dalam pekerjaan Tuhan!  Sebab, dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah mereka tidak sia-sia ( 15:58). Slawi

See also

jQuery Slider

Comments

Top