Serupa Tapi Tak Sama (1 Korintus 15:35-44)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 21 October 2016 - 15:44 | View : 604
serupa.jpg

Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali? Pertanyaan yang meragukan ini diungkap Paulus dalam 15:35. Pertanyaan yang boleh jadi kerap muncul di benak orang Korintus yang telah terpengaruh oleh pemikiran Yunani.  Menyikapi pertanyaan demikian, dengan bahasa yang tegas dan lugas Paulus menghardik dalam suratnya, dengan berkata: Hai orang bodoh! (15:36). Seolah menunjukkan kegeraman Paulus kepada orang Korintus yang merasa sudah pintar dengan mengkritisi pengajaran kebangkitan tubuh dan kebangkitan Kristus, dikontraskan dengan pemahaman orang Yunani tentang tubuh. Padahal,  dengan berbuat seperti itu, menurut Paulus, orang Korintus justru tengah menunjukkan kebodohan mereka.

Orang Yunani umumnya percaya bahwa tubuh adalah penjara bagi jiwa. Kematian tubuh adalah kemerdekaan jiwa.  Jika manusia mati, maka tubuh atau jasadnya akan kembali kepada unsur-unsur pembentuknya, lalu lenyap.  Sementara jiwanya, percikan roh yang menempati tubuh itu akan kembali kepada nyala api besar, nyala api ilahi.  Inilah kekekalan dalam konsep filsafat Yunani, yang mensyratkan ada pemusnahan materi (tubuh).  Karena itu, kebangkitan tubuh adalah kemustahilan bagi orang Yunani.  Jika tubuhnya hancur menjadi debu, lantas apakah orang yang mati akan bangkit menjadi debu?  Demikian dalih orang Korintus yang terpengaruh ajaran Yunani menyikapi soal kebangkitan tubuh. 

Menjawab pertanyaan orang-orang pintar itu Paulus justru menggunakan ilustrasi yang teramat sangat sederhana.  Sehingga orang tidak terlalu pintar (kalau tidak mau dikatakan bodoh) sekalipun dapat memahaminya.  Karena gambaran yang digunakan adalah gambaran yang ada di keseharian mereka. Paulus menggunakan gambaran tentang benih yang ditanam. Bahwa benih yang ditaburkan tidak akan tumbuh jika tidak terlebih dahulu mati (15:36).  Dan yang ditaburkan ke ladang juga bukanlah tanaman dewasa yang akan tumbuh, tapi biji yang tidak berkulit yang mati terlebih dahulu (15:37).  Namun benih yang sudah mati itu kelak justru akan hidup, bahkan tumbuh menjadi tanaman dewasa.  Di sinilah letak keberbedaan, tetapi juga suatu kesinambungan antara benih dan tanaman dewasa. Biji yang hendak ditanam sudah barang tentu terlebih dahulu hancur.  Ketika dari biji itu muncul tanaman dewasa, terjadi perbedaan/perubahan yang sangat mendasar. Terutama dari segi besar tubuh dan bentuk. Namun demikian, meski ada keterputusan dan keberbedaan, tetap ada kontinuitas/keberlangsungan hidup dari benih yang sudah terlebih dahulu mati, hingga kemudian hidup, dan berubah menjadi tanaman dewasa. 

Selanjutnya, sebagai jembatan pengantar, sebagai transisi kepada pemahaman lebih lanjut, Paulus juga menggunakan kontras serupa, seperti gambaran tentang daging manusia yang berbeda dengan daging binatang (15:39).  Seperti kepada biji-biji yang ditanam, Allah memberikan kepada  mereka suatu tubuh yang unik, seperti yang dikehendaki-Nya (15:38), demikian pula tubuh jasmani, tabuh alamiah (materi), tubuh duniawi dengan tubuh sorgawi kelak, keduanya memiliki keunikan pada dirinya.  Keduanya memiliki kemuliaan yang berbeda (15:40).  Sama seperti perbedaan antara kemuliaan  matahari dengan kemuliaan bulan, dan kemuliaan bulan dari kemuliaan bintang, dan kemuliaan bintang satu dengan bintang lain. Demikian perbedaan antara tubuh jasmani (duniwai) dan tubuh sorgawi. 

Tubuh (materi) ini memang akan hancur.  Tapi tubuh sebagai bagian dari kepribadian yang utuh dari manusia itu akan bangkit kembali dengan bentuk yang sama sekali berbeda.  Kendati berbeda, dan seolah terputus, keberlangsungan “kehidupan” dari pribadi (tubuh) yang bangkit tetap ada. Kematian tidak dapat dipungkiri, memang akan menghancurkan tubuh ini.  Namun demikian, Allah kelak akan mengubahkan tubuh yang hancur itu dalam kebangkitan. Manusia dicipta (lahir) dalam kebinasaan, namun akan dibangkitkan dalam ketidakbinasaan (kekal ). Ditabur dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan (15:42). Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan(15:43). Lahir/dicipta dengan tubuh alamiah/duniawi (materi), dibangkitkan dalam tubuh rohaniah (sorgawi) (15:44). Slawi

See also

jQuery Slider

Comments

Top