Kehebatan Adam Terakhir (1Korintus 15:20-23)

Author : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 21 October 2016 - 15:43 | View : 736
580-christ.jpg

Setelah menunjukkan konsekuensi logis terkait persoalan kebangkitan pada ayat sebelumnya, tiba saatnya Paulus memberikan penjelasan lanjutan yang tak kalah rumit.  Hampir sama dengan konsekuensi logis yang dipaparkannya, penjelasan Paulus pada bagian ini pun menyentuh unsur-unsur dogmatika.  Sedikitnya ada dua isu/gagasan/istilah penting yang Paulus suguhkan. Yakni, “Buah Sulung” dan gagasan  “tipologi Adam-Kristus”.  Dua isu penting ini tidak berdiri sendiri.  Ketiganya menunjang satu pokok pikiran penting lainnya, yakni soal kebangkitan. 

Tidak mudah untuk mengerti maksud Paulus melekatkan ketiga isu yang sering disampaikan berdiri sendiri itu dengan isu kebangkitan. Di sinilah letak kehebatan Paulus dalam memanfaatkan isu/gagasan.  Seperti orang tahu, bahwa ketiga isu teologis tersebut adalah isu atau pemahaman yang sudah tidak asing lagi bagi orang Yahudi, bahkan kerap menjadi bahan polemik. 

Pertama soal buah sulung.  Di sini Paulus mengungkapkan tentang sesuatu yang akrab, sesuatu yang sehari-hari berada diantara orang-orang di masa itu.  Buah sulung dalam PL bentuknya berupa berkas dari panen gandum yang matang, yang dilambaikan di hadapan Tuhan di Bait Suci, sehari setelah hari Sabat suci atau tepatnya pada Minggu Paskah, yang juga Minggu kebangkitan. Orang lebih mengenal buah sulung sebagai persembahan hasil pertama dari setiap panen kepada Allah.  Buah sulung seperti perlambang, atau “perwakilan” dari keseluruhan hasil panen yang nantinya akan dikumpulkan di lumbung.   Buah sulung adalah hasil panen terbaik; merupakan dedikasi simbolis dari seluruh tuaian bagi Allah.  Paulus juga menggunakan istilah ini dalam pasal 16:15, merujuk pada orang pertama di Akhaya. Di sini buah sulung digunakan untuk menggambarkan Kristus dengan kebangkitannya.

Isitilah buah sulung selanjutnya dikaitkan Paulus dengan konsep penting tipologi Adam-Kristus. (15:21-22).  Barkley melihat ini sebagai langkah cerdik Paulus memanfaatkan gagasan Yahudi lainnya. Berdasarkan kisah dalam Kejadian 3:1-19, melalui dosa Adam kematian masuk ke dalam dunia. Kematian merupakan konsekuensi dan hukuman langsung dari dosa. Orang-orang Yahudi percaya, bahwa semua manusia benar-benar berdosa dalam persekutuan dengan Adam. Dalam adam semua manusia terhisap dalam dosa.  Sebaliknya, dalam Kristus orang mendapat kembali kehidupan. 

Tentang kaitan dengan kontras Adam-Kristus, Donal Guthrie menyebut Kristus sebagai ’’Adam yang akhir”. Perbedaannya, kata dia sangat jelas.  Adam, manusia pertama disebut dengan ’makhluk yang hidup’ (psukhikon) dan Adam yang akhir (Kristus) sebagai ’roh pemberi hidup’ (pneumatikon). Penerima hidup dan pemberi kehidupan. Disinilah letak keunggulan Kristus.  Apa yang sebetulnya diharapkan dari Adam pertama direalisasikan oleh Adam yang akhir. Tetapi lebih dari itu, Adam yang akhir, sebagai manusia sempurna, merupakan ’pengantara dari kemanusiaan sejati’. Dalam arti seperti inilah Guthrie memahami yang Paulus maksudkan dengan Yesus sebagai ’’yang sulung” (1 Kor 15:20).

Dari dua hal ini Paulus seolah hendak berkata, bahwa pribadi yang disangsikan kebangkitannnya.  Sosok yang diragukan oleh orang Korintus itu; yang diwartakan oleh Injil; yang menampakkan diri pada banyak saksi, bahkan diantara masih hidup,  itu adalah pribadi yang super penting.  Betapa tidak. Artikel minggu lalu pun telah menyinggung hal ini. Jikalau orang tidak percaya dengan Injil yang benar, Injil yang mewartakan Kristus yang hidup, mati dan bangkit, maka bukan saja  Iman orang yang sempat percaya itu (Korintus) sia-sia, tapi juga tak berharga sama sekali (14 & 17). Dengan demikian orang Korintus akan tetap hidup dalam dosa, jika benar Kristus tidak bangkit dari maut (17).  Dengan demikian orang seperti orang Korintus adalah Manusia yang paling dan super malang (19).

Terkait kebangkitan orang mati, Paulus seperti sedang menunjukkan, bahwa Yesus adalah “teladan”/permulaan/contoh dari kebangkitan orang mati lainnya.  Kristuslah yang mengawali.  Kristus adalah yang sulung  dari orang-orang yang telah meninggal. 

Paulus menggambarkan Kristus bukan sebagai pribadi sekadar dapat melepaskan diri dari maut.  Atau oknum yang diperkenan Allah untuk bangkit.  Tidak itu saja.  Tapi Yesus adalah pribadi yang juga melepaskan orang dari maut, dari konsekuensi dosa.  Dari mati rohani, berupa keterpisahan dengan Allah.  Yesus dengan kebangkitannya tidak hanya menjadi penanda kemenangan, tapi juga penanda sebuah perubahan besar dan mendasar.  Dengan kematiannya di kayu salib, dan kemenangannya atas maut Yesus melepaskan orang dari jeratan rantai dosa yang menjijikan di pemandangan Allah.  Slawi

See also

jQuery Slider

Comments

Top