REFORMASI DALAM PENDIDIKAN

Author : Pdt. Bigman Sirait | Wed, 12 March 2014 - 15:11 | View : 942

Follow Twitter: @bigmansirait

Kehidupan terus bergulir, bergerak maju. Namun, maju belum tentu bagus. Kemajuan dalam kejahatan misalnya, berarti kemunduran moral. Karena itu pergerakan maju harus mempunyai arah yang pas. Begitu pula dalam pendidikan. Pendidikan sangat signifikan dalam pembentukan kehidupan yang bertanggungjawab. Untuk itu pendidikan harus terus berada dalam semangat reformasi. Reformasi sebagai proses pembaruan yang terus menerus. Ecclesia reformata semper reformanda, sebagai moto reformasi menjelaskan panggilan bagi gereja yang diperbarui, harus terus menerus diperbarui, sehingga selalu sama dengan semangat dan tujuan Alkitab. Dalam pendidikan, semangat diperbarui harus tetap terpatri.

Semangat yang pertama, pendidikan Kristen adalah; Misi, bukan industri. Ini penting ditengah semarak materialistis, dimana segala sesuatu diukur melulu dari uang. Pendidikan masa kini telah berubah menjadi industri yang sangat menguntungkan. Pendidikan telah menjadi komoditas yang diperjualbelikan. Kemampuan instan dikembangkan menjadi produk yang menarik. Dan celakanya, gayung bersambut, konsumen menyambarnya tanpa mau belajar efek sampingnya. Pendidikan yang seharusnya disadari bukan melulu ilmu, tapi juga mental, moral, dan spiritual, hilang begitu saja. Memang pendidikan bermutu menuntut biaya tinggi, itu fakta yang tak terbantah. Namun bukan berarti itu industri. Itu sebab jiwa misi yang militan dibutuhkan, karena hanya dengan jiwa misi pendidikan itu hidup dan tidak kehilangan roh nya.

Semangat yang kedua, pendidikan Kristen adalah; Pengabdian, bukan keuangan. Realita masa kini telah membuat manusia serba berhitung, bahkan kasih sayang dan pengabdian pun dalam perhitungan. Tak ada yang tanpa biaya. Hal ini telah merasuk pendiri sekolah, maupun pengajar. Pendidikan dengan segera ternoda oleh cinta uang, bukan lagi cinta anak didik. Anak didik berubah menjadi komoditi, sementara pengabdian menjadi barang langka. Transaksi jual beli, telah mengakibatkan rendahnya, bahkan menghilangnya rasa hormat anak terhadap guru. Jiwa pengabdian harus dibangkitkan dan ditumbuhkembangkan, agar guru kembali dihormati dan menjadi teladan. Disini perlu kerjasama yang terbuka antar badan pendidikan dengan guru. Terlebih lagi pemerintah, agar tak terlalu banyak berwacana, melainkan turun kebawah dengan karya nyata.

Semangat yang ketiga, pendidikan Kristen adalah; Kualiti, bukan kuantiti. Bagaimanapun juga ada keterbatasan guru dalam mengajar anak, karena itu tiap kelas dibuat sebanding antara kemampuan guru dengan jumlah siswa. Namun kebanyakan sekolah akan menampung lebih banyak siswa dan mengabaikan kehilangan kualitas sebagai konsekwensinya. Atau cara yang lebih halus, terus meluluskan siswa, sekalipun tak memenuhi persyaratan pendidikan, agar bisa menerima siswa baru dan itu berarti uang sumbangan. Disini kuantiti kelulusan sangat tinggi, tapi kualiti tak jelas. Namun, siapa yang peduli. Bagi sekolah itu memang keuntungan, sementara bagi siswa menyandang predikat lulus, atau bahkan sarjana, itu menyenangkan. Ah, benar-benar luar biasa penyelewengan yang ada. Inilah korupsi dibawah, meniru yang diatas.

Nah, jelas sekali pendidikan membutuhkan reformasi, terus menerus diperbarui untuk mencapai tujuan mulianya. Meletakkan dasar kebenaran sebagai pondasi keilmuan. Reformasi pendidikan Kristen harus melahirkan anak didik yang berilmu tinggi, beriman teguh, berkarakter terpuji, dan berwawasan luas. Anak-anak unggulan untuk mengarahkan jaman sejalan dengan kehendak Tuhan. Ini adalah sebuah pertarungan yang hanya dimungkinkan jika reformasi tak padam, dan semua kita wajib menjaga, dan terlibat didalamnya. Selamat mereformasi diri dalam pendidikan yang seutuhnya, dan menjadi saksi Tuhan dikegelapan pendidikan dunia.

See also

jQuery Slider

Comments

Top